TRENGGALEK NJENGGELEK- Reformasi pajak kembali menjadi sorotan utama dalam upaya pemerintah mengamankan dan mengoptimalkan pendapatan negara. Menteri Keuangan menegaskan, pembenahan sektor pajak dan bea cukai dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penataan sumber daya manusia hingga perbaikan sistem teknologi yang selama ini menghambat penerimaan.
Dalam perbincangan terbaru, Menteri Keuangan menilai tantangan terbesar saat ini bukan hanya soal belanja negara, tetapi bagaimana meningkatkan pendapatan negara secara berkelanjutan. Reformasi pajak menjadi kunci, terutama setelah mencuatnya kasus pemecatan sejumlah pegawai pajak yang dinilai tidak amanah dan tidak bekerja optimal.
Menurutnya, penempatan Direktur Jenderal Pajak yang baru menjadi bagian dari strategi awal reformasi pajak. Sosok yang relatif muda dan dinilai belum terkontaminasi praktik lama diharapkan mampu membawa semangat perubahan. Hal serupa juga diterapkan di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, yang kini dipimpin figur berlatar belakang militer dengan pangkat bintang tiga.
Dalam kerangka reformasi pajak, pengawasan menjadi fokus utama. Menteri Keuangan memastikan pengawasan di pelabuhan akan diperketat dengan sistem pemeriksaan acak atau random check. Jalur hijau yang selama ini nyaris tidak pernah diperiksa akan tetap diawasi, meski tanpa mengganggu kelancaran arus barang.
“Beberapa kontainer per hari akan dicek secara acak untuk melihat apakah pengawasan berjalan atau tidak,” ujarnya.
Langkah tegas juga sudah diterapkan di internal pajak. Sejumlah pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran telah diberhentikan. Namun, untuk ke depan, ia menekankan pendekatan yang lebih seimbang antara sanksi dan penghargaan.
Reformasi pajak tidak hanya berbicara soal hukuman. Pemerintah juga menyiapkan insentif bagi pegawai pajak yang berprestasi. Jika kinerja aparat pajak mampu meningkatkan tax ratio, penghargaan dinilai layak diberikan agar motivasi tetap terjaga.
“Kalau dimarahi terus, kerja juga tidak maksimal. Harus ada steak and carrot,” kata Menteri Keuangan.
Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan iklim kerja yang bersih sekaligus produktif, sehingga optimalisasi penerimaan negara bisa tercapai tanpa menimbulkan kegaduhan di masyarakat.
Salah satu kendala serius dalam reformasi pajak adalah gangguan pada sistem Coretax atau Kortex yang berdampak pada pelaporan pajak. Sistem ini sempat membuat penerimaan negara terganggu karena desain yang dinilai kurang rapi di lapisan terdepan.
Menteri Keuangan mengungkapkan, tim ahli IT telah diturunkan untuk memperbaiki sistem tersebut. Fokus perbaikan ada pada desain awal agar alur masuk data lebih lancar, sementara lapisan belakang tetap dijaga keamanannya.
“Dalam dua minggu ke depan seharusnya sudah lancar. Tahun depan tidak boleh ada gangguan lagi,” tegasnya.
Berbeda dari pendekatan sebelumnya, pemerintah menegaskan tidak akan langsung melakukan intensifikasi maupun ekstensifikasi pajak dalam waktu dekat. Reformasi pajak justru diarahkan pada penciptaan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Targetnya, pertumbuhan ekonomi nasional bisa melampaui 6 persen. Dengan ekonomi yang tumbuh kuat, penerimaan pajak diyakini akan meningkat secara alami tanpa perlu menaikkan tarif atau memperluas basis pajak secara agresif.
“Kalau ekonomi tumbuh di atas 6 persen, dipajaki pun orang senang karena uangnya memang bertambah,” ujarnya.
Selain reformasi pajak, pemerintah juga menaruh perhatian pada pembangunan daerah. Salah satu contoh konkret adalah rencana pembangunan jembatan di wilayah perbatasan Kalimantan Utara yang selama ini terisolasi dan bergantung pada Malaysia.
Anggaran pembangunan jembatan tersebut diperkirakan mencapai Rp100–150 miliar dan akan dikoordinasikan lintas kementerian. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mendorong aktivitas ekonomi daerah dan memperluas basis penerimaan negara.
Dengan kombinasi reformasi pajak, perbaikan sistem, pengawasan ketat, dan strategi pro-pertumbuhan, pemerintah optimistis pendapatan negara akan meningkat tanpa mengorbankan stabilitas fiskal.
Editor : Anggi Septiani