JAKARTA-Pergerakan harga emas kembali membuat pelaku pasar global terkejut. Dalam sepekan terakhir, logam mulia ini mengalami penurunan tajam yang disebut sebagai salah satu yang paling ekstrem dalam sejarah perdagangan emas modern.
Kondisi tersebut diulas secara mendalam oleh analis Extreme Trader, Cella, dalam analisis emas mingguan terbarunya.
Sejak awal pembukaan pekan lalu, harga emas tercatat sempat terjun lebih dari 2.400 pip hanya dalam satu hari perdagangan.
Baca Juga: 10 Bansos Andalan Pemerintahan Prabowo 2026, Ada Bantuan Bulanan Rp1,4 Juta yang Mulai Cair Januari
Penurunan drastis ini memukul banyak trader, termasuk mereka yang sudah lama berada di pasar emas.
Meski begitu, Cella menegaskan bahwa kondisi ini sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda pelemahan sejak emas gagal menembus level resistance penting.
Dalam pemaparannya, Cella menjelaskan bahwa harga emas saat ini berada dalam fase yang tidak biasa.
Sepanjang tahun ini, emas sudah melonjak lebih dari 20.000 pip sejak Januari, dari kisaran 2.600 hingga menyentuh level 4.528.
Lonjakan tajam tersebut belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga membuat analisis berbasis data historis menjadi jauh lebih sulit.
Kenaikan Historis yang Memicu Aksi Ambil Untung
Menurut Cella, penurunan besar yang terjadi bukan disebabkan oleh satu sentimen tunggal, melainkan aksi ambil untung besar-besaran dari investor jangka panjang.
Setelah reli panjang yang luar biasa, banyak pelaku pasar menilai ini sebagai momen yang tepat untuk merealisasikan keuntungan.
Baca Juga: Malam Tahun Baru di Posko Pengungsian Batu Hula Meriah: Warga Cek Kesehatan, Anak-anak Dapat Mainan
Meski terkoreksi tajam, emas tetap dipandang sebagai aset safe haven. Ketika pasar keuangan global diliputi ketidakpastian, emas kerap menjadi tujuan utama investor untuk mengamankan nilai aset mereka.
Faktor Geopolitik Masih Jadi Penggerak Utama
Salah satu faktor yang membuat prospek emas tetap menarik adalah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Klaim Rusia terkait dugaan serangan drone Ukraina ke wilayah sensitif, disusul bantahan dan pernyataan saling bertentangan dari berbagai pihak, memperkeruh situasi global.
Di sisi lain, muncul pula sinyal perdamaian yang belum sepenuhnya jelas. Presiden Ukraina menyebut peluang kesepakatan damai, sementara Donald Trump menyatakan perang bisa berakhir dalam hitungan minggu.
Namun, ketidakpastian arah konflik justru meningkatkan risiko global. Dalam kondisi seperti ini, emas biasanya kembali diburu investor.
Analisis Teknikal: Belum Ada Konfirmasi Bearish
Jika dilihat dari candlestick mingguan, pergerakan harga emas belum menunjukkan sinyal bearish yang kuat.
Penutupan harga masih berada di antara area resistance dan support utama, menandakan bahwa tren turun belum terkonfirmasi secara teknikal.
Pada grafik harian, emas terlihat bergerak dalam kanal netral dengan resistance kuat di area 4.375 dan support di kisaran 4.315.
Baca Juga: KH dan BPNT Januari 2026 Dipastikan Cair, Ini Cara Cek Nama Penerima Bansos Kemensos Lewat HP
Beberapa kali percobaan breakout gagal, yang menyebabkan banyak trader terjebak posisi beli di area atas.
Sementara itu, pada timeframe 4 jam, harga masih menghormati garis tren naik meskipun dengan tekanan yang cukup besar.
Hal ini membuka peluang koreksi lanjutan, namun belum mengubah struktur tren utama secara signifikan.
Level Kunci dan Skenario Perdagangan
Berdasarkan analisis Fibonacci, zona retracement 38,2 persen menjadi area penting yang berpotensi menahan penurunan lanjutan.
Jika area ini bertahan, emas memiliki peluang untuk kembali menguat setelah mengalami koreksi maksimal sekitar 800 pip.
Cella memproyeksikan area masuk beli di sekitar level 4.300 dengan target kenaikan menuju 4.400.
Sementara itu, stop loss disarankan tidak jauh di bawah support kuat di kisaran 4.252 untuk mengantisipasi volatilitas tinggi.
Pasar Emas Masih Sangat Sensitif
Kesimpulan dari analisis ini, harga emas masih sangat sensitif terhadap berita geopolitik dan sentimen global.
Satu kabar besar terkait kesepakatan damai bisa memicu penurunan tajam, sementara eskalasi konflik berpotensi mendorong harga kembali naik.
Setelah pekan yang penuh tekanan, trader diimbau lebih berhati-hati dan disiplin dalam manajemen risiko.
Koreksi tajam seperti ini dinilai wajar dalam dunia trading, terutama pada aset sevolatil emas. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah