JAKARTA – Perdagangan Bursa Efek Indonesia resmi dibuka pada 2 Januari 2026, dan IHSG langsung mencetak penguatan signifikan sebesar 1,17% dengan penutupan di level 8.748.
Salah satu fokus utama investor asing adalah saham Goto, yang menjadi primadona dalam transaksi net buy senilai Rp1,06 triliun.
Kepercayaan investor asing terhadap pasar Indonesia meningkat di awal tahun, didorong ekspektasi stabilitas ekonomi pasca transisi politik yang mulus dan kebijakan pro-pertumbuhan.
Investor asing secara khusus memilih saham Goto, Bumi, dan Dewa sebagai target akumulasi, menandakan sentimen positif terhadap sektor teknologi dan tambang.
Goto: Kinerja Kuartal 3 2025 dan Perubahan Manajemen
Saham Goto menonjol karena proyeksi kinerja yang lebih sehat dibandingkan dua tahun lalu.
Pendapatan perusahaan di kuartal 3 2025 tercatat Rp4,74 triliun, naik 20,67% secara tahunan, meskipun perusahaan masih mencatat kerugian, jumlahnya turun drastis dari Rp1,16 triliun menjadi Rp195,54 miliar.
Hal ini menunjukkan perbaikan dalam pengelolaan keuangan.
Baca Juga: THR dan Gaji ke-13 Guru ASN Dipastikan Cair, Menkeu Tambah DAU Rp7,66 Triliun untuk 333 Pemda
Selain itu, Goto melakukan RUPSLB untuk mengganti jajaran direksi dan komisaris, termasuk penunjukan Hans Patuwo sebagai CEO baru.
Perubahan manajemen ini diharapkan mendorong stabilitas dan pertumbuhan berkelanjutan.
Rumor merger dengan Grab juga mencuat, yang jika terealisasi akan menciptakan Super App tunggal di Indonesia.
Potensi ini bisa berdampak positif pada valuasi saham Goto, tetapi pemerintah tetap menjadi pengawas agar tidak menimbulkan monopoli atau masalah kesejahteraan driver.
Analisis Teknikal Saham Goto
Secara teknikal, saham Goto menunjukkan tren naik sejak November 2025. Harga saham melesat 7,81% pada 2 Januari ke level 69 setelah menyentuh area support di 63.
Indikator RSI berada di atas 50, menandakan momentum bullish yang kuat, sementara stokastik telah golden cross sejak 24 Desember 2025.
Investor disarankan bisa hold saham Goto untuk jangka menengah atau membeli dengan strategi buy on weakness di level harga 67 dengan batas risiko jika closing di bawah 63.
Target pertama diprediksi di harga 75 dan potensi penguatan ke 85.
Bumi dan Dewa: Saham Tambang dan Ekspansi Strategis
Selain Goto, saham Bumi juga menjadi favorit investor asing. Harga saham Bumi naik 270% dalam enam bulan terakhir, terdorong rencana diversifikasi dari batu bara ke emas dan tembaga, termasuk akuisisi tambang di Australia.
Saham ini berpotensi masuk indeks MSCI 2026, yang diprediksi menarik aliran dana asing lebih besar.
Saham Dewa, yang berafiliasi dengan Bumi, juga mengalami penguatan signifikan dengan kenaikan 303% selama enam bulan terakhir.
Baca Juga: MBG Berjalan di Trenggalek, Beragam Respons Pedagang Pasar Subuh
Perusahaan melakukan buyback saham sebesar Rp50 miliar dan mendapat fasilitas pinjaman Rp5 triliun untuk modal kerja dan pembelian alat berat.
Kinerja Dewa yang erat kaitannya dengan proyek Bumi membuat kedua saham saling memengaruhi pergerakannya.
Optimisme Awal Tahun dan Tips Investor
Sentimen positif ini mencerminkan optimisme pasar di awal 2026. Namun, pakar menyarankan investor tetap berhati-hati dan melakukan riset sendiri (DYOR) sebelum mengambil keputusan.
Harga saham bisa berubah cepat, dan strategi trading harus disesuaikan dengan toleransi risiko masing-masing.
Dengan kombinasi fundamental perusahaan, aksi korporasi, dan tren teknikal, saham Goto dan saham terkait seperti Bumi dan Dewa berpotensi memberikan keuntungan jangka menengah hingga panjang bagi investor yang cermat. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah