JAKARTA - Virus Nipah kembali menjadi sorotan dunia kesehatan internasional setelah para ahli mengingatkan tingginya tingkat kematian akibat infeksi virus mematikan ini.
Berdasarkan sejumlah penelitian medis, tingkat kematian akibat Virus Nipah atau NPA (Nipah Virus Associated disease) berkisar antara 73 hingga 91 persen, menjadikannya salah satu penyakit zoonosis paling berbahaya di dunia.
Virus Nipah merupakan virus yang secara alami beredar di tubuh kelelawar buah. Menariknya, kelelawar sebagai inang alami tidak menunjukkan gejala sakit atau kematian.
Namun, ketika manusia melakukan kontak langsung maupun tidak langsung dengan kelelawar—misalnya melalui makanan atau lingkungan yang terkontaminasi—virus ini dapat meloncat dan menginfeksi manusia.
Gejala Awal Virus Nipah yang Sering Diabaikan
Pada fase awal, gejala Virus Nipah kerap menyerupai penyakit infeksi biasa. Penderita umumnya mengalami demam, nyeri tubuh, serta sakit kepala.
Karena gejalanya tidak spesifik, banyak kasus Nipah Virus yang tidak langsung terdeteksi.
Masalah muncul ketika infeksi berkembang menjadi lebih serius. Pada sebagian pasien, virus menyerang otak dan menyebabkan radang otak (ensefalitis).
Kondisi ini dapat memicu kejang, epilepsi, kebingungan, kelumpuhan, hingga koma.
Dalam beberapa kasus lain, virus menyerang paru-paru dan menyebabkan pneumonia berat yang juga berisiko fatal.
Diagnosis Sulit dan Sering Terlambat
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan Virus Nipah adalah kesulitan diagnosis.
Gejalanya mirip dengan infeksi virus lain yang menyerang otak, sehingga Nipah sering tidak diuji secara spesifik sejak awal.
Tak jarang, pasien pertama yang terinfeksi sudah berada dalam kondisi sangat kritis atau bahkan meninggal dunia sebelum diagnosis ditegakkan.
Situasi ini berbahaya karena pasien tersebut berpotensi telah menularkan virus ke orang lain tanpa disadari.
Virus Nipah Bisa Menular Antar Manusia
Berbeda dengan banyak virus zoonosis lain, Virus Nipah dapat menyebar dari manusia ke manusia.
Penularan biasanya terjadi melalui kontak sangat dekat, terutama paparan cairan tubuh seperti air liur, muntahan, atau cairan pernapasan.
Tenaga medis seperti dokter dan perawat, serta anggota keluarga yang merawat pasien di rumah, termasuk kelompok paling berisiko tertular.
Beberapa wabah Virus Nipah di masa lalu menunjukkan penularan di lingkungan rumah sakit akibat kurangnya perlindungan standar.
Pentingnya Isolasi dan Pelacakan Kontak
Para ahli menegaskan bahwa ada tiga langkah krusial dalam menekan penyebaran Virus Nipah.
Pertama, diagnosis dini. Kedua, isolasi ketat pasien. Ketiga, penerapan standar perlindungan seperti penggunaan masker dan sarung tangan.
Selain itu, pelacakan kontak (contact tracing) memegang peran sangat penting. Setiap orang yang pernah melakukan kontak dekat dengan pasien harus dipantau secara ketat.
Meski Virus Nipah tidak menyebar secepat COVID-19, tingkat kematiannya yang sangat tinggi membuat setiap kasus menjadi ancaman serius.
Belum Ada Obat dan Vaksin Virus Nipah
Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus maupun vaksin yang efektif untuk Virus Nipah.
Penanganan pasien hanya bersifat suportif, yakni membantu fungsi tubuh agar tetap stabil.
Karena itu, pencegahan menjadi kunci utama. Membatasi kontak dengan hewan liar, menjaga kebersihan makanan, serta menerapkan prosedur kesehatan yang ketat di fasilitas medis menjadi langkah paling efektif untuk mencegah wabah meluas.
Virus Nipah Termasuk Penyakit Zoonosis Berbahaya
Virus Nipah termasuk dalam kelompok penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Contoh zoonosis lain yang sudah dikenal luas adalah rabies.
Meski mekanisme penularannya berbeda, keduanya sama-sama berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat.
Para pakar kesehatan global terus mengingatkan bahwa kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis seperti Virus Nipah sangat penting, terutama di tengah meningkatnya interaksi manusia dengan satwa liar dan perubahan lingkungan.(*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah