Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan militer terhadap Iran.
Langkah tersebut diambil sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal komersial yang melintas di jalur pelayaran strategis tersebut.
Situasi terbaru ini memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan pelayaran internasional sekaligus pasokan minyak dunia.
Pemerintah Amerika Serikat menyebut serangan terhadap kapal-kapal komersial itu sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati.
Bersamaan dengan operasi militer tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump juga mencabut pengecualian sanksi yang selama ini memungkinkan penjualan minyak Iran ke pasar internasional.
Perkembangan di Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena kawasan ini merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting.
Gangguan sekecil apa pun berpotensi memengaruhi harga minyak global serta rantai pasok energi berbagai negara.
Kondisi Selat Hormuz Semakin Berbahaya
Pakar keamanan maritim Ian Robby menjelaskan bahwa situasi dalam 24 jam terakhir menjadi salah satu yang paling berbahaya selama beberapa pekan terakhir.
Tiga kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan, dengan dua di antaranya telah dikonfirmasi.
Salah satu kapal yang terdampak adalah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) asal Qatar yang terbakar setelah terkena serangan.
Hingga wawancara berlangsung, kapal tersebut masih berpotensi mengalami ledakan sehingga meningkatkan risiko keselamatan di kawasan tersebut.
Baca Juga: Eropa Membara! WNI Ungkap Situasi di Tengah Gelombang Panas Ekstrem
Selain itu, sebuah kapal tanker minyak berukuran sangat besar milik Arab Saudi juga dipastikan menjadi korban serangan.
Kedua kapal yang berasal dari negara-negara Teluk itu memperlihatkan bahwa ancaman kini tidak hanya menyasar kepentingan Amerika Serikat, tetapi juga negara-negara tetangga Iran.
Iran Belum Mengaku Bertanggung Jawab
Meski banyak pihak menuding Iran berada di balik serangan tersebut, pemerintah Teheran belum secara resmi mengakui bertanggung jawab.
Menurut Ian Robby, indikasi memang mengarah pada keterlibatan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Iran sempat menyatakan telah memberikan peringatan kepada kapal LNG Qatar sebelum insiden terjadi, tetapi tidak pernah menyatakan secara terbuka sebagai pelaku serangan.
Sikap tersebut dinilai sebagai upaya Iran menjaga posisi diplomatiknya agar tidak terlihat menyerang negara-negara tetangga di kawasan Teluk Persia secara langsung.
Lalu Lintas Kapal Masih Jauh dari Kondisi Normal
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sebenarnya sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah adanya kerangka kesepakatan gencatan senjata.
Sebelum konflik meningkat, sekitar 130 hingga 160 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun setelah konflik pecah, jumlah tersebut merosot drastis hingga hanya beberapa kapal per hari.
Dalam beberapa hari terakhir memang terjadi peningkatan aktivitas menjadi sekitar 30 hingga 40 kapal setiap hari.
Selama akhir pekan bahkan tercatat sekitar 78 kapal melintas dalam dua arah.
Meski demikian, angka tersebut masih jauh di bawah kondisi normal sebelum perang.
Kondisi ini menunjukkan perusahaan pelayaran masih sangat berhati-hati dalam menentukan rute pelayaran mereka.
Perusahaan Pelayaran Mulai Cari Jalur Alternatif
Meningkatnya ancaman keamanan membuat perusahaan pelayaran, pemilik kapal, perusahaan asuransi, hingga pemerintah berbagai negara mulai mengevaluasi kembali jalur distribusi mereka.
Sebelumnya terdapat beberapa jalur yang digunakan kapal untuk melintasi Selat Hormuz, baik melalui rute dekat pantai Iran maupun jalur yang mendapat pendampingan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Namun akibat eskalasi terbaru, hampir seluruh jalur tersebut diperkirakan untuk sementara waktu tidak dapat digunakan secara aman.
Ian Robby menyebut banyak perusahaan kini mulai mempertimbangkan kembali penggunaan Laut Merah sebagai jalur alternatif meskipun kawasan tersebut juga memiliki ancaman berupa aksi perompakan dan serangan kelompok Houthi.
Menurutnya, sejumlah operator kapal bahkan mulai menilai risiko di Laut Merah kini lebih rendah dibandingkan harus melintasi Selat Hormuz yang sedang menjadi pusat konflik.
Ancaman Terhadap Pasokan Minyak Dunia
Situasi terbaru di Selat Hormuz kembali memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar energi global.
Jalur laut ini selama bertahun-tahun menjadi pintu utama distribusi minyak mentah dan gas alam dari kawasan Teluk menuju berbagai negara di dunia.
Jika konflik terus meningkat dan pelayaran semakin terganggu, distribusi minyak berpotensi terhambat sehingga dapat memicu kenaikan harga energi di pasar internasional.
Para pelaku industri kini menunggu perkembangan berikutnya sambil terus memantau kondisi keamanan di Selat Hormuz.
Apabila eskalasi militer terus berlanjut, bukan hanya kawasan Timur Tengah yang terdampak, tetapi juga perdagangan global serta pasokan energi dunia.
Editor : Jonathan Alinskie Winata