TRENGGALEK NJENGGELEK - Isra Mikraj Nabi Muhammad bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga menembus langit ketujuh. Peristiwa agung ini menyimpan pesan mendalam tentang makna salat sebagai ibadah paling istimewa yang menghubungkan langsung seorang hamba dengan Allah SWT.
Dalam kisah Isra Mikraj Nabi Muhammad, Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, lalu dinaikkan hingga Sidratul Muntaha. Di tempat yang sangat mulia itu, Rasulullah menerima wahyu perintah salat secara langsung tanpa perantara. Inilah keistimewaan salat dibanding ibadah lainnya seperti puasa, zakat, dan haji yang diwajibkan ketika Rasulullah masih berada di bumi.
Peristiwa ini menegaskan bahwa Isra Mikraj Nabi Muhammad adalah momentum penguatan hubungan spiritual antara manusia dengan Sang Pencipta. Salat menjadi simbol dialog langsung antara hamba dan Allah, sebagaimana Rasulullah berdialog dengan-Nya dalam perjalanan Mikraj.
Salat disebut sebagai ibadah paling istimewa karena di dalamnya seorang muslim seolah melakukan Isra Mikraj kecil setiap hari. Ketika berdiri, rukuk, dan sujud, seorang hamba sedang memperbaharui ikatan dengan Allah SWT. Tanpa salat, hubungan itu perlahan melemah dan membuat manusia semakin jauh dari Tuhannya.
Dalam salat, terdapat dialog simbolik yang sangat dalam. Rasulullah mengajarkan bahwa salat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan pertemuan batin antara hamba dan Allah. Kesadaran inilah yang menjadikan salat sebagai sumber ketenangan dan kekuatan iman.
Salah satu bagian paling penting dalam salat adalah tasyahud atau attahiyat. Di sinilah seorang hamba menyampaikan salam kepada Allah dengan lafaz “Attahiyatul mubarakatus shalawatuth thayyibatulillah.” Salam ini bukan sekadar ucapan, melainkan bentuk penghormatan dan penghambaan total kepada Allah SWT.
Berbeda dengan salam antar manusia, salam kepada Allah tidak menggunakan “Assalamualaikum ya Allah”. Allah adalah As-Salam itu sendiri. Karena itu, salam terbaik yang diajarkan kepada Rasulullah adalah attahiyat, salam yang penuh keberkahan dan keagungan.
Dalam konteks Isra Mikraj Nabi Muhammad, tasyahud menggambarkan dialog Rasulullah dengan Allah di Sidratul Muntaha. Setiap kali seorang muslim membaca attahiyat dalam salat, ia sedang meneladani dialog agung tersebut.
Setelah salam kepada Allah, seorang muslim diperintahkan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini menunjukkan kemuliaan Rasulullah sebagai hamba terkasih Allah. Bahkan, salat tidak dianggap sempurna tanpa shalawat kepada Nabi.
Ini menjadi pelajaran penting bahwa ibadah kepada Allah harus disertai kecintaan kepada Rasulullah. Ulama pun menegaskan pentingnya memperbanyak shalawat dan mengikuti sunnah Nabi agar ibadah tidak kosong secara makna.
Salam kepada Nabi dalam tasyahud menggunakan lafaz “Assalamu’alaika ayyuhan nabi”, seolah-olah seorang muslim sedang berhadapan langsung dengan Rasulullah. Keyakinan ini memperkuat kekhusyukan dan menghadirkan rasa kedekatan spiritual.
Salat tidak berhenti pada hubungan dengan Allah dan Rasulullah. Setelah itu, seorang muslim mengucapkan salam kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Ini menjadi penegasan bahwa ibadah yang benar harus berdampak pada hubungan sosial.
Seseorang yang rajin salat, puasa, dan ibadah sunnah, tetapi hatinya penuh dengki, ghibah, dan permusuhan, dinilai rapuh secara spiritual. Isra Mikraj Nabi Muhammad mengajarkan kebersihan hati sebagai kunci utama keimanan.
Ketika peristiwa Isra Mikraj disampaikan, Abu Jahal meragukannya. Namun Abu Bakar langsung membenarkan tanpa ragu. Bahkan ketika mendengar Rasulullah naik ke langit ketujuh, Abu Bakar tetap percaya sepenuhnya.
Sikap inilah yang membuat Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq. Keimanan yang lahir dari hati yang bersih menjadikannya teladan sepanjang masa.
Isra Mikraj Nabi Muhammad bukan untuk diukur dengan logika semata. Peristiwa ini adalah ilmu iman dan ilmu hati. Allah yang menguasai waktu dan tempat mampu memperjalankan Rasulullah dalam satu malam melampaui batas nalar manusia.
Pesan terbesarnya jelas: salat adalah kunci utama menjaga hubungan dengan Allah, Rasulullah, dan sesama manusia. Tanpa salat yang hidup, iman akan perlahan mengering.
Editor : Anggi Septiani