Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

53 Persen Wilayah Indonesia Alami Hujan Intensitas Tinggi, Ini Peyebab Versi BMKG

Dharaka R. Perdana • Sabtu, 5 Juli 2025 | 04:43 WIB

Masyarakat harus tetap waspada pada cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi. (CREATIVEART/FREEPIK)
Masyarakat harus tetap waspada pada cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi. (CREATIVEART/FREEPIK)

TRENGGALEKJENGGELEK - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di berbagai wilayah Indonesia selama periode liburan sekolah Juli 2025.

Meskipun sebagian wilayah telah memasuki musim kemarau, BMKG menyebut dinamika atmosfer dan laut masih sangat aktif dan berisiko menimbulkan bencana hidrometeorologi.

Baca Juga: 3 Sate Kambing Terenak di Trenggalek yang Bikin Lidah Goyang, Nomor 2 Wajib Dicoba Saat Cuaca Dingin!

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa kondisi cuaca selama sepekan terakhir terbukti sesuai dengan peringatan dini cuaca ekstrem yang telah dikeluarkan oleh BMKG sejak H-1 hingga sepekan sebelumnya.

Beberapa kejadian yang terjadi antara lain hujan lebat, angin kencang, banjir, longsor, hingga kecelakaan transportasi seperti tenggelamnya kapal KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali pada 2 Juli 2025.

Baca Juga: Hadapi Cuaca Buruk, Labuh Laut Sembonyo di Pantai Cengkrong Trenggalek Tetap Meriah

“BMKG secara rutin memperbarui informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi. Kami mengimbau masyarakat dan seluruh sektor untuk aktif memantau informasi ini,” tegas Dwikorita.

Dari data BMKG, Hingga akhir Juni 2025, baru 30 persen zona musim di Indonesia yang masuk musim kemarau, jauh di bawah normal klimatologis yang biasanya mencapai lebih dari 60 persen.

Baca Juga: ‎Cuaca Buruk Bikin Sepi, Kunjungan Wisata Trenggalek Anjlok di Semester Pertama 2025

Anomali ini disebabkan oleh curah hujan yang berada di atas normal sejak Mei dan terus berlanjut hingga Juli.

Sebanyak 53 persen wilayah Indonesia tercatat mengalami hujan dengan intensitas tinggi, terutama di wilayah Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Baca Juga: BMKG Juanda Waspadai Cuaca Tidak Menentu di Trenggalek, Potensi Hujan Masih Tinggi

Curah hujan ekstrem juga tercatat di beberapa wilayah, seperti di Stasiun Geofisika Deli Serdang dengan intensitas 142 mm dan Stasiun Meteorologi Rendani Papua Barat sebesar 103 mm pada 2 Juli 2025.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menyebut bahwa kondisi cuaca ekstrem saat ini dipicu oleh sejumlah fenomena atmosfer global dan regional.

Meskipun Madden-Julian Oscillation (MJO) dalam kondisi lemah, namun lemahnya Monsun Australia, serta aktifnya gelombang ekuator Rossby dan Kelvin, menyebabkan udara tetap lembap di wilayah selatan Indonesia, mendukung pembentukan awan hujan.

Faktor laut juga berkontribusi besar. Meskipun bibit siklon tropis 98W di sekitar Luzon tidak berdampak langsung ke Indonesia, ia menyebabkan peningkatan angin di Laut Cina Selatan.

Sementara itu, sirkulasi siklonik di Samudra Hindia dan Pasifik utara menciptakan zona konvergensi di beberapa wilayah perairan Indonesia, seperti Laut Jawa, Laut Flores, dan Maluku Utara.

Hal ini meningkatkan potensi gelombang tinggi dan hujan lebat di wilayah-wilayah tersebut. ****

 

Kediri Town Square Launching Tujuh Tenant Brand Baru
Kediri Town Square Launching Tujuh Tenant Brand Baru
Kediri Town Square Launching Tujuh Tenant Brand Baru
Kediri Town Square Launching Tujuh Tenant Brand Baru
Editor : Dharaka R. Perdana
#bmkg #cuaca ekstrem #libur sekolah