Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Waspada Penurunan Curah Hujan di Jambi, BMKG Ingatkan Potensi Karhutla

Dharaka R. Perdana • Jumat, 1 Agustus 2025 | 05:32 WIB

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (dua dari kanan) bersama Kepala BNPB dan Menteri Lingkungan Hidup. (BMKG)
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (dua dari kanan) bersama Kepala BNPB dan Menteri Lingkungan Hidup. (BMKG)

TRENGGALEKJENGGELEK - Penurunan curah hujan di Provinsi Jambi menjadi perhatian serius Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa penurunan curah hujan yang signifikan tercatat terjadi pada sepuluh hari pertama Agustus 2025.

Penurunan curah hujan ini berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah-wilayah rawan, terutama yang berada di zona gambut dan perbatasan utara Jambi dengan Riau.

Baca Juga: Kemarau Basah Bikin Hujan Deras di Trenggalek, Ternyata Ini Pemicunya

“Meskipun saat ini Jambi berada di puncak musim hujan, kami mencatat curah hujan turun drastis, hanya berkisar antara 20–50 mm di awal Agustus. Ini menandakan peningkatan risiko karhutla di sejumlah titik,” ujar Dwikorita saat Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Karhutla di Kantor Gubernur Jambi, Rabu (30/7/2025).

BMKG juga mencatat bahwa sebagian besar wilayah Jambi memang masih memiliki tingkat kemudahan terbakar yang rendah.

Baca Juga: Cuaca Tak Menentu Sebabkan Warga Sakit, Ramuan Rempah Jadi Solusi di Trenggalek

Namun, pada 30 Juli, 1 hingga 3 Agustus, dan 5 Agustus, beberapa kawasan menunjukkan peningkatan signifikan dalam tingkat kemudahan terbakar.

Khususnya wilayah utara Jambi yang berbatasan dengan Provinsi Riau, tercatat berada dalam kategori sangat mudah terbakar pada 30 Juli.

Untuk mengantisipasi risiko ini, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus diintensifkan. Operasi ini difokuskan pada zona merah dan kuning untuk mengurangi peluang munculnya hotspot serta mencegah meluasnya asap lintas batas.

Baca Juga: Cuaca Antariksa Bisa Pengaruhi Aktivitas Manusia di Bumi, BRIN Bilang Begini

Pada 30 Juli, dua sorti OMC telah berhasil dilakukan, dan direncanakan empat sorti secara total, dengan kondisi awan hujan yang mulai menurun sejak awal Agustus.

Sebelumnya, OMC yang digelar pada 2–9 Juni 2025 telah menghasilkan curah hujan hampir setiap hari, dengan estimasi total air hujan mencapai 157,6 juta meter persegi.

Keberhasilan ini turut berperan dalam menekan munculnya hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Jambi.

Meski begitu, perhatian khusus tetap diberikan pada wilayah-wilayah dengan tinggi muka air tanah yang rendah.

Muaro Jambi menjadi daerah prioritas utama dengan 11 stasiun mencatat kondisi kering dan 7 stasiun dalam status merah. Tanjung Timur menempati peringkat kedua dengan 10 stasiun menunjukkan kondisi kuning.

Langkah mitigasi juga mencakup patroli darat dan pemantauan udara. Pemantauan udara menggunakan helikopter dilakukan langsung di atas kawasan gambut Desa Gambut Jaya, Kabupaten Muaro Jambi, untuk mengevaluasi kondisi tutupan lahan, tinggi muka air, dan potensi karhutla.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam pencegahan karhutla.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Pencegahan karhutla adalah tanggung jawab bersama. Saya mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Jambi dalam mengoordinasikan seluruh upaya ini,” tegasnya. ****

 

Editor : Dharaka R. Perdana
#jambi #curah hujan #penurunan #riau #karhutla