Trenggaleknjenggelek – Dalam dinamika baru Gereja Katolik dunia, nama Kardinal Ignasius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, mencuat sebagai salah satu figur dari Asia yang disebut-sebut berpotensi menjadi bagian penting dalam konklaf mendatang untuk memilih paus baru.
Meski peluang seorang kardinal dari Indonesia—negara dengan mayoritas Muslim—untuk terpilih sebagai paus dinilai kecil secara tradisional, kehadiran Ignasius Suharyo di lingkaran para kardinal memperlihatkan wajah baru Gereja yang semakin mengglobal.
Paus Fransiskus sendiri dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perhatian besar kepada kawasan Asia dan belahan dunia Selatan. Pada Desember lalu, Paus mengangkat tujuh kardinal baru di bawah usia 60 tahun, termasuk Mykola Bychok (44 tahun) dari Melbourne, menunjukkan preferensi terhadap pemimpin gereja yang muda dan berasal dari kawasan yang selama ini kurang terwakili.
Di tengah realitas itu, Ignasius Suharyo, meski telah berusia 74 tahun, tetap menjadi sosok penting. Ia dikenal luas bukan hanya sebagai pemimpin Gereja di Indonesia, tetapi juga sebagai tokoh yang membawa suara Asia di berbagai forum internasional Gereja. Ia pernah terpilih sebagai Presiden Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus pada 2019.
Sebagai pemimpin di negara dengan jumlah umat Katolik sekitar 8,6 juta orang—hanya 3 persen dari total populasi—Suharyo berhasil membangun jembatan dialog lintas agama yang menjadi kebutuhan mendesak Gereja Katolik di era modern. Kemampuannya merangkul komunitas plural, serta ketegasannya dalam berbagai isu sosial, menjadi kekuatan tersendiri.
Peluang seorang kardinal dari Indonesia memang tidak besar jika dibandingkan dengan mereka yang berasal dari Eropa atau Amerika Latin, yang memiliki tradisi kuat dalam kepausan. Namun, keunggulan Indonesia sebagai salah satu penyumbang terbesar imam dan biarawati Katolik saat ini menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.
Menurut statistik Vatikan hingga akhir 2022, Indonesia mencatat 2.466 imam diosesan, meningkat dari 2.203 pada 2017. Ditambah dengan imam dari ordo religius seperti Jesuit dan Fransiskan, jumlahnya mencapai 3.437 orang. Di tengah kekurangan imam di banyak negara Eropa dan Amerika, pertumbuhan ini menjadi sinyal penting tentang vitalitas Gereja di Indonesia.
Seminari-seminari seperti Seminari Tinggi St. Petrus dan Seminari Ritapiret bahkan kewalahan menerima pelamar. Lulusan-lulusan dari seminari ini tak hanya melayani di dalam negeri, tetapi juga diutus ke berbagai belahan dunia, membantu mengisi paroki-paroki kosong di negara-negara yang kekurangan imam.
Dalam kunjungannya ke Indonesia tahun 1989, Paus Yohanes Paulus II pernah memuji kesetiaan umat Katolik Flores dan menyebut meningkatnya jumlah imam dan biarawati sebagai tanda harapan. Kini, lebih dari tiga dekade kemudian, harapan itu justru makin kuat.
Namun, tantangan tetap ada. Inosentius Mansur, staf Seminari Tinggi St. Petrus, mengingatkan bahwa tantangan utama bukan lagi soal kuantitas, melainkan "hilangnya komitmen moral" di tengah skandal yang mengguncang Gereja global.
Bagi Gereja Katolik dunia, memilih paus baru berarti juga memilih arah masa depan. Jika konklaf mendatang ingin menunjukkan keberanian untuk mengangkat suara Gereja dari dunia mayoritas non-Kristen, nama Ignasius Suharyo layak dipertimbangkan. Ia mewakili nilai-nilai dialog, kesetiaan, dan pertumbuhan di tengah tantangan global.
Meski demikian, tradisi tetap menjadi faktor kuat. Sejarah menunjukkan bahwa sebagian besar paus berasal dari Eropa, terutama Italia. Seorang paus dari Asia, terlebih dari Indonesia, akan menjadi preseden besar—sebuah langkah berani menuju Gereja yang benar-benar universal.
Di tengah spekulasi, satu hal pasti: keberadaan Kardinal Ignasius Suharyo di antara para pangeran Gereja menandai bahwa suara Asia, dan suara Indonesia, kini terdengar lebih kuat di Vatikan. Apakah itu cukup untuk mendorongnya ke Tahta Suci? Waktu dan Roh Kuduslah yang akan menjawab.(jaz)
Editor : Zaki Jazai