TRENGGALEK NJENGGELEK-Isra Mikraj Nabi Muhammad merupakan puncak perjalanan spiritual Rasulullah SAW yang sarat dengan keagungan, rahasia langit, serta penetapan kewajiban salat bagi umat Islam. Dalam lanjutan kisah Isra Mikraj, Nabi Muhammad SAW diangkat hingga Sidratul Muntaha, tempat tertinggi yang menjadi batas akhir makhluk Allah.
Sidratul Muntaha digambarkan sebagai pohon yang sangat besar dan indah. Akarnya berada di langit keenam, sementara ranting dan puncaknya menembus langit ketujuh. Dari bawahnya mengalir sungai-sungai luar biasa yang tidak pernah berubah rasa, warna, dan baunya. Dalam kisah Isra Mikraj Nabi Muhammad, Sidratul Muntaha menjadi simbol kemuliaan tertinggi yang tidak dapat dilampaui makhluk mana pun, termasuk para malaikat.
Dari akar Sidratul Muntaha mengalir empat sungai. Dua sungai batin yang berada di surga, serta dua sungai zahir yang mengalir di dunia, yakni Sungai Nil dan Sungai Eufrat. Dalam riwayat lain disebutkan pula mata air Salsabila, yang darinya mengalir Sungai Al-Kautsar, sungai istimewa yang dianugerahkan Allah kepada Rasulullah SAW.
Dalam perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad, Rasulullah menyaksikan Sungai Al-Kautsar mengalir deras, airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih harum dari minyak kasturi. Di sekelilingnya berdiri kemah-kemah dari mutiara, yaqut, dan zamrud. Burung-burung hijau yang sangat indah bertengger di sekitarnya, pemandangan yang belum pernah dilihat mata manusia.
Rasulullah meminum air Al-Kautsar dari bejana emas dan perak. Malaikat Jibril menjelaskan bahwa sungai tersebut merupakan hadiah khusus dari Allah untuk Rasulullah. Nabi juga mandi di sungai lainnya, yang dengannya Allah mengampuni dosa-dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang.
Rasulullah kemudian diperlihatkan surga dengan segala kenikmatannya. Di pintu surga tertulis bahwa sedekah diganjar sepuluh kali lipat, sementara memberi utang diganjar delapan belas kali lipat. Penjelasan ini menunjukkan keutamaan menolong orang yang benar-benar membutuhkan.
Selain surga, Nabi Muhammad SAW juga diperlihatkan neraka, tempat kemurkaan Allah. Rasulullah menyaksikan kaum yang memakan bangkai manusia, yang dijelaskan sebagai orang-orang yang gemar menggunjing dan memakan kehormatan sesama. Beliau juga melihat Malaikat Malik, penjaga neraka, yang wajahnya penuh ketegasan dan tidak pernah tersenyum sejak diciptakan.
Dalam Isra Mikraj Nabi Muhammad, neraka menjadi peringatan nyata bahwa setiap amal perbuatan manusia akan mendapatkan balasan setimpal. Gambaran ini dimaksudkan sebagai pelajaran bagi umat agar menjaga lisan, hati, dan perilaku.
Puncak Isra Mikraj terjadi ketika Rasulullah diperkenankan bersujud dan berdialog langsung dengan Allah SWT. Dalam dialog tersebut, Allah menegaskan kemuliaan Nabi Muhammad sebagai Habibullah, kekasih-Nya. Allah juga menyampaikan berbagai karunia, termasuk keutamaan umat Islam sebagai umat terbaik dan umat yang moderat.
Pada momen inilah Allah mewajibkan salat sebanyak 50 kali sehari semalam bagi Rasulullah dan umatnya. Kewajiban ini menunjukkan betapa pentingnya salat sebagai ibadah utama yang langsung diperintahkan di langit, bukan di bumi.
Dalam perjalanan turun, Rasulullah bertemu Nabi Musa AS. Mendengar kewajiban 50 salat, Nabi Musa menyarankan agar Rasulullah memohon keringanan karena umat manusia tidak akan mampu. Rasulullah pun bolak-balik menghadap Allah hingga kewajiban salat dikurangi menjadi lima waktu.
Meski hanya lima waktu, pahalanya tetap setara dengan 50 salat. Allah menegaskan bahwa ketetapan-Nya tidak berubah dan setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya.
Isra Mikraj Nabi Muhammad bukan sekadar kisah perjalanan menembus langit, melainkan pelajaran iman, ketaatan, dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Peristiwa ini menegaskan bahwa salat adalah penghubung utama antara manusia dan Allah, serta menjadi fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim.
Editor : Anggi Septiani