TRENGGALEK NJENGGELEK-Tidak sedikit peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang masih menganggap BPJS Kesehatan hanya bisa dimanfaatkan saat sudah jatuh sakit. Padahal, BPJS Kesehatan juga menyediakan layanan promotif dan preventif melalui skrining riwayat kesehatan BPJS yang dapat dilakukan secara mandiri lewat aplikasi Mobile JKN.
Layanan skrining riwayat kesehatan BPJS ini memungkinkan peserta JKN mengetahui potensi risiko penyakit sejak dini, bahkan sebelum muncul gejala. Program tersebut disampaikan dalam podcast Tribun Padang bersama BPJS Kesehatan Cabang Padang yang menghadirkan Kepala Bagian Penjaminan Manfaat dan Utilisasi, Hasbias Siddiq Alhudawi, serta Staf Komunikasi Publik, Reza Hadi Saputra.
Apa Itu Skrining Riwayat Kesehatan BPJS?
Hasbias menjelaskan, skrining riwayat kesehatan merupakan salah satu manfaat resmi yang diberikan BPJS Kesehatan kepada seluruh peserta JKN. Berbeda dengan layanan kuratif yang fokus pada pengobatan orang sakit, skrining ini bertujuan mencegah penyakit melalui deteksi dini.
“Melalui skrining riwayat kesehatan BPJS, peserta bisa mengetahui risiko penyakit berdasarkan perilaku hidup dan kondisi kesehatannya saat ini,” ujar Hasbias.
Skrining dilakukan dengan mengisi kuesioner di aplikasi Mobile JKN. Data yang dimasukkan akan dianalisis sistem untuk mengidentifikasi potensi penyakit yang mungkin dialami peserta.
Deteksi 14 Jenis Penyakit, Termasuk Penyakit Kronis
BPJS Kesehatan mencatat ada 14 jenis penyakit yang dapat diidentifikasi melalui skrining riwayat kesehatan BPJS. Penyakit tersebut antara lain diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung iskemik, stroke, kanker leher rahim, kanker payudara, anemia pada remaja, tuberkulosis, hepatitis, PPOK, talasemia, kanker usus, dan kanker paru.
Khusus bayi baru lahir, skrining juga mencakup pemeriksaan hipotiroid kongenital, yaitu gangguan hormon tiroid yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kecerdasan anak.
“Mulai 2025, skrining tidak hanya untuk usia 15 tahun ke atas, tapi sudah mencakup bayi sejak lahir,” jelas Hasbias.
Cara Mengisi Skrining di Mobile JKN
Pengisian skrining riwayat kesehatan BPJS dilakukan melalui aplikasi Mobile JKN. Peserta cukup membuka menu “Lainnya”, lalu memilih fitur “Skrining Riwayat Kesehatan”.
Peserta diminta mengisi data berat badan dan tinggi badan, kemudian menjawab sekitar 47 pertanyaan terkait gaya hidup. Pertanyaan meliputi kebiasaan olahraga, pola makan, konsumsi makanan berlemak atau bersantan, kebiasaan merokok, kualitas tidur, hingga tingkat stres.
“Waktu pengisiannya singkat, sekitar tiga sampai lima menit saja,” kata Hasbias.
Hasil Real Time: Berisiko atau Tidak Berisiko
Setelah skrining selesai, hasil akan langsung muncul secara real time. Sistem akan menampilkan kategori tidak berisiko atau berisiko, lengkap dengan jenis penyakit yang berpotensi dialami.
Jika hasilnya berisiko, peserta tidak perlu panik. BPJS Kesehatan menyarankan peserta segera berkonsultasi ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempat peserta terdaftar, seperti puskesmas, klinik pratama, atau dokter praktik.
“Dokter di FKTP akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan apakah benar sakit atau hanya berisiko,” ujar Reza.
Bisa Dilakukan Satu Keluarga dalam Satu Akun
Menariknya, satu akun Mobile JKN dapat digunakan untuk melakukan skrining seluruh anggota keluarga yang terdaftar dalam satu kartu keluarga. Peserta cukup memilih nama anggota keluarga yang ingin dilakukan skrining.
Bagi peserta yang tidak memiliki akses ke aplikasi Mobile JKN, skrining tetap bisa dilakukan langsung di FKTP dengan membawa KTP atau kartu JKN.
Gratis dan Dijamin BPJS Kesehatan
BPJS Kesehatan menegaskan bahwa seluruh proses skrining hingga pemeriksaan lanjutan di FKTP ditanggung oleh program JKN selama memenuhi indikasi medis. Peserta tidak akan dikenakan biaya tambahan.
“Skrining ini ibarat medical check-up mini yang menjadi hak peserta JKN,” kata Hasbias.
Pesan BPJS: Jangan Takut, Lebih Baik Tahu Lebih Awal
BPJS Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tidak takut melakukan skrining riwayat kesehatan BPJS. Deteksi dini justru membantu peserta mencegah komplikasi penyakit yang lebih berat.
“Semakin cepat diketahui risikonya, semakin cepat pencegahan bisa dilakukan. Jangan menunggu sakit baru panik,” pungkas Hasbias.
Editor : Ichaa Melinda Putri