Di tengah gegap gempita budaya populer dan keragaman seni pertunjukan dunia, terkadang sebuah tarian yang tampak biasa saja ternyata menyimpan akar sejarah yang panjang dan mengejutkan. Salah satunya adalah tarian THR—yang selama ini mungkin kita anggap sebagai tarian kontemporer biasa atau bahkan sekadar bagian dari hiburan semata. Namun, siapa sangka? Tarian THR ternyata berasal dari budaya Yahudi!
Apa Itu Tarian THR?
Nama “THR” sebenarnya bukan merupakan istilah yang umum dikenal dalam dunia tari secara luas. Namun, belakangan ini muncul diskusi di berbagai platform bahwa tarian yang disebut sebagai “THR” memiliki kesamaan luar biasa dengan tarian tradisional Yahudi, terutama tarian Hora, yang populer di kalangan komunitas Yahudi di Eropa Timur dan Israel.
Tarian ini biasanya dilakukan secara beramai-ramai dalam formasi lingkaran, tangan bergandengan, dan kaki bergerak ritmis ke kanan dan kiri. Musiknya penuh semangat dan mengandung nada khas Timur Tengah dan Eropa Timur.
Kesamaan Mencolok dengan Tarian Yahudi
Jika kita bandingkan tarian THR dengan Hora, kemiripannya sangat mencolok:
Gerakan melingkar: Tarian dilakukan dalam lingkaran, simbol persatuan dan kebersamaan.
Irama cepat dan ceria: Lagu-lagu pengiring memiliki tempo cepat dan semangat penuh kegembiraan, sangat mirip dengan lagu-lagu tradisional Yahudi seperti Hava Nagila.
Ekspresi kolektif: Tarian ini mengajak semua orang bergabung tanpa memandang latar belakang, sesuai dengan nilai-nilai inklusif dalam tradisi perayaan Yahudi.
Latar Sejarah Tarian Yahudi
Dalam budaya Yahudi, tarian bukan sekadar hiburan. Ia adalah bagian dari ekspresi spiritual dan sosial. Dalam banyak perayaan, seperti pernikahan Yahudi, tarian menjadi bagian penting dari upacara, mengekspresikan sukacita dan rasa syukur kepada Tuhan. Bahkan dalam teks-teks suci Yahudi, menari disebutkan sebagai bentuk ibadah dan rasa syukur yang khusyuk.
Mengapa Baru Diketahui Sekarang?
Salah satu kemungkinan mengapa tarian THR tidak langsung dikenali sebagai tarian Yahudi adalah karena asimilasi budaya. Dalam era globalisasi, banyak bentuk seni berpindah lintas negara dan dilabeli ulang oleh budaya baru. Nama “THR” sendiri bisa jadi hanyalah label kontemporer, atau singkatan yang tidak lagi mencerminkan akar sejarahnya.
Selain itu, kurangnya dokumentasi atau pengetahuan masyarakat terhadap sejarah tarian tradisional menyebabkan identitas asli tarian ini terlupakan atau tersamar oleh tren modern.
Mengetahui bahwa tarian THR ternyata merupakan tarian Yahudi bukan hanya menambah wawasan kita soal budaya, tapi juga mengajak kita untuk lebih menghargai sejarah dan nilai-nilai dari setiap gerakan seni yang kita nikmati.
Tarian bukan hanya soal irama dan langkah, tapi juga soal identitas, sejarah, dan nilai kemanusiaan yang diwariskan lintas generasi dan budaya. Siapa tahu, tarian yang selama ini kita anggap biasa saja, ternyata menyimpan makna mendalam dari peradaban kuno.
TERARSIP: Abdul Mufti menunjukkan silsilah Kerajaan Madegan di rumahnya di Kelurahan Polagan, Sampang, Jumat (28/3). (UBAIDILLAHIR RA’IE/JPRM) Editor : Amalia Rizky Indah Permadani