Trenggaleknjenggelek - Blok Ambalat kembali jadi sorotan, bukan hanya karena nilai minyaknya yang tembus ribuan triliun, tapi juga karena sikap berbeda yang ditunjukkan dua pemimpin negara: Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Saat Anwar menyatakan “Kami akan melindungi setiap jengkal Sabah” dengan nada tegas penuh determinasi, Prabowo memilih diplomasi yang lebih tenang “Kita mau kerja sama dengan Malaysia, kita selesaikan dengan baik-baik.”
Sikap Anwar jelas menggambarkan pendekatan hardline—menegaskan kedaulatan wilayah tanpa celah negosiasi di ruang publik.
Hal ini tentu memberi sinyal kuat ke dalam negeri Malaysia, bahwa pemerintah siap mempertahankan wilayah yang diklaim sebagai bagian Sabah.
Prabowo di sisi lain tampak mengadopsi strategi soft diplomacy. Pesan yang disampaikan cenderung mengedepankan hubungan baik antarnegara, menghindari eskalasi, dan membuka pintu negosiasi.
Pendekatan ini bisa jadi strategi jangka panjang untuk mencari titik kompromi tanpa menambah ketegangan.
Pendekatan hardline ala Anwar bisa meningkatkan dukungan domestik, tapi berisiko memicu ketegangan di laut Sulawesi.
Sedangkan pendekatan soft diplomacy Prabowo berpeluang menjaga stabilitas regional, namun bisa ditafsirkan sebagai kelemahan jika tidak diimbangi langkah taktis di lapangan.
Dalam konteks geopolitik energi, kedua pendekatan ini sama-sama punya tujuan akhir: memastikan akses dan kontrol terhadap cadangan minyak dan gas di Ambalat. Perbedaan hanya terletak pada cara mereka menempuh jalannya. (sun)
Editor : Mahsun Nidhom