Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Banteng Jawa Pertama Lahir di Pangandaran, Ini Makna dari Nama Exploitasia

Dharaka R. Perdana • Senin, 28 Juli 2025 | 05:00 WIB

Seekor bayi banteng Jawa lahir di Pangandaran Jawa Barat. (KEMENHUT)
Seekor bayi banteng Jawa lahir di Pangandaran Jawa Barat. (KEMENHUT)

TRENGGALEKJENGGELEK - Kabar gembira datang dari dunia konservasi satwa liar, seekor banteng jawa (Bos javanicus) telah lahir di Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran, yang berlokasi di Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Jawa Barat.

Bayi banteng jawa berjenis kelamin betina ini lahir pada Minggu, 27 Juli 2025 sekitar pukul 06.00 WIB, dari induk bernama Uchi.

Baca Juga: Kandungan Minyak Jenuh Lebih Rendah, Daging Kambing Dinilai Lebih Sehat Dibanding Daging Sapi

Kelahiran ini menjadi momen bersejarah karena merupakan banteng jawa pertama yang berhasil dikembangbiakkan secara semi-alami di pusat konservasi tersebut.

Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran merupakan program unggulan Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, yang bertujuan mengembalikan populasi banteng jawa ke habitat alaminya di kawasan Pananjung.

Baca Juga: Sapi 1 Ton dari Kecamatan Pogalan Jadi Hewan Kurban Presiden Prabowo di Trenggalek saat Idul Adha

Sebelumnya, spesies endemik ini dinyatakan punah secara lokal di area tersebut pada tahun 2023. Upaya reintroduksi ini tidak hanya menjadi langkah penyelamatan spesies, tetapi juga simbol kembalinya kekayaan hayati Pulau Jawa yang sempat hilang.

Konsep pengembangbiakan yang diterapkan bersifat semi-alami, melibatkan empat individu banteng Jawa hasil kolaborasi dari tiga lembaga konservasi.

Baca Juga: Spirulina Bisa Dijadikan Pakan Ternak Alternatif, Ini Kandungan Mineral yang Dimiliki

Yaitu Taman Safari Indonesia Bogor (betina Uchi), Taman Safari Indonesia Prigen (betina Bindi), serta dua individu jantan dari Taman Safari Indonesia Gianyar, Bali (Bejo dan Senta).

Seluruh individu tersebut dilepasliarkan ke kawasan Pusat Reintroduksi seluas kurang lebih 5 hektare saat peresmian program pada 11 Desember 2024 oleh Menteri Kehutanan.

Baca Juga: Stok Vaksin Ternak di Trenggalek Masih Aman, Layanan Tetap Berjalan Meski Ada Penolakan

Selama proses adaptasi dan pengembangbiakan, para banteng ini diawasi secara ketat oleh sembilan petugas lapangan.

Tugas mereka mencakup pemberian pakan harian, nutrisi tambahan, pengecekan kesehatan, pemantauan masa birahi, serta pemeliharaan kandang dan padang gembala.

Sistem monitoring intensif inilah yang memastikan lingkungan tetap optimal bagi kesejahteraan dan reproduksi satwa.

Kelahiran bayi banteng menjadi bukti bahwa habitat di Pangandaran kini kembali mampu mendukung kehidupan liar yang seimbang.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, bahkan memberikan nama khusus untuk bayi banteng tersebut: Exploitasia.

Nama ini diharapkan menjadi simbol semangat eksplorasi dan pelestarian satwa endemik Indonesia yang terus tumbuh dan berkembang.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada tim BBKSDA Jawa Barat serta seluruh mitra kerja yang terlibat dalam keberhasilan ini.

Ia menekankan bahwa kelahiran Exploitasia membuka lembaran baru dalam sejarah konservasi banteng jawa di Indonesia.

"Saat ini, tim medis BBKSDA masih terus melakukan pemantauan terhadap Exploitasia dan induknya untuk memastikan kondisi kesehatan keduanya tetap stabil," jelasnya. ****

 

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#pangandaran #banteng jawa #cagar alam