JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan sejarah baru di awal tahun. Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG menguat 0,64 persen dan bertengger di level 8.933, menjadikannya sebagai level penutupan tertinggi sepanjang masa.
Bahkan secara intraday, IHSG sempat menyentuh level 8.940 sebelum akhirnya ditutup sedikit lebih rendah.
Penguatan IHSG ini menandai sentimen positif pasar modal Indonesia yang masih berlanjut sejak awal tahun.
IHSG dibuka di level 8.890 dan sempat bergerak di zona merah dengan level terendah di 8.839, namun berbalik menguat hingga akhir sesi perdagangan.
Capaian ini mempertegas optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional.
Analis Riset Semesta Indofest Sekuritas, Ncolas Darmawan, menilai penguatan IHSG sejalan dengan membaiknya ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca perubahan kebijakan fiskal dan keuangan di 2025.
Menurutnya, awal tahun 2026 menjadi momentum positif bagi pasar saham.
Sentimen Global Relatif Kondusif
Ncolas menjelaskan, penguatan IHSG juga didukung oleh kondisi pasar global yang relatif stabil.
Kekhawatiran terkait dinamika geopolitik global, termasuk isu Amerika Serikat dan Venezuela, sejauh ini belum memberikan tekanan berarti terhadap pasar.
“Market global cukup resilien. Untuk saat ini belum ada katalis negatif yang signifikan, sehingga IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan terbatas,” ujarnya.
Ia memproyeksikan IHSG masih berpeluang menguji level psikologis 9.000 dalam waktu dekat.
Secara konservatif, target IHSG dalam jangka sangat pendek berada di kisaran 8.980 hingga 9.000.
Efek Januari dan Konsumsi Domestik
Menurut Ncolas, penguatan IHSG juga dipengaruhi oleh efek musiman Januari atau January effect.
Ia menilai reli awal tahun kali ini merupakan lanjutan dari pelemahan dan pergerakan sideways yang terjadi pada Desember lalu.
“Santa Claus Rally bisa dibilang tertunda dan baru terealisasi di Januari ini,” jelasnya.
Selain itu, rotasi portofolio investor institusi masih terus berlangsung. Katalis lain yang turut menopang IHSG adalah potensi peningkatan konsumsi domestik menjelang perayaan Imlek dan Lebaran yang waktunya berdekatan.
Saham Komoditas Jadi Penopang Utama
Dari sisi sektoral, saham basic materials menjadi penopang utama penguatan IHSG dengan kenaikan mencapai 3,35 persen. Sektor industri menguat 2,14 persen, disusul sektor energi yang naik 1,62 persen.
Sebaliknya, sektor transportasi dan logistik justru melemah 0,89 persen. Pergerakan ini menunjukkan rotasi sektor masih terjadi, dengan investor cenderung memburu saham berbasis komoditas.
Saham-saham berbasis emas dan aluminium mencatatkan penguatan signifikan seiring kenaikan harga komoditas global.
Kondisi ini membuat sektor komoditas menjadi primadona di tengah kekhawatiran tekanan pada sektor perbankan.
Perbankan Masih Tertahan
Di sektor perbankan, pergerakan saham terlihat bervariasi. Saham BBCA masih mencatatkan penguatan tipis, sementara BMRI justru terkoreksi cukup dalam.
Ncolas menilai pasar masih berhati-hati terhadap sektor perbankan akibat dampak penurunan suku bunga acuan BI yang agresif pada 2024.
Penurunan suku bunga dinilai berpotensi menekan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan, terutama pada laporan kinerja kuartal IV.
Karena itu, saham perbankan diperkirakan masih bergerak terbatas dalam jangka pendek.
AMAN dan RAJA Jadi Sorotan
Saham Aneka Tambang Mineral (AMAN) menjadi salah satu top gainers hari ini dengan penguatan lebih dari 10 persen.
Kenaikan ini didorong oleh rebound harga emas serta valuasi saham yang dinilai sudah menarik setelah tekanan panjang sepanjang 2025.
Selain AMAN, saham Raja Ratu Adaro Mineral (RAJA) juga melonjak hingga 16 persen.
Penguatan saham ini dipicu oleh sentimen positif pasca akuisisi aset LNG dan midstream strategis di Jawa Timur yang berpotensi mulai berkontribusi pada kinerja keuangan tahun ini.
Indeks Lain Bergerak Variatif
Sementara itu, indeks LQ45 menguat 0,61 persen mengikuti pergerakan IHSG. Jakarta Islamic Index bergerak stagnan, sedangkan MNC36 melemah tipis 0,08 persen.
Dengan IHSG yang kembali mencetak rekor tertinggi, pelaku pasar kini menanti keberlanjutan tren penguatan di tengah rotasi sektor dan minimnya sentimen negatif global.
Editor : Didin Cahya Firmansyah