JAKARTA – Indonesia dikenal sebagai negeri cincin api dengan ratusan gunung berapi aktif.
Di balik keindahan dan kesuburan tanahnya, tersimpan catatan kelam berupa kumpulan letusan gunung paling mengerikan di Indonesia yang menelan puluhan ribu korban jiwa dan bahkan mengubah sejarah dunia.
Salah satu tragedi yang masih membekas adalah letusan Gunung Marapi di Sumatera Barat pada 1979.
Gunung yang dikenal ramah bagi pendaki ini tiba-tiba meletus tanpa peringatan jelas.
Langit mendadak gelap, hujan abu dan batuan panas turun bersamaan dengan lahar dingin yang melaju cepat.
Sekitar 80 orang meninggal dunia karena terjebak serangan dari udara dan darat secara bersamaan.
Karakter letusan freatik Marapi yang sulit diprediksi membuat sistem peringatan dini kala itu gagal berfungsi optimal.
Desa Hilang Ditelan Gunung Api
Dalam daftar kumpulan letusan gunung paling mengerikan di Indonesia, tragedi Gunung Gamalama di Ternate tahun 1775 menjadi salah satu yang paling ekstrem.
Letusan ini menyebabkan Desa Soasio amblas dan hilang dari peta hanya dalam semalam.
Diperkirakan 1.300 orang tewas ketika lereng gunung runtuh akibat tekanan magma yang keluar melalui sisi gunung atau flank eruption.
Bekas amblasannya kini dikenal sebagai Danau Tolire, saksi bisu hilangnya sebuah peradaban.
Baca Juga: Kisah Nabi Isa, Khidir, Ilyas, dan Idris yang Jarang Dibahas
Bali juga pernah berduka saat Gunung Agung meletus pada 1963.
Letusan besar ini menewaskan sedikitnya 1.148 orang dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Aliran awan panas meluncur cepat ke pemukiman, sementara hujan abu menyelimuti Pulau Dewata hingga ke Jawa Timur.
Letusan ini bahkan berdampak global dengan menurunkan suhu bumi akibat sebaran aerosol sulfur di atmosfer.
Merapi dan Papandayan: Amukan dari Jawa
Gunung Merapi, ikon Jawa Tengah, mencatat tragedi terparahnya pada 1930.
Runtuhnya kubah lava memicu awan panas besar yang meratakan puluhan desa.
Sebanyak 1.369 orang meninggal dunia, menjadikannya salah satu letusan Merapi paling mematikan sepanjang sejarah.
Tak kalah dahsyat, Gunung Papandayan di Garut meletus pada 1772 dan menyebabkan puncaknya runtuh.
Longsoran material panas menewaskan sekitar 2.957 orang dan mengubur 40 desa.
Letusan tipe debris avalanche ini mengubah bentuk gunung secara permanen dan menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar di Nusantara.
Galunggung, Awu, dan Kelud yang Mematikan
Letusan Gunung Galunggung tahun 1822 menelan 4.011 korban jiwa.
Kombinasi awan panas dan lahar panas dari danau kawah membuat ratusan desa di Tasikmalaya hancur dalam waktu singkat.
Gunung Awu di Kepulauan Sangihe juga dikenal sangat mematikan, dengan letusan 1856 yang menewaskan lebih dari 2.000 orang akibat lahar panas bercampur air kawah.
Namun, Gunung Kelud di Jawa Timur mencatat korban terbesar pada 1919.
Tumpahan air danau kawah yang berubah menjadi lahar panas raksasa menewaskan sekitar 5.110 orang.
Tragedi ini mendorong lahirnya sistem pengendalian air kawah sebagai langkah mitigasi bencana di Indonesia.
Krakatau dan Tambora: Dampak Global
Letusan Gunung Krakatau 1883 menjadi salah satu yang paling terkenal di dunia.
Tsunami setinggi 40 meter menyapu pesisir Banten dan Lampung, menewaskan lebih dari 36.000 orang.
Suara letusannya terdengar hingga ribuan kilometer, dan suhu bumi turun selama beberapa tahun.
Puncaknya adalah letusan Gunung Tambora tahun 1815, raja dari kumpulan letusan gunung paling mengerikan di Indonesia.
Sekitar 71.000 orang tewas akibat awan panas, kelaparan, dan penyakit.
Abu Tambora memicu “tahun tanpa musim panas” di Eropa dan Amerika, menjadikannya letusan gunung paling berdampak dalam sejarah modern.
Rangkaian peristiwa ini menjadi pengingat bahwa hidup berdampingan dengan gunung api menuntut kewaspadaan, ilmu pengetahuan, dan kesiapsiagaan agar tragedi serupa tak kembali terulang.
Editor : Eka Putri Wahyuni