China uji coba rudal balistik kembali menjadi perhatian dunia setelah Beijing meluncurkan rudal balistik antarbenua berbasis kapal selam (Submarine-Launched Ballistic Missile/SLBM) dari Laut China Selatan menuju Samudra Pasifik.
Uji coba yang berlangsung pada 6 Juli 2026 itu dinilai bukan sekadar latihan militer rutin, tetapi juga mengirim pesan strategis mengenai peningkatan kemampuan nuklir Negeri Tirai Bambu.
Pemerintah China menyebut peluncuran tersebut sebagai bagian dari program latihan tahunan militer.
Beijing juga mengklaim telah memberikan pemberitahuan kepada sejumlah negara terkait sebelum rudal diluncurkan.
Namun, mekanisme pemberitahuan itu kembali menuai kritik karena dianggap tidak mengikuti standar internasional.
Uji coba rudal balistik ini diperkirakan menggunakan rudal JL-2 atau JL-3 yang diluncurkan dari kapal selam di Laut China Selatan.
Rudal tersebut menempuh lintasan sekitar 7.300 kilometer sebelum akhirnya jatuh di kawasan Pasifik Selatan.
Jalur penerbangannya diduga melintasi wilayah udara Filipina sehingga memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya risiko salah perhitungan militer di kawasan Indo-Pasifik.
China Diduga Menguji Kemampuan Rudal JL-3
Sejumlah analis pertahanan meyakini rudal yang digunakan kemungkinan besar merupakan JL-3, generasi terbaru rudal balistik berbasis kapal selam milik China.
Sistem persenjataan ini pertama kali diperkenalkan kepada publik dalam parade militer China pada September 2025.
Pengujian jarak jauh dinilai penting untuk mengukur performa, akurasi, serta keandalan sistem senjata tersebut sebelum dioperasikan secara penuh.
Apabila benar menggunakan JL-3, maka hasil uji coba akan memberikan data penting bagi Beijing untuk memperkuat kemampuan serangan nuklir berbasis laut.
Baca Juga: Tragedi Pilu di Thailand: Rombongan Biksu Ditabrak Bocah 11 Tahun, 8 Orang Meninggal Dunia!
Menariknya, informasi navigasi menunjukkan China sempat menyiapkan dua opsi lokasi peluncuran, yakni dari Laut Bohai dan Laut China Selatan.
Namun, pada akhirnya peluncuran dilakukan dari Laut China Selatan tanpa penjelasan resmi mengenai alasan perubahan tersebut.
Bertepatan dengan Latihan Militer China-Rusia
Peluncuran rudal berlangsung bersamaan dengan dimulainya latihan angkatan laut Joint Sea 2026 yang melibatkan armada China dan Rusia di Qingdao.
Meski waktunya berdekatan, hingga kini tidak ada bukti bahwa Rusia terlibat langsung dalam uji coba rudal tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan strategis Beijing dan Moskow memang semakin erat.
Kedua negara diketahui rutin menggelar patroli udara bersama maupun latihan militer sebagai bentuk koordinasi menghadapi dinamika keamanan regional.
Meski demikian, China tetap menegaskan bahwa peluncuran rudal kali ini merupakan aktivitas militernya sendiri dan tidak berkaitan dengan latihan gabungan bersama Rusia.
Dunia Soroti Transparansi China
Perhatian internasional bukan hanya tertuju pada kemampuan rudal China, melainkan juga pada prosedur pemberitahuan sebelum peluncuran dilakukan.
China diketahui belum bergabung dalam Hague Code of Conduct against Ballistic Missile Proliferation (HCOC), yakni pedoman internasional yang mengatur pemberitahuan peluncuran rudal balistik.
Dalam aturan tersebut, negara peserta diwajibkan memberikan pemberitahuan minimal 24 jam sebelum peluncuran kepada seluruh anggota.
Sebaliknya, China hanya memberikan pemberitahuan beberapa jam sebelumnya kepada Amerika Serikat dan Jepang, serta sekitar 23 jam kepada Australia dan kemungkinan beberapa negara lain yang berada di sekitar lokasi jatuhnya rudal.
Cara tersebut dinilai tidak memenuhi standar internasional sehingga memicu kritik dari sejumlah negara.
Risiko Salah Perhitungan Semakin Besar
Para pakar keamanan internasional menilai peluncuran rudal balistik di perairan internasional tanpa prosedur transparan dapat meningkatkan risiko kesalahpahaman antarnegara.
Lintasan rudal yang menyerupai serangan nyata berpotensi memicu respons militer apabila negara lain gagal membedakan antara latihan dan serangan sesungguhnya. Risiko tersebut semakin besar karena rudal melintasi kawasan yang menjadi jalur strategis di Indo-Pasifik.
Selain itu, peningkatan kekuatan nuklir China juga menjadi perhatian.
Dalam enam tahun terakhir, jumlah persenjataan nuklir negara tersebut disebut meningkat dari sekitar 200 menjadi lebih dari 600 hulu ledak.
Beijing juga terus membangun silo rudal antarbenua dan memperluas inventaris sistem peluncurnya.
Para analis menilai transparansi menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas global.
Baca Juga: Super Typhoon Bavi Hantam Guam, NASA Ungkap Penyebab Badai Kategori 5 Makin Dahsyat
Tanpa mekanisme pemberitahuan yang jelas dan mengikuti standar internasional, uji coba rudal seperti ini dikhawatirkan dapat meningkatkan ketegangan sekaligus memicu perlombaan senjata nuklir di masa depan.
Editor : Jonathan Alinskie Winata