Jatim Masuk Siaga Cuaca Ekstrem, BMKG Ingatkan Warga Lebih Waspada
Zaki Jazai• Kamis, 21 Agustus 2025 | 21:22 WIB
Peringatan dini cuaca di wilayah Jatim mulau 22 Agustus hingga 25 Agustus
Trenggaleknjenggelek – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan Jawa Timur masuk dalam status siaga cuaca ekstrem pada periode 22–25 Agustus 2025. Wilayah ini berpotensi diguyur hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir, serta angin kencang.
BMKG menyebut, kondisi serupa juga berpeluang terjadi di sejumlah provinsi lain, seperti Sumatera Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Sementara itu, angin kencang diprediksi meluas di Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
“Untuk Jawa Timur, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena potensi hujan lebat bisa datang sewaktu-waktu, terutama di kawasan dengan topografi pegunungan dan pesisir,” terang Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Juanda Surabaya, Taufik Maulana, saat dikonfirmasi, Selasa (19/8).
Ia menambahkan, dampak yang perlu diantisipasi meliputi genangan, banjir bandang, hingga tanah longsor.
“Kami mendorong agar pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat aktif memantau informasi resmi dari BMKG. Jangan hanya mengandalkan prakiraan umum, tapi cek peringatan dini harian yang kami keluarkan,” ujarnya.
BMKG juga mengimbau warga agar tidak berada di ruang terbuka saat hujan disertai petir, serta menjauhi pepohonan maupun bangunan rapuh yang rawan tumbang ketika diterpa angin kencang. Selain itu, masyarakat diingatkan tetap menjaga stamina tubuh karena kondisi cuaca bisa berganti dari terik ke hujan deras dalam waktu singkat.
Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Jawa Timur turut menindaklanjuti peringatan BMKG dengan mengeluarkan himbauan kesiapsiagaan bencana. Ketua ORARI Daerah Jatim, Sugeng Priyanto, mengatakan relawan radio amatir siap membantu penyebaran informasi cuaca maupun koordinasi darurat bila terjadi bencana hidrometeorologi.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat Jawa Timur diminta tidak panik namun tetap waspada. Persiapan sederhana seperti memastikan saluran air tidak tersumbat, menyimpan dokumen penting di tempat aman, serta menyiapkan alat penerangan cadangan dinilai bisa membantu ketika menghadapi cuaca ekstrem.
“Komunikasi cepat itu penting. Kami akan aktif memantau dan menyebarkan update dari BMKG ke jaringan kami di daerah-daerah rawan,” tegas Sugeng.(Jaz)