JAKARTA - Nilai tukar rupiah di Indonesia kembali menjadi sorotan seiring pergerakan pasar keuangan domestik yang menunjukkan sinyal positif.
Rupiah di Indonesiamenguat dinilai hanya tinggal menunggu waktu, seiring fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai semakin solid.
Optimisme ini disampaikan oleh Purubaya, yang menekankan bahwa penguatan rupiah di Indonesia sangat bergantung pada kondisi ekonomi makro dan arus dana asing.
Dalam pernyataannya, Purubaya menyoroti posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup di level 9.133 pada perdagangan terbaru.
Capaian tersebut dinilai bukan sekadar angka, melainkan indikator kuat bahwa kepercayaan investor, khususnya asing, terhadap ekonomi Indonesia masih terjaga.
Dengan kondisi ini, rupiah menguat dinilai sebagai keniscayaan, bukan sekadar harapan.
“Rupiah itu tergantung fundamental ekonominya,” ujar Purubaya. Ia menegaskan bahwa lonjakan IHSG ke level tinggi hampir mustahil terjadi jika hanya didorong oleh investor domestik.
Artinya, ada aliran modal asing yang signifikan masuk ke pasar modal Indonesia. Masuknya dana asing tersebut pada akhirnya akan meningkatkan suplai dolar di dalam negeri dan mendorong rupiah menguat secara alami.
IHSG 9.133 Jadi Sinyal Kuat Arus Dana Asing
Purubaya menjelaskan bahwa kenaikan IHSG ke level 9.133 mencerminkan kepercayaan global terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Menurutnya, tidak mungkin indeks saham bergerak setinggi itu tanpa dukungan aliran dana asing yang kuat dan berkelanjutan.
“Kalau indeks naik ke level seperti itu, pasti ada flow asing yang masuk. Enggak mungkin domestik sendiri yang bisa mendorong sampai ke sana,” jelasnya.
Baca Juga: Gaji ke-13 dan THR ASN 2026 Ramai Disebut Capai Puluhan Juta, Ini Fakta Besaran dan Jadwal Cairnya
Arus dana asing ini menjadi kunci utama bertambahnya suplai valuta asing, terutama dolar AS, di pasar domestik.
Dengan suplai dolar yang meningkat, tekanan terhadap nilai tukar rupiah otomatis berkurang.
Dalam kondisi tersebut, pasar akan menemukan keseimbangan baru yang lebih kuat, sehingga nilai tukar rupiah berpeluang kembali menguat secara bertahap namun konsisten.
Spekulasi Pasar Tak Goyahkan Fondasi Ekonomi
Purubaya juga menyinggung adanya spekulasi pasar yang sempat memicu volatilitas rupiah.
Salah satu isu yang berkembang adalah kekhawatiran sebagian pelaku pasar terhadap independensi kebijakan ke depan.Namun ia menilai kekhawatiran tersebut berlebihan dan tidak berdasar.
“Ini mungkin sebagian spekulasi saja. Orang berpikir nanti independensinya hilang, saya pikir enggak akan begitu,” tegasnya.
Menurut Purubaya, ketika pelaku pasar menyadari bahwa kekhawatiran tersebut tidak terbukti, sentimen negatif akan mereda dengan sendirinya.
Ia meyakini bahwa saat spekulasi rupiah di Indonesia tersebut “insaf”, rupiah akan kembali menguat.
Hal ini didukung oleh fondasi ekonomi nasional yang terus dijaga agar tetap sehat dan kredibel di mata investor global.
Pertumbuhan Ekonomi Jadi Penopang Utama Rupiah
Lebih jauh, Purubaya optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan akan semakin cepat.
Akselerasi pertumbuhan ini menjadi faktor penopang penting bagi stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka menengah hingga panjang.
Pertumbuhan ekonomi yang solid akan meningkatkan aktivitas investasi, memperluas basis produksi, dan memperkuat neraca eksternal.
Kondisi ini pada akhirnya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penguatan rupiah secara berkelanjutan.
Dengan kombinasi arus dana asing yang deras, IHSG yang mencetak rekor, serta fundamental ekonomi yang terjaga, Purubaya menilai stabilitas rupiah berada di jalur yang tepat.
Pasar hanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri sebelum penguatan rupiah benar-benar terefleksikan secara penuh.
Optimisme ini menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar dan masyarakat luas, bahwa gejolak jangka pendek tidak serta-merta mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sesungguhnya. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah