Dari Sedayu ke Vatikan, Perjalanan Panjang Kardinal Ignatius Suharyo Menuju Konklaf
Zaki Jazai• Rabu, 30 April 2025 | 16:26 WIB
Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo yang akan ikut konklaf pemilihan paus
Trenggaleknjenggelek — Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, bersiap menapaki babak baru dalam perjalanan panjang hidupnya sebagai pemimpin Gereja Katolik. Ia dijadwalkan terbang dan tiba di Vatikan pada 4 Mei 2025 untuk mengikuti konklaf pemilihan Paus, menyusul wafatnya Paus Fransiskus.
Meski kansnya untuk terpilih sebagai Paus disebut kecil, kehadiran Suharyo dalam konklaf mencerminkan pencapaian luar biasa seorang putra bangsa yang meniti jalan imamat dari pelosok Yogyakarta hingga ke jantung Gereja Katolik dunia. Ia menjadi simbol keterwakilan Asia Tenggara di tengah dominasi Eropa dan Amerika Latin dalam struktur hierarki gerejawi.
“Tidak ada persiapan khusus. Ikut saja,” ujar Suharyo dengan tenang saat ditemui di Gereja Katedral Jakarta.
Ungkapan sederhana ini menyingkapkan kerendahan hatinya, namun tak menyembunyikan bobot sejarah yang tengah dipikulnya.
Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo lahir pada 9 Juli 1950 di Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Ia adalah anak ketujuh dari pasangan Katolik taat, Florentinus Amir Hardjodisastra dan Theodora Murni Hardjadisastra. Semangat religius telah menyelimuti hidupnya sejak kecil; beberapa saudara kandungnya juga menjadi biarawan dan biarawati.
Ketertarikan pada hidup imamat muncul sejak usia 11 tahun, saat ia memutuskan masuk Seminari Menengah Petrus Canisius di Mertoyudan. Dari sana, jalan hidupnya dituntun menuju panggilan lebih besar.
Meniti Ilmu dan Iman
Setelah menyelesaikan studi filsafat dan teologi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Suharyo ditahbiskan sebagai imam diosesan pada 1976. Ia lalu melanjutkan pendidikan ke Universitas Urbaniana, Roma, dan meraih gelar doktor dalam bidang Teologi Biblis pada 1981.
Sekembalinya ke Tanah Air, ia membaktikan diri sebagai dosen di Fakultas Teologi Wedabhakti, membangun reputasi sebagai pengajar Kitab Suci yang membumi dan mencerahkan.
Langkahnya ke jenjang hierarki Gereja dimulai pada 1997 saat diangkat menjadi Uskup Agung Semarang. Sembilan tahun kemudian, ia dipercaya memimpin Ordinariat Militer Indonesia—tugas khusus untuk membina umat Katolik di kalangan militer dan kepolisian.
Puncaknya tiba pada 2010, ketika ia dilantik sebagai Uskup Agung Jakarta, menggantikan Kardinal Julius Darmaatmadja. Di posisi strategis ini, Suharyo tampil sebagai tokoh kunci Gereja Katolik Indonesia, tak hanya dalam urusan pastoral, tetapi juga dalam dialog lintas agama dan sosial-kebangsaan.
Menjadi Kardinal dan Tokoh Asia
Pengakuan internasional datang saat Paus Fransiskus mengangkatnya sebagai kardinal pada 5 Oktober 2019. Ia menjadi orang Indonesia ketiga yang meraih gelar itu. Berbeda dari banyak kardinal lain yang berasal dari ordo religius, Suharyo adalah imam diosesan yang dekat dengan realitas umat sehari-hari.
Selain itu, ia aktif di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sebagai Sekretaris Jenderal (2000–2006) dan Presiden selama tiga periode berturut-turut (2012–2021). Kepemimpinannya dikenal moderat dan inklusif, menjembatani nilai-nilai Katolik dengan keragaman budaya Nusantara.
Kandidat dari Asia Tenggara
Dalam konklaf 2025, nama Suharyo disebut di antara para kardinal yang dinilai memiliki integritas, pengalaman pastoral, dan kepekaan global. Meski berasal dari wilayah yang kerap terpinggirkan dalam peta kekuasaan Vatikan, posisinya menegaskan bahwa suara Asia Tenggara patut diperhitungkan dalam arah masa depan Gereja.
“Siapa yang akan terpilih? Kita tidak pernah tahu,” ujarnya. Kalimat ini bukan semata ekspresi pasrah, tapi juga penanda bahwa proses konklaf lebih merupakan penyerahan diri pada kehendak Tuhan daripada sekadar kompetisi.
Bagi banyak umat Katolik di Indonesia dan Asia, keterlibatan Suharyo dalam konklaf bukan hanya soal peluang menjadi Paus, tapi juga pengakuan bahwa Gereja tumbuh pesat di kawasan Selatan dunia. Ia membawa serta suara minoritas global yang selama ini tidak dominan dalam pengambilan keputusan di Vatikan.
Keteladanannya dalam kesederhanaan, konsistensi dalam pelayanan, serta kemampuan menjembatani teologi dan realitas sosial menjadikannya tokoh penting dalam percaturan gereja universal.
Kini, dari sebuah desa kecil di Bantul, langkah Kardinal Suharyo telah mencapai pusat kekristenan dunia. Dan sejarah akan mencatat bahwa Indonesia, dengan segala keragamannya, turut memberi warna dalam proses penentuan pemimpin umat Katolik sejagat.(jaz)
Kapal Motor (KM) Vizz Jaya 2 yang diduga menjadi tempat pembunuhan kakak beradik asal Indramayu di Perairan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, Jumat (28/3/2025). Editor : Zaki Jazai