JAKARTA - Minat masyarakat terhadap mesin kopi rumahan makin tinggi, terutama di kelas harga terjangkau. Salah satu yang belakangan ramai dibicarakan adalah mesin kopi Xiaomi yang disebut-sebut punya desain compact, tampilan modern, dan fitur cukup lengkap untuk pemula. Namun, pertanyaannya: apakah benar mesin kopi Xiaomi layak dibeli setelah dipakai rutin?
Seorang kreator konten kopi membagikan pengalaman pemakaian mesin kopi Xiaomi selama satu bulan penuh. Ia merangkum penilaian dalam dua kategori besar: hal yang disukai dan hal yang tidak disukai. Review ini ditujukan untuk calon pembeli yang masih bimbang menentukan pilihan, apalagi setelah banyak video unboxing dan review awal beredar di media sosial.
Dari pengalamannya, mesin ini dinilai cocok untuk orang yang baru ingin mulai belajar espresso dan latte di rumah, terutama dengan budget Rp1 jutaan. Meski begitu, ada beberapa catatan penting yang perlu dipahami sebelum memutuskan membeli.
Water Tank Kecil, Harus Sering Isi Ulang
Hal pertama yang dikeluhkan adalah kapasitas water tank yang kecil. Menurut reviewer, desain mesin kopi Xiaomi memang ringkas dengan lebar sekitar 14 cm, sehingga tangki air tidak mungkin dibuat besar.
Dampaknya, pengguna akan cukup sering mengisi ulang air. Ia menyebut setelah 3–4 kali ekstraksi espresso ditambah proses steaming susu, volume air berkurang drastis bahkan hampir habis. Untuk pemakaian harian, ini bisa terasa kurang praktis, terutama jika digunakan untuk membuat beberapa gelas kopi sekaligus.
Steam Wand Kurang Fleksibel untuk Frothing
Kekurangan kedua ada pada posisi steam wand (steam one) yang terlalu mepet dengan group head. Kondisi ini membuat gerakan saat frothing susu menjadi sempit.
Reviewer menjelaskan steam wand hanya bisa digerakkan ke kiri dan kanan, tetapi tidak leluasa untuk diarahkan ke atas, bawah, atau berputar 360 derajat. Bagi pengguna yang ingin belajar latte art dan butuh sudut yang nyaman saat steaming, bagian ini bisa jadi faktor pertimbangan.
Jeda Ekstraksi Kedua Setelah Steaming Terasa Lama
Masalah berikutnya muncul saat pengguna ingin membuat dua shot espresso berurutan. Setelah melakukan ekstraksi pertama lalu steaming susu, mesin membutuhkan jeda sebelum bisa melakukan ekstraksi kedua.
Reviewer menyebut jeda ini terjadi karena mesin belum memiliki fitur pembuangan pressure berlebih. Jadi, pengguna harus menunggu suhu atau tekanan turun terlebih dulu. Cara cepatnya adalah membuang tekanan lewat steam wand, tetapi konsekuensinya air dan uap ikut keluar.
Di sisi lain, ini kembali berkaitan dengan water tank yang kecil. Jika sering membuang pressure dengan membuka steam, air di tangki makin cepat habis.
Kelebihan Mesin Kopi Xiaomi: Compact dan Mudah Diletakkan
Meski ada kekurangan, reviewer menilai mesin kopi Xiaomi unggul di sisi ukuran. Mesin ini disebut sangat compact dan cocok diletakkan di mana saja karena tidak memakan banyak ruang seperti mesin kopi rumahan lain.
Ia bahkan menyebut Xiaomi masih layak menyandang predikat “mesin kopi ter-compact” di kelas harga Rp1 jutaan. Bagi penghuni apartemen, kos, atau rumah dengan dapur minimalis, poin ini jelas menarik.
Portafilter Solid, Terasa Premium di Kelasnya
Kelebihan berikutnya adalah portafilter yang dinilai solid dan premium. Meski menggunakan ukuran 51 mm dan standar pressurized, build quality-nya dianggap lebih baik dibanding portafilter pressurized dari brand lain di ukuran serupa.
Menurut reviewer, untuk mesin di rentang Rp1 jutaan, feel penggunaan portafilter ini sudah terasa nyaman dan meyakinkan.
Touchscreen Sensitif, Respons Cepat Anti Delay
Bagian yang juga mencuri perhatian adalah touchscreen yang disebut sangat sensitif dan responsif. Bahkan, reviewer menyebut layar bisa “kepencet” hanya karena tersenggol kain microfiber.
Meski terdengar sepele, respons cepat tanpa delay menjadi nilai tambah karena pengguna tidak perlu menunggu lama saat mengoperasikan mesin.
Steam Pressure Kencang dan Stabil untuk Susu
Di sektor steaming, reviewer justru memberi nilai positif. Walaupun bodinya kecil, steam pressure mesin ini dinilai kencang dan stabil, tidak naik-turun.
Ia mengaku setelah membandingkan dengan beberapa mesin lain berspesifikasi mirip, ia masih lebih memilih steaming susu menggunakan mesin kopi Xiaomi karena hasilnya lebih konsisten, terutama untuk kebutuhan latte.
Bodi Stainless Steel dan Desain Elegan
Kelebihan terakhir adalah material bodi yang mayoritas stainless steel, disebut mencapai sekitar 90%. Meski beberapa bagian masih plastik seperti water tank, drip tray, dan bagian bawah, keseluruhan desain dianggap modern, elegan, bahkan futuristik.
Reviewer menyimpulkan mesin ini “worth it” untuk harga Rp1 jutaan. Ia juga menyebut selama satu bulan pemakaian tidak ada kendala berarti dan mesin bekerja normal, baik untuk ekstraksi maupun steaming.
Sebagai saran, calon pembeli diminta menyesuaikan pilihan dengan budget. Jika targetnya mesin espresso rumahan di Rp1 jutaan, maka mesin kopi Xiaomi bisa jadi opsi yang patut dipertimbangkan—terutama karena ukurannya kecil dan performanya dinilai memadai untuk pemula.
Editor : Natasha Eka Safrina