Trenggaleknjenggelek- Indonesia, sebagai negara yang majemuk, dihuni oleh beragam suku, bahasa, adat istiadat, dan agama. Di tengah perbedaan itu, bangsa ini tetap diselimuti keharmonisan. Keharmonisan dalam keragaman itulah yang menjadi kekuatan Indonesia.
Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia, mengatur hubungan yang damai dengan sesama, termasuk dengan mereka yang berbeda keyakinan. Lalu, bagaimana Islam memandang sikap seorang Muslim saat ada tetangga atau kerabat non-Muslim yang meninggal dunia? Bolehkah melayat dan turut mengantarkan jenazah hingga ke kuburnya?
Ini seperti yang terlihat cara berdoa Presiden ke -7 RI Jokowi di depan jenazah Paus Fransiskus sebelum pemakamannya.
Dalam Fatwa Tarjih, ditegaskan bahwa seorang Muslim diperbolehkan untuk melayat jenazah non-Muslim. Tidak ada larangan dalam Islam untuk datang bertakziah, menyampaikan belasungkawa, atau mengantarkan jenazah sampai ke pemakaman.
Namun, yang menjadi catatan penting adalah larangan untuk menshalatkan dan mendoakan jenazah non-Muslim di kubur. Larangan ini bersumber dari Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 84 yang berbunyi:
"Dan janganlah kamu (Muhammad) menshalatkan seorang pun dari mereka (orang munafik) yang mati selama-lamanya, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya."
Dasar kebolehan melayat ini juga diperkuat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i. Diceritakan bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata:
"Aku mengatakan kepada Nabi, bahwa pamanmu yang sudah tua dan sesat itu meninggal dunia."
Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda:
"Pergilah engkau menguburkan bapakmu dan jangan melakukan apa-apa (yang sifatnya ibadah) sampai engkau datang lagi kepadaku."
Ali pun menguburkan pamannya, lalu kembali kepada Rasulullah SAW, yang kemudian memerintahkannya untuk mandi dan mendoakan Ali sendiri, bukan untuk jenazah pamannya.
Baca Juga: Pemakaman Selesai, Vatikan Buka Makam Paus Fransiskus untuk Peziarah Mulai Minggu
Dengan demikian, dalam konteks kejadian seperti kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Vatikan dan berdoa di hadapan Paus Fransiskus, perlu dipahami bahwa doa yang dipanjatkan bukanlah untuk menshalatkan atau mendoakan Paus secara keagamaan, melainkan bentuk penghormatan dan ungkapan persaudaraan antarumat manusia.
Islam mengajarkan umatnya untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan perdamaian, termasuk dalam situasi duka.(jaz)