Trenggaleknjenggelek- Setelah seorang kardinal dipilih sebagai Paus dalam sebuah konklaf yang khidmat, dunia menanti dalam keheningan. Asap putih mengepul dari cerobong Kapel Sistina, tanda bahwa seorang pemimpin baru Gereja Katolik telah terpilih.
Namun, sebelum paus baru melangkah ke balkon Basilika Santo Petrus untuk menyapa umat yang menunggu, ada satu ruang kecil yang harus ia datangi terlebih dahulu.
Ruang itu bernama Room of Tears—Ruang Air Mata.
Letaknya tersembunyi di balik dinding Kapel Sistina. Tidak megah, tidak pula terang. Namun di dalamnya, sejarah diam-diam menunduk. Di ruangan inilah jubah putih Paus telah disiapkan dalam berbagai ukuran. Namun bukan hanya pakaian yang menunggu di sana—di ruangan itu, yang lebih sering hadir adalah keheningan dan air mata.
Tangis yang lahir bukan dari rasa haru semata, tetapi dari kesadaran akan beban yang kini dipanggul. Ia bukan lagi seorang kardinal, melainkan pemimpin umat Katolik sedunia—lebih dari satu miliar jiwa dari berbagai penjuru bumi. Ia bukan lagi hanya seorang teolog atau pengkhotbah, tetapi gembala yang akan memimpin di tengah dunia yang kompleks dan sering kali gaduh.
Banyak dari mereka yang terpilih, ketika masuk ke Ruang Air Mata, tak kuasa menahan rasa getir. Beberapa duduk lama, diam dalam hening. Ada yang memejamkan mata dalam doa panjang. Ada pula yang menggenggam jubah putih itu dengan tangan gemetar, seakan masih belum siap.
Karena kekuasaan sejati tidak membusungkan dada. Ia justru membungkukkan punggung, menyadari bahwa takhta bukanlah mahkota, tetapi amanah. Bahwa menjadi pemimpin bukanlah tentang disanjung, tetapi tentang mempertanggungjawabkan.
Dan di titik itulah, ketika air mata jatuh bukan sebagai tanda kelemahan, tetapi tanda kesadaran—seorang pemimpin menjadi pantas dititipkan.(jaz)