Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Wacana Mantan Presiden Soeharto Jadi Pahlawan Nasional Picu Perdebatan, 80 Persen Publik Setuju tapi Kritik Tetap Kuat dengan Alasan Begini

Gunawan Awan • Minggu, 9 November 2025 | 04:05 WIB
Wacana pemberian gelar pahlawan nasional untuk mantan Presiden Soeharto menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat hingga kini.
Wacana pemberian gelar pahlawan nasional untuk mantan Presiden Soeharto menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat hingga kini.

JAKARTA - Wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden Soeharto memunculkan perdebatan di tengah masyarakat.

Berdasarkan hasil survei Kedai Kopi, sebanyak 80,7 persen publik menyatakan setuju terkait pemberian gelar pahlawan ke mantan Presiden Soeharto.

Namun sebagian lainnya tetap menolak pemberian gelar pahlawan untuk mantan Presiden Soeharto, dengan alasan pelanggaran HAM dan praktik korupsi, kolusi, serta nepotisme (KKN) pada masa pemerintahannya.

Hal tersebut disampaikan Analis Komunikasi Politik Hendri Satrio (Hensat) dalam siaran langsung di akun YouTube miliknya yang tayang pada Sabtu (8/11/2025).

“Sebanyak 80,7 persen mendukung Soeharto menjadi pahlawan nasional, sementara yang tidak mendukung 15,7 persen dan yang tidak tahu 3,6 persen,” kata Hensat.

Dukungan karena Pembangunan dan Swasembada Pangan

Hensat menjelaskan, mayoritas masyarakat yang mendukung pengusungan Soeharto menilai keberhasilan pembangunan pada masa Orde Baru sebagai alasan utama.

Sebanyak 78 persen responden menyebut Soeharto berhasil membawa Indonesia mencapai swasembada pangan, sementara 77,9 persen menganggapnya sukses melakukan pembangunan nasional.

Selain itu, 63,2 persen responden menilai Soeharto berhasil menghadirkan sekolah dan sembako murah, dan 59,1 persen menilai masa pemerintahannya identik dengan stabilitas politik yang baik.

Penolakan karena Catatan Gelap Orde Baru

Meski dukungan publik terbilang besar, survei juga menunjukkan penolakan kuat terhadap wacana tersebut.

Sebanyak 88 persen dari kelompok penolak beralasan Soeharto tidak layak menjadi pahlawan nasional karena maraknya praktik KKN selama masa jabatannya.

Sementara itu, 82,7 persen responden menilai Soeharto membungkam kebebasan berpendapat dan kebebasan pers.

Baca Juga: Fakta Baru, Kapolri Pastikan Terduga Pelaku Ledakan di Masjid SMAN 72, Polisi Dalami Motif dan Paparan Ideologi

Lebih lanjut, 79,6 persen menganggapnya pelanggar HAM, dan 61,3 persen menyebut ia terlibat dalam intimidasi terhadap sejumlah pihak dalam peristiwa kontroversial.

Hensat: Pemerintah Harus Pertimbangkan Kedua Sisi

Hensat menilai, temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat masih terbelah dalam memaknai warisan kepemimpinan Soeharto.

Pria yang dikenal sebagai analis politik itu meminta pemerintah tidak hanya melihat jumlah dukungan, tetapi juga memperhatikan alasan-alasan penolakan yang muncul.

“Ini adalah alasan-alasan yang sangat krusial bagi sejarah Indonesia. Jadi ini harusnya bisa menjadi pertimbangan dari pemerintah dalam memutuskan nantinya,” ucap Hensat.

“Jadi jangan hanya dilihat banyak yang setuju, tapi dilihat juga yang tidak setuju,” pungkasnya.

Menurutnya, keputusan untuk memberi gelar pahlawan nasional tidak hanya soal angka dukungan, tetapi juga soal bagaimana bangsa ini memandang sejarah dengan jujur dan utuh.

Sebagai informasi, Survei Kedai Kopi dilakukan pada 5-7 November 2025 dengan metode Computerized Assisted Self Interview (CASI).

Jumlah responden mencapai 1.231 orang yang tersebar di seluruh Indonesia dengan rentang usia 17 hingga 60 tahun.*

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#mantan presiden soeharto #Gelar Pahlawan Nasioal #hari pahlawan