Trenggaleknjenggelek - Raja Ampat, kawasan yang dijuluki sebagai “Surga Terakhir di Bumi”, kini tengah menghadapi ancaman serius.
Aktivitas tambang nikel Raja Ampat, khususnya di Pulau Gag, memicu kekhawatiran banyak pihak karena berpotensi merusak ekosistem alam dan mengganggu statusnya sebagai destinasi wisata dunia.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa aktivitas tambang nikel di Pulau Gag, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya akan segera dievaluasi kembali.
Pemerintah pusat berkomitmen untuk melakukan pengecekan ulang terhadap kegiatan tersebut karena Raja Ampat merupakan kawasan pariwisata unggulan nasional dan internasional.
Baca Juga: Keputusan Tegas Davina Karamoy untuk Mengakhiri Hubungan yang Toksik
Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, menegaskan bahwa kebijakan di Papua harus memperhatikan status Otonomi Khusus.
Oleh karena itu, keterlibatan pemerintah pusat dalam menangani persoalan tambang di wilayah tersebut harus mengikuti prosedur khusus.
“Saya akan panggil pemilik usaha, mau BUMN atau swasta. Kita memang harus menghargai, karena di Papua itu kan ada otonomi khusus, jadi perlakuannya juga khusus,” ujar Bahlil.
Adapun perusahaan yang memegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Pulau Gag adalah PT Gag Nikel Indonesia.
Perusahaan ini merupakan anak usaha dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam), yang juga menjadi bagian dari BUMN tambang strategis di Indonesia.
Ironisnya, meskipun hilirisasi nikel kerap dikaitkan dengan transisi menuju energi bersih dan ramah lingkungan, jejak kerusakan yang ditinggalkan justru terus meluas. Dari Sulawesi, Maluku, hingga kini mengancam Raja Ampat.
Baca Juga: Waspadai Cacing Hati pada Hewan Kurban, Dinas Peternakan Trenggalek Ingatkan Ancaman Serius
Hilirisasi nikel yang digadang sebagai jalan menuju transisi energi bersih, ironisnya telah meninggalkan jejak kehancuran di berbagai tempat dari Sulawesi hingga Maluku, dan kini mengancam Raja Ampat.
Pernyataan ini menjadi pengingat keras bahwa pembangunan tidak seharusnya dibayar dengan hilangnya kekayaan alam yang tak tergantikan.
Polemik tambang nikel Raja Ampat mencerminkan dilema besar antara kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Di tengah urgensi transisi energi global, pemerintah diharapkan dapat mengambil kebijakan bijak dengan tetap memprioritaskan perlindungan kawasan konservasi seperti Raja Ampat. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom