TRENGGALEK NJENGGELEK-Isra Mikraj Nabi Muhammad merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Perjalanan luar biasa ini tidak hanya sarat mukjizat, tetapi juga menjadi titik balik penguatan iman Rasulullah SAW dan umat Islam di tengah tekanan berat kaum Quraisy di Makkah.
Pada masa awal dakwah, Rasulullah SAW menghadapi penolakan keras dari para pemimpin Quraisy. Ajaran tauhid dianggap mengancam tatanan sosial dan ekonomi mereka. Meski demikian, Rasulullah tetap berdakwah dengan penuh kesabaran. Tekanan kemudian dialihkan kepada para pengikut Islam, khususnya kaum miskin dan budak yang disiksa secara kejam.
Dalam situasi penuh penindasan itu, Allah SWT menurunkan perintah hijrah. Isra Mikraj Nabi Muhammad didahului dengan anjuran hijrah ke Habasyah, negeri yang dipimpin Raja Najasyi yang adil dan bijaksana. Bumi yang luas, sebagaimana firman Allah, selalu menyediakan tempat aman bagi kaum beriman.
Rasulullah sendiri tetap bertahan di Makkah dengan perlindungan pamannya, Abu Thalib. Meski belum memeluk Islam, Abu Thalib menjadi tameng utama Rasulullah dari ancaman fisik kaum Quraisy. Namun, perlindungan itu berakhir ketika Abu Thalib wafat, disusul kepergian istri tercinta Siti Khadijah.
Tahun wafatnya Abu Thalib dan Siti Khadijah dikenal sebagai Amul Huzni atau tahun kesedihan. Rasulullah kehilangan pelindung dan pendamping setia. Penghinaan dan kekerasan kaum Quraisy semakin menjadi-jadi. Dalam kondisi itu, Rasulullah mencoba mencari perlindungan ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah.
Namun, harapan itu berujung kekecewaan. Penduduk Thaif justru mengusir Rasulullah dan melempari beliau dengan batu hingga terluka. Peristiwa ini menjadi salah satu titik terendah dalam perjalanan dakwah Rasulullah.
Di tengah kesedihan mendalam itulah Allah SWT menunjukkan kebesaran-Nya melalui Isra Mikraj Nabi Muhammad. Suatu malam, Malaikat Jibril datang membersihkan hati Rasulullah dengan air zamzam, lalu mengisinya dengan iman dan hikmah.
Rasulullah kemudian menaiki Buraq, kendaraan putih bersayap yang melaju sangat cepat. Perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa inilah yang disebut Isra. Setibanya di Masjidil Aqsa, Rasulullah melaksanakan salat dua rakaat.
Dari Masjidil Aqsa, perjalanan dilanjutkan ke langit bersama Malaikat Jibril. Perjalanan ini disebut Mikraj. Rasulullah bertemu para nabi di setiap lapisan langit, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Ibrahim, sebelum akhirnya sampai di Sidratul Muntaha dan bertemu Allah SWT.
Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad terjadi pada 27 Rajab tahun 621 Masehi dan berlangsung hanya dalam satu malam, meski menempuh jarak yang mustahil menurut logika manusia.
Salah satu karunia terbesar dalam Isra Mikraj adalah perintah salat. Awalnya, Allah mewajibkan salat 50 kali sehari. Atas saran Nabi Musa, Rasulullah beberapa kali memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu.
Meski jumlahnya berkurang, pahala salat lima waktu tetap setara dengan 50 kali. Salat menjadi satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah tanpa perantara wahyu di bumi.
Sekembalinya ke Makkah, Rasulullah menceritakan peristiwa Isra Mikraj. Kaum Quraisy, termasuk Abu Jahal, kembali mengejek dan menuduh Rasulullah berdusta. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung membenarkan kisah tersebut tanpa ragu.
Sikap inilah yang membuat Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq, orang yang selalu membenarkan Rasulullah. Keimanan kaum muslimin pun semakin kokoh meski perjuangan masih panjang.
Peristiwa Isra Mikraj mengajarkan umat Islam tentang kesabaran, keimanan, dan pentingnya menjaga salat lima waktu sebagai tiang agama.
Editor : Anggi Septiani