Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Jejak WNI di Konklaf Vatikan, Bukan Hanya Suharyo, Indonesia Pernah Diwakili Dua Kardinal Sebelumnya

Zaki Jazai • Sabtu, 3 Mei 2025 | 16:38 WIB
Ilustrasi pelaksanaan konklaf oleh para kardinal
Ilustrasi pelaksanaan konklaf oleh para kardinal

Trenggaleknjenggelek— Menjelang konklaf 6 Mei 2025 untuk memilih penerus Paus Fransiskus, Indonesia kembali tercatat dalam sejarah Gereja Katolik global. Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, akan menjadi salah satu dari sekitar 120 kardinal yang berkumpul di Kapel Sistina, Vatikan. Namun, kehadiran wakil Indonesia dalam proses pemilihan Paus bukanlah hal baru.

Sebelumnya, dua warga negara Indonesia lainnya telah lebih dahulu menjadi bagian dari proses sakral dan tertutup yang disebut konklaf. Mereka adalah Kardinal Justinus Darmojuwono dan Kardinal Julius Darmaatmadja—dua tokoh penting yang telah menorehkan jejak Indonesia dalam pemilihan pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia.

Justinus Darmojuwono: Pelopor dari Semarang

Kardinal Justinus Darmojuwono menjadi orang Indonesia pertama yang diangkat sebagai kardinal oleh Paus Paulus VI pada 1967. Ia turut serta dalam dua konklaf penting tahun 1978, yang pertama memilih Paus Yohanes Paulus I dan yang kedua menetapkan Karol Wojtyła sebagai Paus Yohanes Paulus II.

Dalam sunyi Kapel Sistina, suara Darmojuwono mewakili iman dari Asia Tenggara. Setelah pensiun sebagai Uskup Agung Semarang, ia menjalani masa tuanya secara sederhana di Paroki Santa Maria Fatima Banyumanik, hingga wafat pada 1994.

Julius Darmaatmadja: Rendah Hati di Tengah Hak Pilih

Dua dekade kemudian, giliran Kardinal Julius Darmaatmadja membawa suara Indonesia ke Vatikan. Jesuit yang pernah menjadi Uskup Agung Jakarta dan Semarang ini ikut serta dalam konklaf 2005 yang menetapkan Paus Benediktus XVI. Namun pada 2013, meski secara usia masih memenuhi syarat, ia memilih tidak hadir karena alasan kesehatan.

“Pendengaran dan penglihatan saya sudah sangat menurun. Saya tidak ingin proses pemilihan terganggu karena keterbatasan saya,” ujarnya kala itu—sebuah sikap yang mencerminkan kebijaksanaan dan ketulusan.

Ignatius Suharyo: Melanjutkan Estafet Sejarah

Kini, Kardinal Ignatius Suharyo melanjutkan estafet tersebut. Diangkat sebagai kardinal oleh Paus Fransiskus pada 2019, Suharyo telah lama mengabdi sebagai uskup dan pengajar filsafat. Lahir di Bantul, Yogyakarta, ia mengawali hidup dengan impian menjadi polisi, namun jalan hidup membawanya menjadi doktor teologi biblis di Roma, dan kini, salah satu dari sedikit WNI yang akan ikut memilih Paus baru.

Dengan kehadiran Suharyo, Indonesia mencatatkan kembali partisipasinya dalam sejarah Gereja Katolik global. Dari Darmojuwono, Darmaatmadja, hingga Suharyo, mereka adalah putra bangsa yang dalam doa dan kebijaksanaan turut membentuk arah masa depan Takhta Suci.

Tiga nama, satu tanah air, dan warisan yang menyala dalam sunyi Kapel Sistina.(jaz) 

 

 

 

Editor : Zaki Jazai
#gereja katolik #Kardinal Ignatius Suharyo #Konklaf #indonesia