Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Hulu yang Dihabisi Diam-diam: PILHI Bongkar Hutan Lindung Gowa Gundul, Ancaman DAS Jeneberang Mengalir ke Makassar

Gunawan Awan • Selasa, 23 Desember 2025 | 04:19 WIB
Perambahan hutan di Tombolapao merusak hulu DAS Jeneberang. PILHI memperingatkan krisis air, banjir, dan longsor mengancam Makassar jika penegakan hukum mandul.
Perambahan hutan di Tombolapao merusak hulu DAS Jeneberang. PILHI memperingatkan krisis air, banjir, dan longsor mengancam Makassar jika penegakan hukum mandul.

GOWA — Dini hari belum usai ketika aparat gabungan tiba di pedalaman Kecamatan Tombolapao, Kabupaten Gowa. Pukul 03.00 Wita, Jumat (12/12/2025), kawasan yang seharusnya menjadi benteng ekologis Sulawesi Selatan justru menyuguhkan ironi: hutan lindung telah berubah menjadi hamparan tanah terbuka.

Ribuan pohon pinus raib. Yang tersisa hanya jejak alat berat dan alur tanah terbelah—tanda penebangan masif yang diduga kuat akibat praktik ilegal logging yang dilakukan secara terorganisir.

Kawasan ini bukan sembarang hutan. Ia berada di wilayah hulu sungai yang menjadi sumber air utama Kabupaten Gowa dan bagian penting dari sistem air baku bagi jutaan warga Kota Makassar.

Jejak Alat Berat di Kawasan Lindung

Penggerebekan dilakukan setelah aparat menerima laporan masyarakat terkait aktivitas penebangan menggunakan ekskavator. Namun saat tim gabungan Polres Gowa, Pemerintah Kabupaten Gowa, dan Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan tiba di lokasi, aktivitas telah berhenti. Kawasan hutan sudah telanjur terbuka, diperkirakan mencapai puluhan hektar.

Untuk mencapai lokasi, aparat harus menempuh perjalanan darat sekitar lima jam dari Sungguminasa dengan medan berat dan sulit. Kondisi ini justru memperlihatkan bahwa perambahan tersebut bukan kerja spontan, melainkan dilakukan dengan perencanaan dan dukungan logistik yang matang.

Dampak Tak Berhenti di Gowa

Wakil Bupati Gowa, Darmawansyah Muin, yang turut memimpin penggerebekan, menegaskan bahwa meskipun kawasan hutan lindung berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, dampak kerusakannya tidak mengenal batas administrasi.

“Kami mau tidak mau harus terlibat, karena dampaknya bukan hanya ke Gowa, tetapi juga ke Kota Makassar,” ujar Darmawansyah di lokasi.

Ia menyayangkan kondisi hutan yang kini gundul, padahal kawasan tersebut berfungsi vital sebagai penyangga ekosistem, pencegah banjir, dan penahan longsor.

“Puluhan hektar hutan sudah hilang. Padahal ini daerah tangkapan air yang sangat penting,” tegasnya.

Hulu Rusak, DAS Jeneberang Terancam

Pusat Informasi Lingkungan Hidup Indonesia (PILHI) menilai perusakan hutan lindung di Tombolapao sebagai kejahatan ekologis serius karena berada di bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang, sistem sungai utama yang menghubungkan pegunungan Gowa hingga bermuara di Kota Makassar.

Koordinator Advokasi PILHI, Andi Rukmin, S.H, menjelaskan bahwa kerusakan di kawasan ini berarti kerusakan di “kepala” DAS yang selama ini mengatur stabilitas air bagi wilayah hilir.

“Kerusakan hutan di Tombolapao adalah kerusakan di hulu DAS Jeneberang. Semua air, lumpur, dan sedimen dari sini akan mengalir ke hilir, melewati Gowa, lalu masuk ke Makassar,” ujar Andi Rukmin.

Menurutnya, hilangnya tutupan hutan mengubah karakter aliran sungai secara drastis. Air hujan yang seharusnya diserap tanah kini langsung meluncur ke sungai, membawa sedimen dalam jumlah besar.

“Akibatnya, sungai di hilir menerima limpasan mendadak. Ini memicu banjir bandang, pendangkalan sungai, dan penurunan kualitas air baku,” jelasnya.

Ancaman Air Bersih Makassar

PILHI mengingatkan bahwa DAS Jeneberang merupakan sumber utama pasokan air baku Kota Makassar. Kerusakan di hulu akan meningkatkan beban pengolahan air dan memperbesar risiko krisis air bersih, terutama saat musim kemarau.

“Makassar sangat bergantung pada DAS ini. Jika debit air menjadi ekstrem—terlalu besar saat hujan dan terlalu kecil saat kemarau—warga kota akan merasakan dampaknya langsung,” kata Andi Rukmin.

Selain banjir, kata dia, sedimentasi yang meningkat juga mempercepat kerusakan infrastruktur sungai dan memperbesar ancaman longsor di wilayah pegunungan Gowa.

“Ini rantai sebab-akibat yang jelas. Hutan hulu dihancurkan, sungai berubah agresif, dan kota di hilir menjadi korban,” tegasnya.

PILHI mendesak aparat penegak hukum tidak berhenti pada temuan lapangan, tetapi menelusuri dan menindak aktor intelektual di balik perambahan hutan yang diduga terorganisir.

“Penegakan hukum di hulu sejatinya adalah perlindungan bagi Makassar. Tanpa itu, bencana hanya soal waktu,” pungkas Andi Rukmin.

Hingga berita ini diturunkan, aparat masih melakukan pendalaman untuk mengungkap pelaku dan jaringan di balik penggundulan hutan lindung tersebut. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#hutan gundul #makassar