Trenggaleknjenggelek – Kepunahan katak dan spesies amfibi lainnya bukan sekadar kehilangan satu bagian dari keanekaragaman hayati. Para pakar mengingatkan, hilangnya amfibi di muka bumi membawa dampak nyata membuat ancaman kesehatan manusia, ketahanan pangan, hingga memperburuk krisis iklim.
Direktur Sekretariat Kewenangan Ilmiah Keanekaragaman Hayati (SKIKH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Amir Hamidy, menyatakan penurunan populasi amfibi tak boleh dibiarkan.
"Amfibi membantu mengendalikan populasi serangga. Jika mereka punah, serangga akan berkembang bebas, berdampak pada meningkatnya penyakit dan kegagalan panen," tegasnya, dikutip dari laman resmi BRIN.
Katak, salamander, dan sesama hewan berdarah dingin itu berperan menjaga keseimbangan ekosistem. Mereka memakan serangga pengganggu dan menjaga kesehatan lingkungan. Kepunahan amfibi berarti rantai makanan terganggu, populasi hama pertanian meningkat, dan risiko penyebaran penyakit yang dibawa serangga, seperti malaria dan demam berdarah, melonjak.
Lebih jauh, Amir memaparkan, perlindungan dan restorasi populasi amfibi menjadi bagian penting dalam menghadapi krisis iklim. "Amfibi sensitif terhadap perubahan lingkungan. Kehadiran mereka menandakan ekosistem yang sehat," ujarnya.
Namun, ancaman terhadap kehidupan amfibi terus meningkat. Dalam penelitian yang dirilis di jurnal Nature Desember 2023 lalu, Amir dan tim mencatat penyebab utama penurunan populasi amfibi adalah kerusakan habitat akibat aktivitas pertanian (77 persen spesies terdampak), penebangan kayu (53 persen), dan pembangunan infrastruktur (40 persen). Perubahan iklim dan penyakit juga berkontribusi signifikan terhadap penurunan ini.
Data menunjukkan, sejak 1980 hingga 2022, tercatat 37 spesies amfibi telah dinyatakan punah. Contoh konkret seperti katak Atelopus chiriquiensis dan Taudactylus acutirostris yang menghilang akibat penyakit, serta Craugastor myllomyllon dan Pseudoeurycea exspectata yang punah karena ekspansi pertanian.
Bahkan, laporan terbaru dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan bahwa status amfibi di seluruh dunia memburuk, khususnya pada kelompok salamander.
Amir mengingatkan pentingnya tindakan konservasi berbasis data dan prioritas perlindungan habitat. Upaya seperti konservasi ex situ – yakni perlindungan spesies di luar habitat alaminya – serta pengembangan manajemen penyakit amfibi menjadi kunci mencegah bencana ekologi berikutnya.
"Kemauan politik dan peningkatan investasi harus ditingkatkan. Tanpa langkah konkret, kita menghadapi ancaman nyata terhadap keanekaragaman hayati global," tandas Amir.
Dalam konteks lebih luas, kehilangan amfibi berarti mempercepat krisis lingkungan yang sudah terjadi. Maka, menyelamatkan katak dan kawan-kawannya bukan hanya tugas pecinta satwa, melainkan menjadi tanggung jawab semua pihak demi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.(jaz)