Genosida Sudan kembali menjadi sorotan dunia setelah penyelidik independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap bukti baru mengenai dugaan kekejaman yang dilakukan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Laporan terbaru menyebut pola serangan yang sebelumnya terjadi di El Fasher kini mulai terlihat di Kota El Obeid, memicu kekhawatiran tragedi serupa akan kembali terulang.
Dalam laporan yang dirilis Rabu (8/7), tim pencari fakta PBB menyatakan berbagai tindakan RSF terhadap warga sipil di El Fasher pada Oktober lalu memiliki ciri-ciri yang mengarah pada genosida Sudan.
Temuan tersebut memperkuat laporan sebelumnya yang diterbitkan pada Februari dengan tambahan bukti mengenai pembunuhan massal, penculikan, pemerkosaan berkelompok, penghilangan paksa, hingga penahanan sewenang-wenang.
Ketua Misi Pencari Fakta PBB untuk Sudan, Mohamed Chande Othman, menegaskan bahwa pola yang ditemukan di El Fasher merupakan peringatan serius bagi masyarakat internasional.
Menurutnya, pengepungan kota, serangan terhadap infrastruktur sipil, pembatasan akses bantuan kemanusiaan, serta pelanggaran berat terhadap warga sipil menjadi sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan.
PBB Minta Dunia Bertindak Lebih Cepat
Othman menilai komunitas internasional harus segera mengambil langkah nyata sebelum krisis kemanusiaan semakin memburuk.
Ia mengingatkan bahwa dunia pernah gagal merespons berbagai peringatan sebelum El Fasher jatuh ke tangan RSF.
Karena itu, situasi di El Obeid tidak boleh kembali diabaikan.
Konflik yang telah berlangsung selama dua tahun antara Sudanese Armed Forces (SAF) dan RSF telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar.
Sedikitnya 59 ribu orang dilaporkan tewas, sementara sekitar 14 juta lainnya terpaksa mengungsi akibat perang yang terus berkecamuk.
Baca Juga: Super Typhoon Bavi Hantam Guam, NASA Ungkap Penyebab Badai Kategori 5 Makin Dahsyat
PBB bahkan menyebut Sudan kini menghadapi krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Sebanyak 33,7 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan, tetapi akses menuju wilayah terdampak masih sangat terbatas akibat situasi keamanan.
El Obeid Dinilai Mulai Mengalami Pola yang Sama
Penyelidik PBB menemukan indikasi bahwa RSF mulai menerapkan strategi yang identik dengan operasi mereka di El Fasher.
Pasukan RSF disebut mengepung El Obeid, menyerang infrastruktur penting seperti pembangkit listrik, membatasi akses layanan dasar, serta menghambat distribusi bantuan kemanusiaan kepada masyarakat.
Situasi tersebut mendorong Dewan HAM PBB mengadopsi resolusi pada 6 Juli untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hukum hak asasi manusia internasional maupun hukum humaniter yang terjadi di El Obeid.
Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk sebelumnya juga memperingatkan bahwa ibu kota Negara Bagian Kordofan Utara tersebut telah berada dalam kondisi menyerupai pengepungan selama sekitar 18 bulan.
Serangan terhadap fasilitas listrik menyebabkan pemadaman luas, mengganggu pasokan air bersih, dan menghambat pelayanan rumah sakit yang menangani korban konflik.
Dalam tiga pekan sepanjang Juni, PBB memverifikasi sedikitnya 15 serangan drone di El Obeid dan sekitarnya yang menewaskan sedikitnya 45 warga sipil.
Tragedi El Fasher Jadi Pelajaran Dunia
Menurut hasil investigasi, ketika berhasil menguasai El Fasher pada Oktober lalu setelah pengepungan selama 18 bulan, RSF melakukan eksekusi dari rumah ke rumah, penargetan berdasarkan identitas, pengeboman menggunakan drone, hingga penembakan secara membabi buta.
Dalam waktu hanya tiga hari, lebih dari 6.000 orang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.
Sebelum kota itu jatuh, RSF juga diduga secara sistematis memutus akses masyarakat terhadap makanan, air bersih, obat-obatan, serta bantuan kemanusiaan selama berbulan-bulan.
Tim pencari fakta menilai berbagai peringatan yang sebelumnya telah disampaikan PBB tidak memperoleh respons yang memadai dari masyarakat internasional.
Akibatnya, ribuan warga sipil gagal memperoleh perlindungan tepat waktu.
Kini, penyelidik berharap pengalaman pahit di El Fasher menjadi pelajaran penting agar tragedi serupa tidak kembali terjadi di El Obeid.
Anggota misi pencari fakta Joy Ngozi Ezeilo menegaskan bahwa temuan di El Fasher memperlihatkan pentingnya langkah perlindungan segera sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Sementara itu, anggota tim lainnya, Mona Rishmawi, menilai dunia masih memiliki kesempatan untuk mencegah kejahatan kemanusiaan berikutnya.
Baca Juga: China Uji Coba Rudal JL-3 dari Laut China Selatan, Dunia Soroti Risiko Krisis Nuklir
Ia menegaskan bahwa El Obeid tidak boleh menjadi lokasi tragedi baru apabila tindakan pencegahan segera dilakukan oleh komunitas internasional.
Editor : Jonathan Alinskie Winata