JAKARTA - Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan terakhir membuat banyak investor stres melihat nilai portofolionya tergerus.
IHSG anjlok usai pengumuman MSCI dengan koreksi mencapai 6,94 persen hanya dalam satu minggu, bahkan sempat memicu trading halt hingga dua kali.
Situasi ini diperparah oleh pengunduran diri sejumlah pejabat penting di sektor pasar modal, yang semakin menambah ketidakpastian di pasar saham Indonesia.
Chief Economist and Investment Strategist Manulife Asset Management Indonesia yaitu Katarina Setiawan.
Kini ia menjelaskan bahwa gejolak pasar tersebut bersifat jangka pendek dan dipicu oleh hasil review MSCI pada 28 Januari 2026.
Dalam pengumumannya, MSCI menyoroti lemahnya transparansi data free float saham di Indonesia, yang menjadi sumber utama kekhawatiran investor global.
MSCI Soroti Transparansi Free Float Saham Indonesia
Dalam review tersebut, MSCI mengambil tiga keputusan penting. Pertama, MSCI tidak melakukan perubahan data free float untuk saham-saham yang saat ini sudah masuk indeks.
Kedua, tidak ada penambahan saham - saham baru ke dalam indeks MSCI Indonesia.
Ketiga, tidak dilakukan migrasi saham antar kategori ukuran, baik dari small cap ke standard maupun sebaliknya.
Keputusan ini bersifat sementara. MSCI memberikan waktu hingga Mei 2026 bagi otoritas dan pelaku pasar Indonesia untuk memperbaiki transparansi data free float.
Namun, ketidakpastian inilah yang membuat IHSG anjlok usai pengumuman MSCI, karena pasar khawatir terhadap skenario terburuk.
Risiko Indonesia Turun Kelas dari Emerging Market
Jika melalalui perbaikan ini tidak dilakukan secara memadai, MSCI ini memiliki dua opsi.
Yang pertama, menurunkan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Market.
Kedua, skenario yang lebih ekstrem, yaitu menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
Pada kedua opsi ini berpotensi memicu arus keluar dana asing secara besar-besaran.
“Kondisi inilah yang memicu kepanikan dan aksi jual masif di pasar saham,” ujar Katarina Setiawan.
Padahal, menurutnya, MSCI sejatinya memberikan ruang bagi Indonesia untuk memperbaiki tata kelola pasar modal.
Fundamental Saham Jadi Kunci di Tengah Volatilitas
Di tengah tekanan pasar, Katarina menilai investor akan kembali fokus pada saham-saham berfundamental kuat.
Saham dengan arus kas sehat, valuasi menarik, dan kinerja bisnis solid berpeluang menjadi pemenang setelah volatilitas mereda.
Saham-saham pasar ini berbasis momentum yang justru akan semakin ditinggalkan.
Sektor yang dinilai menarik antara lain consumer staples, material, dan perbankan.
Stimulus pemerintah yang besar untuk menjaga daya beli masyarakat menjadi angin segar bagi sektor konsumsi.
Sementara itu, sektor perbankan menawarkan valuasi yang semakin menarik dengan dividen yield tinggi dan likuiditas yang membaik.
IHSG Berpotensi Menguat, Ini Proyeksi Nilai Wajarnya
Terlepas dari isu MSCI, prospek pasar saham Indonesia tahun ini dinilai tetap positif.
Katarina memproyeksikan nilai wajar IHSG berada di level 9.500 pada akhir tahun, dengan asumsi price to earnings ratio (PER) 14 kali.
Dengan pertumbuhan laba emiten 8 persen, serta yield obligasi pemerintah 10 tahun di kisaran 6,25 persen.
Penurunan suku bunga, stimulus fiskal yang ekspansif, serta perbaikan pertumbuhan ekonomi menjadi katalis utama penguatan IHSG ke depan.
Selain itu, arus dana asing juga mulai kembali masuk sejak Oktober hingga Desember lalu, didorong oleh valuasi saham yang dinilai masih masuk akal.
Diversifikasi Jadi Strategi Aman Investor
Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, investor disarankan untuk melakukan diversifikasi aset.
Obligasi dinilai tetap menarik di tengah tren suku bunga rendah, sementara saham berfundamental kuat layak dikoleksi untuk jangka menengah hingga panjang.
Pemerintah, OJK, dan BEI juga telah berkomitmen melakukan perbaikan data free float.
Menaikkan batas minimum free float IPO menjadi 15 persen, serta memperkuat peran investor institusi domestik.
Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjaga status Indonesia sebagai emerging market dan mengembalikan kepercayaan investor. (*)
Editor : Amalia Rizky Indah Permadani