Trenggaleknjenggelek - Fenomena udara dingin atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai "bediding" tengah melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur. Dalam beberapa malam terakhir, warga di berbagai daerah mengaku merasakan suhu udara yang lebih dingin dari biasanya, terutama menjelang dini hari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membenarkan kondisi ini. Menurut BMKG, suhu minimum harian di sejumlah wilayah Jatim memang cenderung menurun, terutama di dataran tinggi seperti Malang, Batu, dan Ponorogo. Bahkan di beberapa titik, suhu tercatat mencapai 15 hingga 18 derajat Celsius.
Fenomena ini memang wajar terjadi di musim kemarau, di mana langit cenderung cerah dan angin timuran bertiup kencang dari Australia yang sedang musim dingin. BMKG memprakirakan bahwa udara dingin ini masih akan terus terasa hingga bulan Agustus 2025, seiring puncak musim kemarau. Namun, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kesehatan, terutama anak-anak dan lansia, yang rentan terhadap suhu ekstrem.
Menanggapi dugaan bahwa cuaca dingin ini berkaitan dengan fenomena aphelion — yakni saat bumi berada pada jarak terjauh dari matahari — BMKG menegaskan bahwa pengaruh aphelion terhadap suhu udara di bumi sangat kecil.
Jarak bumi dengan matahari hanya memengaruhi sekitar 7 persen energi matahari yang diterima bumi. Jadi, pengaruhnya terhadap cuaca sehari-hari tidak signifikan dan tidak langsung terasa oleh manusia.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak mengaitkan fenomena bediding ini secara langsung dengan aphelion, melainkan memahami bahwa hal tersebut lebih disebabkan oleh dinamika musim kemarau dan arah angin global yang sedang terjadi.
Sebagai langkah antisipasi, warga disarankan mengenakan pakaian hangat saat malam hari, serta menjaga kelembaban kulit dan asupan cairan tubuh. Bagi para petani dan peternak, BMKG juga menyarankan agar lebih waspada terhadap dampak embun dingin terhadap tanaman dan hewan ternak.
Editor : Mohammad Bima Faisal Mirza