Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Menanti Paus Baru, Ketegangan Konklaf dan Bayang-Bayang Politik

Zaki Jazai • Jumat, 2 Mei 2025 | 17:30 WIB

Tampilan depan film conclave
Tampilan depan film conclave

Trenggaleknjenggelek — Setelah wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025, Dewan Kardinal kini bersiap memasuki salah satu proses paling sakral dalam Gereja Katolik: konklaf. Mulai awal Mei, para kardinal akan berkumpul secara tertutup di Kapel Sistina untuk memilih pemimpin baru umat Katolik dunia.

Konklaf bukan sekadar pemilihan pemimpin. Dalam tradisi Gereja, ini adalah panggilan spiritual untuk menemukan wakil Tuhan di Bumi. Namun, sejarah panjang proses ini juga mencatat betapa kuatnya pengaruh politik, preferensi regional, hingga manuver pribadi para kardinal.

Baca Juga: Dari Sedayu ke Vatikan, Perjalanan Panjang Kardinal Ignatius Suharyo Menuju Konklaf

Dalam memoarnya tahun lalu, Paus Fransiskus mengisahkan kembali dinamika konklaf 2005. Saat itu, sebagian kardinal ingin dirinya maju menggantikan Paus Yohanes Paulus II. Namun Fransiskus, kala itu Kardinal Jorge Mario Bergoglio dari Argentina, memilih mundur dan justru memberikan dukungan kepada Paus Benediktus XVI.

“Kisah konklaf selalu penuh rahasia, tekanan, dan simbol,” tulis Paus Fransiskus. Pengakuan ini menjadi sorotan baru terhadap peran kompromi dan pertimbangan politis dalam proses pemilihan yang diyakini dijalankan di bawah tuntunan Roh Kudus.

Nuansa inilah yang kemudian menjadi inspirasi novel Conclave karya Robert Harris, yang terbit pada 2016. Novel itu menggambarkan kisah fiktif tentang pemilihan Paus yang dipenuhi intrik internal dan rahasia yang mengejutkan. “Saya menyukai ketegangan konklaf—tertutup, ada batas waktu 72 jam, dan setiap suara sangat menentukan,” ujar Harris dalam wawancara terbarunya April lalu.

Baca Juga: Rekomendasi 4 Film Mirip Conclave Bertema Gereja dan Spiritualitas

Adaptasi film dari novel itu—yang dirilis pada 2024 dengan sutradara Edward Berger dan aktor Ralph Fiennes—meraih delapan nominasi Oscar. Film tersebut menuai pujian karena mampu mengangkat kompleksitas psikologis para kardinal, namun juga dikritik oleh media Katolik seperti Missio Dei. Mereka menilai film itu terlalu menekankan konflik internal dan mengaburkan aspek spiritualitas yang menjadi jantung konklaf.

“Gambaran konklaf dalam film adalah potret yang dibumbui drama, bukan refleksi spiritual,” tulis Missio Dei dalam ulasannya.

Di tengah situasi ini, muncul pula wacana pemilihan Paus dari Afrika—sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah Gereja modern. Namun, para pengamat menilai, asal-usul geografis kerap menjadi salah satu dari sekian banyak faktor pertimbangan dalam konklaf.

Baca Juga: Paus Fransiskus Wafat, Film Conclave Kembali Jadi Sorotan Dunia

Robert Harris sendiri menolak bukunya dijadikan dasar spekulasi publik.

“Gereja bukan Elon Musk, bukan Trump, bukan AfD. Ia tidak harus mengikuti pola dunia,” tegasnya. Ia berharap konklaf tetap menjunjung nilai-nilai kekristenan universal dalam memilih pemimpin umat Katolik berikutnya.

Dengan jutaan pasang mata tertuju ke Vatikan, konklaf 2025 menjadi momen bersejarah yang bukan hanya spiritual, tapi juga mencerminkan pergulatan Gereja menghadapi tantangan zaman: antara tradisi dan perubahan, iman dan politik, harapan dan kenyataan.(jaz)

Whoop
Whoop
Oura Ring 4
Oura Ring 4
 Apple Watch Series 10
Apple Watch Series 10
Fitbit Charge 6
Fitbit Charge 6
Garmin Venu
Garmin Venu
AIO Smart Sleeve
AIO Smart Sleeve
Apple Watch Ultra 2
Apple Watch Ultra 2
Editor : Zaki Jazai
#gereja katolik #paus fransiskus #kardinal #Konklaf