Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

IHSG Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Tembus Level 8.900 Didorong Saham Komoditas dan Energi!

Adinda Putri Sefiana • Sabtu, 10 Januari 2026 | 14:50 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan menembus level 8.900, tertinggi sepanjang sejarah. Penguatan didorong lonjakan saham komoditas dan energi, seiring sentimen positif pasar dan kenaikan harga global.
Indeks Harga Saham Gabungan menembus level 8.900, tertinggi sepanjang sejarah. Penguatan didorong lonjakan saham komoditas dan energi, seiring sentimen positif pasar dan kenaikan harga global.

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan sejarah baru di awal tahun. Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG menguat 0,64 persen dan bertengger di level 8.933, menjadikannya sebagai level penutupan tertinggi sepanjang masa.

Bahkan secara intraday, IHSG sempat menyentuh level 8.940 sebelum akhirnya ditutup sedikit lebih rendah.

Penguatan IHSG ini menandai sentimen positif pasar modal Indonesia yang masih berlanjut sejak awal tahun.

IHSG dibuka di level 8.890 dan sempat bergerak di zona merah dengan level terendah di 8.839, namun berbalik menguat hingga akhir sesi perdagangan.

Capaian ini mempertegas optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional.

Analis Riset Semesta Indofest Sekuritas, Ncolas Darmawan, menilai penguatan IHSG sejalan dengan membaiknya ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca perubahan kebijakan fiskal dan keuangan di 2025.

Menurutnya, awal tahun 2026 menjadi momentum positif bagi pasar saham.

Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS 2026 Disebut Naik dan Ada Rapelan, TASPEN Kediri Buka Fakta: Masih Mengacu PP 8/2024

Sentimen Global Relatif Kondusif

Ncolas menjelaskan, penguatan IHSG juga didukung oleh kondisi pasar global yang relatif stabil.

Kekhawatiran terkait dinamika geopolitik global, termasuk isu Amerika Serikat dan Venezuela, sejauh ini belum memberikan tekanan berarti terhadap pasar.

“Market global cukup resilien. Untuk saat ini belum ada katalis negatif yang signifikan, sehingga IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan terbatas,” ujarnya.

Ia memproyeksikan IHSG masih berpeluang menguji level psikologis 9.000 dalam waktu dekat.

Baca Juga: Isu Reformasi Pajak dan Pendapatan Negara 2026 Jadi Sorotan, TASPEN Kediri Tegaskan Belum Ada Keputusan Kenaikan Pensiun PNS

Secara konservatif, target IHSG dalam jangka sangat pendek berada di kisaran 8.980 hingga 9.000.

Efek Januari dan Konsumsi Domestik

Menurut Ncolas, penguatan IHSG juga dipengaruhi oleh efek musiman Januari atau January effect.

Ia menilai reli awal tahun kali ini merupakan lanjutan dari pelemahan dan pergerakan sideways yang terjadi pada Desember lalu.

Baca Juga: Gaji PNS dan Pensiunan 2026 Ramai Dibahas, Isu Kenaikan Viral di YouTube Ini Jawaban Tegas TASPEN Kediri

“Santa Claus Rally bisa dibilang tertunda dan baru terealisasi di Januari ini,” jelasnya.

Selain itu, rotasi portofolio investor institusi masih terus berlangsung. Katalis lain yang turut menopang IHSG adalah potensi peningkatan konsumsi domestik menjelang perayaan Imlek dan Lebaran yang waktunya berdekatan.

Saham Komoditas Jadi Penopang Utama

Dari sisi sektoral, saham basic materials menjadi penopang utama penguatan IHSG dengan kenaikan mencapai 3,35 persen. Sektor industri menguat 2,14 persen, disusul sektor energi yang naik 1,62 persen.

Sebaliknya, sektor transportasi dan logistik justru melemah 0,89 persen. Pergerakan ini menunjukkan rotasi sektor masih terjadi, dengan investor cenderung memburu saham berbasis komoditas.

Baca Juga: Rapel dan Kenaikan Pensiun PNS 2025 Ramai Dibicarakan, TASPEN Kediri Tegaskan Belum Ada Keputusan Pemerintah

Saham-saham berbasis emas dan aluminium mencatatkan penguatan signifikan seiring kenaikan harga komoditas global.

Kondisi ini membuat sektor komoditas menjadi primadona di tengah kekhawatiran tekanan pada sektor perbankan.

Perbankan Masih Tertahan

Di sektor perbankan, pergerakan saham terlihat bervariasi. Saham BBCA masih mencatatkan penguatan tipis, sementara BMRI justru terkoreksi cukup dalam.

Ncolas menilai pasar masih berhati-hati terhadap sektor perbankan akibat dampak penurunan suku bunga acuan BI yang agresif pada 2024.

Penurunan suku bunga dinilai berpotensi menekan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan, terutama pada laporan kinerja kuartal IV.

Karena itu, saham perbankan diperkirakan masih bergerak terbatas dalam jangka pendek.

Baca Juga: Viral Hak Pensiunan PNS Meninggal Dunia Disebut Cair Besar, TASPEN Tegaskan Tak Ada Kenaikan Pensiun dan Rapelan Gaji

AMAN dan RAJA Jadi Sorotan

Saham Aneka Tambang Mineral (AMAN) menjadi salah satu top gainers hari ini dengan penguatan lebih dari 10 persen.

Kenaikan ini didorong oleh rebound harga emas serta valuasi saham yang dinilai sudah menarik setelah tekanan panjang sepanjang 2025.

Selain AMAN, saham Raja Ratu Adaro Mineral (RAJA) juga melonjak hingga 16 persen.

Baca Juga: Viral Video Manfaat Pensiun PNS Meninggal Dunia, TASPEN Tegaskan Tak Ada Kenaikan Pensiun dan Rapelan Gaji

Penguatan saham ini dipicu oleh sentimen positif pasca akuisisi aset LNG dan midstream strategis di Jawa Timur yang berpotensi mulai berkontribusi pada kinerja keuangan tahun ini.

Indeks Lain Bergerak Variatif

Sementara itu, indeks LQ45 menguat 0,61 persen mengikuti pergerakan IHSG. Jakarta Islamic Index bergerak stagnan, sedangkan MNC36 melemah tipis 0,08 persen.

Dengan IHSG yang kembali mencetak rekor tertinggi, pelaku pasar kini menanti keberlanjutan tren penguatan di tengah rotasi sektor dan minimnya sentimen negatif global.

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#indeks harga saham gabungan #saham energi #saham komoditas #ihsg #pasar modal indonesia