Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Mengenal Tradisi Kupatan di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek

Amalia Rizky Indah Permadani • Jumat, 4 April 2025 | 16:16 WIB

Tradisi Kupatan Durenan, meriah penuh kebersamaan. Gunungan ketupat simbol syukur dan keberkahan.
Tradisi Kupatan Durenan, meriah penuh kebersamaan. Gunungan ketupat simbol syukur dan keberkahan.

Warisan Budaya yang Sarat Makna

Tradisi Kupatan merupakan salah satu budaya turun-temurun yang masih lestari di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Kupatan, yang biasanya dilaksanakan seminggu setelah Hari Raya Idulfitri atau dikenal juga dengan sebutan Lebaran Ketupat, menjadi momen yang dinanti-nanti oleh masyarakat setempat. Tradisi ini tidak hanya sarat dengan makna religi, tetapi juga menjadi wadah mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Baca Juga: Tren Baru! Bagi-Bagi THR Sambil Joget, Ayu Ting Ting Jadi Pelopor

Asal-Usul dan Makna Filosofis

Kata "kupat" berasal dari bahasa Jawa, yang merupakan kependekan dari "ngaku lepat" (mengakui kesalahan) dan "laku papat" (empat tindakan spiritual: puasa Ramadan, zakat fitrah, salat Id, dan puasa Syawal).

Dalam budaya Jawa, ketupat juga menjadi simbol kerendahan hati dan permohonan maaf atas kesalahan yang telah lalu.

Di Durenan, kupatan menjadi simbol penutup rangkaian ibadah Ramadan. Masyarakat percaya bahwa momen ini adalah saat yang tepat untuk saling memaafkan, memperkuat ukhuwah islamiyah, dan bersyukur atas keberkahan bulan suci.

Baca Juga: Viral, Ayah ini Bagi-Bagi THR Berupa Sertifikat Tanah, Bukan Uang

Tradisi Kupatan di Durenan

Perayaan kupatan di Kecamatan Durenan biasanya ditandai dengan kegiatan kenduri atau selamatan di berbagai dusun.

Masyarakat membawa ketupat, lepet (makanan dari beras ketan dan kelapa parut yang dibungkus janur), dan aneka lauk pauk ke masjid atau balai dusun.

Makanan tersebut kemudian disantap bersama sebagai simbol kebersamaan dan keberkahan.

Beberapa desa di Durenan juga mengadakan arak-arakan ketupat, kesenian lokal seperti reog mini dan jaranan, serta perlombaan tradisional anak-anak.

Baca Juga: Korlantas Polri Siapkan Rekayasa Lalu Lintas dan Penebalan Personel untuk Arus Balik

Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi warga perantauan yang pulang kampung untuk ikut merayakan.

Pelestarian Nilai-Nilai Budaya

Meski zaman terus berubah, masyarakat Durenan masih menjaga tradisi ini dengan semangat gotong royong.

Peran tokoh masyarakat dan pemuda desa sangat penting dalam melestarikan warisan budaya ini agar tidak punah ditelan zaman.

Tradisi kupatan tidak hanya dirayakan secara seremonial, tetapi juga menjadi refleksi nilai religius, kebersamaan, dan kearifan lokal yang terus hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Kupatan di Kecamatan Durenan bukan sekadar tradisi makan ketupat bersama, melainkan sebuah wujud syukur, pengakuan atas kesalahan, dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Di tengah kehidupan modern, semangat kebersamaan dalam tradisi ini adalah harta budaya yang patut dijaga dan diwariskan ke generasi berikutnya.

Photo
Photo
LITERAT: Anggota Sanggar Andalas ketika melakukan kajian dan baca puisi bersama di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa, pada Jumat malam, 18 Oktober 2024. (MOH. LATIF/JPRM)
LITERAT: Anggota Sanggar Andalas ketika melakukan kajian dan baca puisi bersama di Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa, pada Jumat malam, 18 Oktober 2024. (MOH. LATIF/JPRM)
SEMANGAT: Anggota Sanggar Andalas menggelar konser musik jimbe di area Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, Agustus 2023. (SANGGAR ANDALAS UNTUK JPRM)
SEMANGAT: Anggota Sanggar Andalas menggelar konser musik jimbe di area Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, Agustus 2023. (SANGGAR ANDALAS UNTUK JPRM)
Editor : Amalia Rizky Indah Permadani
#Warisan Budaya #kupatan durenan #Menak sopal #trenggalek #kupatan