JAKARTA – Gelombang penolakan terhadap rencana masuknya Budi Arie Setiadi ke Partai Gerindra terus menguat di berbagai daerah.
Sejumlah pengurus DPC hingga kader akar rumput menyatakan keberatan jika mantan Menteri Komunikasi dan Informatika itu bergabung.
Mereka menilai rekam jejak dan latar belakang politik Budi Arie tidak sejalan dengan nilai perjuangan Gerindra.
Penolakan ini datang dari Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Jakarta.
Bahkan, sebagian pengurus menyebut masuknya Budi Arie berpotensi menimbulkan kegaduhan internal apabila tidak disikapi serius oleh DPP.
Gelombang Penolakan dari Daerah
Penolakan paling keras datang dari DPC Gerindra di Jawa Timur.
Para kader menilai bahwa Gerindra adalah partai yang dibangun dengan proses kaderisasi panjang, bukan tempat bagi politisi yang dianggap hanya mencari “suaka politik”.
Di Sidoarjo, Ketua DPC Gerindra Sidoarjo Mimik Idayana mengatakan bahwa rekam jejak Budi Arie tidak sejalan dengan identitas Gerindra yang menjunjung nilai nasionalisme dan religiusitas.
Pernyataan serupa disampaikan kader di Kabupaten Pati yang menegaskan bahwa Gerindra tidak membutuhkan kader karbitan yang datang tiba-tiba tanpa proses loyalitas.
Tidak hanya wilayah Jatim dan Jateng, Gerindra Kota Bandung juga menyuarakan penolakan.
Mereka menilai kehadiran Budi Arie justru dapat mengganggu marwah dan ideologi partai yang selama ini dijaga ketat.
Kader muda PAC Gerindra Jakarta Timur turut memberikan pernyataan bahwa partai ini lahir dari pengorbanan kader akar rumput, sehingga tidak pantas dimasuki figur yang dinilai hanya ingin mendapatkan posisi strategis setelah kehilangan jabatan.
Alasan Kader Menolak Budi Arie
Berdasarkan sejumlah pernyataan resmi kader, setidaknya ada empat alasan utama penolakan:
1. Tidak Cocok dengan Ideologi Gerindra
Banyak kader menilai gaya politik Budi Arie tidak sejalan dengan karakter Gerindra yang menjunjung kedisiplinan, loyalitas, dan konsistensi perjuangan.
2. Kekhawatiran Akan Motivasi Pribadi
Kader akar rumput menyebut ada kekhawatiran bahwa Budi Arie masuk bukan untuk berjuang bersama, tetapi sekadar mencari tempat berlindung setelah tidak lagi menjabat di pemerintahan.
3. Potensi Merusak Citra Partai
Sejumlah pengamat maupun kader menyebut bahwa membawa tokoh yang memiliki sejumlah kontroversi justru dapat berdampak negatif pada citra Gerindra yang tengah membangun konsolidasi nasional.
4. Risiko Membawa Gerbong Politik
Ada kekhawatiran Budi Arie membawa kelompoknya sendiri, yang dapat memicu gesekan internal dan mengganggu stabilitas struktur partai di daerah.
Respons DPP Gerindra: Penolakan Dianggap Dinamika Wajar
Ketua Harian DPP Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyebut bahwa sikap penolakan yang muncul adalah dinamika wajar dalam organisasi politik.
Ia memastikan bahwa suara dari daerah tetap menjadi bahan pertimbangan sebelum DPP mengambil keputusan final.
Sementara itu, Wakil Sekjen DPP Gerindra Azis Subekti menyatakan bahwa sikap kritis kader justru menunjukkan nilai yang selama ini diajarkan Prabowo Subianto, yaitu menjaga marwah, integritas, dan etika berpolitik.
Meski begitu, sampai saat ini belum ada keputusan resmi mengenai apakah Gerindra akan menerima atau menolak bergabungnya Budi Arie.
Implikasi Politik ke Depan
Penolakan ini menjadi ujian bagi konsolidasi internal Gerindra.
Jika DPP tetap membuka pintu bagi Budi Arie, potensi penolakan yang lebih besar bisa muncul dari daerah.
Namun jika ditolak, Gerindra bisa memperkuat citra sebagai partai yang menjaga martabat dan loyalitas kader.
Di sisi lain, keputusan ini juga berpotensi memengaruhi hubungan politik Gerindra dengan jaringan Projo, mengingat Budi Arie pernah menjadi salah satu figur penting di dalamnya. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah