Trenggaleknjenggelek – Seorang pendaki asal Belanda, Sarah Van Hulten (26), mengalami kecelakaan di Gunung Rinjani pada Kamis (17/7/2025) saat melintasi jalur curam menuju Danau Segara Anak. Ia tergelincir sejauh 20 hingga 30 meter.
Insiden ini menambah daftar panjang kecelakaan di Gunung Rinjani, terutama pada jalur yang terkenal ekstrem dan licin.
Saat kejadian, korban sedang mendaki bersama seorang pemandu dan dua porter sekitar pukul 13.08 WITA, tepat di jalur antara Pelawangan dan danau, beberapa meter sebelum jembatan penyeberangan.
Data dari eRinjani menunjukkan bahwa korban memulai pendakian dari jalur Sembalun sehari sebelumnya.
Setelah menerima laporan dari operator tur, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) segera mengirimkan tim penyelamat ke lokasi.
Laporan resmi menyebutkan bahwa korban mengalami cedera parah pada bagian leher dan kepala, meskipun masih dalam keadaan sadar. “Korban mengalami patah leher dan pendarahan di kepala,” tulis BTNGR dalam laporannya.
Karena medan yang berat dan perjalanan yang panjang, evakuasi darat dianggap terlalu berisiko. Setelah video kondisi korban dikirim ke tim medis, diputuskan bahwa evakuasi harus dilakukan melalui udara. BTNGR berkoordinasi dengan SGI Air Bali dan Nusa Medica.
Helikopter yang membawa tim medis diberangkatkan pada pukul 15.44 WITA, dan berhasil mendarat di dekat lokasi korban pada pukul 16.42 WITA. Setelah menerima perawatan awal, korban diterbangkan ke Denpasar pada pukul 16.54 WITA.
Setibanya di Bali pukul 17.30 WITA, korban segera dirujuk ke RS BIMC Kuta untuk perawatan lanjutan, dengan salah satu anggota rombongan mendampingi.
BTNGR memberikan apresiasi atas respon cepat dari seluruh tim, termasuk Basarnas, TNI/Polri, EMHC, Rinjani Squad, dan masyarakat setempat. “Kami menghargai kolaborasi yang cepat dan efisien dalam evakuasi ini,” tulis BTNGR dalam pernyataannya.
Peristiwa ini kembali menyoroti bahaya jalur menuju Danau Segara Anak yang dikenal dengan medan sempit, berbatu, dan curam, sehingga sangat rawan kecelakaan, terutama dalam cuaca yang tidak menentu. BTNGR mengimbau agar pendaki mempersiapkan kondisi fisik yang prima dan membawa perlengkapan keselamatan yang memadai.
Sebagai tindak lanjut, BTNGR akan melakukan evaluasi terhadap titik-titik rawan sepanjang jalur Pelawangan–Danau. Pembahasan untuk penambahan rambu peringatan, tali pengaman, dan peningkatan shelter darurat sedang dilakukan guna mencegah insiden serupa di masa depan.
Editor : Amalia Rizky Indah Permadani