Trenggaleknjenggelek - Jumat Agung memiliki akar sejarah yang panjang dan kaya makna. Sejak abad ke-4, gereja mula-mula mulai memperingati hari kematian Yesus Kristus sebagai bagian dari Pekan Suci.
Penyaliban Yesus di Golgota tercatat dalam keempat Injil, dan dianggap sebagai puncak misi penebusan-Nya di dunia.
Istilah “Jumat Agung” sendiri mengandung simbolisme yang mendalam.
Dalam bahasa Inggris disebut Good Friday, bukan karena peristiwanya menyenangkan, melainkan karena hasil dari pengorbanan itu dianggap “baik” dan “agung” — yaitu keselamatan bagi manusia.
Dalam bahasa Indonesia, kata “Agung” mencerminkan keluhuran makna yang terkandung di dalamnya.
Simbol utama Jumat Agung adalah salib. Salib bukan hanya lambang kematian, tetapi juga menjadi tanda kemenangan atas dosa dan kematian.
Selain itu, kain hitam yang menutupi altar, lilin yang dipadamkan, serta keheningan dalam ibadah menjadi simbol kesedihan dan duka mendalam.
Namun, Jumat Agung bukan akhir dari cerita. Ia adalah pengantar menuju Minggu Paskah — hari kebangkitan dan harapan.
Dalam tradisi Kristen, ini mengajarkan bahwa dari penderitaan bisa lahir sukacita, dari kematian muncul kehidupan baru. Pesan ini menjadikan Jumat Agung sebagai hari yang terus relevan sepanjang masa, tak lekang oleh zaman. (mal)