YOGYAKARTA - Space Roastery Jogja bukan sekadar tempat ngopi. Di balik desain kemasan yang mencolok dan nama-nama bean yang unik, ada strategi bisnis yang rapi, visi yang kuat, dan cerita panjang yang dimulai dari ide sederhana: membuat oleh-oleh khas Jogja berbasis online.
Pemiliknya adalah Elan, perempuan asal Yogyakarta yang menghabiskan tujuh tahun kuliah sekaligus bekerja di Singapura. Sepulang ke Indonesia, ia bersama partnernya membangun Space Roastery Jogja dengan konsep yang awalnya jauh dari bayangan sebuah kafe. Targetnya justru lebih “pabrik kecil-kecilan” yang fokus pada roasting dan penjualan kopi secara daring.
“Dari awal memang penginnya online banget,” kata Elan. Ia melihat budaya belanja online di luar negeri sudah sangat umum, sementara di Indonesia masih menjadi peluang besar. Dari situ, Space dibangun dengan visi besar: mengkopikan Indonesia.
Berawal dari Ide Oleh-oleh, Berubah Jadi Roastery
Ide awal Space sebenarnya bukan langsung soal kopi. Elan dan partnernya sempat berdiskusi ingin membuat bisnis yang bisa menjadi souvenir atau oleh-oleh khas Jogja, namun dengan sistem penjualan online. Karena keduanya sama-sama suka ngopi, akhirnya pilihan jatuh pada kopi.
Mereka mulai menggodok ide pada April 2016 dan resmi menjalankan roasting pada 24 Juli 2016. Tanggal itu dipilih karena unik: 24/7, menggambarkan bisnis online yang bisa berjalan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.
Nama “Space” pun dipilih bukan karena filosofi kopi yang rumit. Alasan utamanya simpel: terdengar bagus, mudah diingat, dan sederhana.
Salah Paham yang Jadi Berkah: Dari Pickup Kurir Jadi Coffee Bar
Saat order online mulai ramai, kurir dan ojek online sering mengambil pesanan ke lokasi mereka di Gang Loncang, Jalan Magelang. Untuk memudahkan pickup, mereka memasang lampu bertuliskan “Space Coffee Roastery”.
Tak disangka, banyak orang mengira itu kafe. Beberapa pelanggan masuk dan ingin membeli kopi langsung. Padahal saat itu Space belum punya menu dan daftar harga. Alih-alih menolak, Elan justru menyuguhi kopi gratis dan mengobrol dengan mereka. Dari momen itu, Space mulai dikenal luas lewat word of mouth.
Fokus Home Brewers, Tapi Tetap Rangkul Habitual Drinker
Elan menjelaskan, target utama Space sejak awal adalah home brewers atau penyeduh kopi rumahan. Mereka ingin kopi berkualitas bisa dinikmati dari rumah dengan metode seduh apa pun.
Namun, Space juga sadar kebiasaan ngopi di Indonesia tidak hanya di rumah. Banyak orang tetap datang ke kafe untuk ngobrol sambil menikmati kopi. Karena itu, misi Space diperluas: mengkopikan Indonesia juga lewat habitual drinker, yakni mereka yang minum kopi setiap hari di mana pun.
Interaksi di media sosial pun berkembang. Banyak followers bertanya soal metode seduh, alat kopi, hingga cara menggiling bean. Karena DM terlalu ramai, Space membuat grup komunitas di Facebook agar para home brewers bisa saling berbagi pengalaman. Menariknya, grup itu dijaga tetap non-profit dan bebas iklan.
Sensor Project: Ngopi Tanpa Tahu Origin, Fokus ke Rasa
Salah satu hal unik dari Space adalah “Sensor Project”. Mereka menjual paket bean dengan harga sekitar Rp100 ribu, namun tanpa memberi tahu origin dan prosesnya. Tujuannya agar orang mencicipi kopi tanpa bias.
Dengan cara ini, peserta cupping bisa fokus ke tasting notes murni. Mereka lalu berbagi catatan rasa bersama komunitas. Konsep ini memperkuat identitas Space: kopi bukan sekadar asal daerah, tapi soal rasa yang nyata di lidah.
Halu Pink Banana, Titik Balik Space Roastery Jogja
Elan mengungkap, produk yang membuat Space benar-benar naik adalah Halu Pink Banana. Kopi ini berasal dari Gunung Halu, Jawa Barat, dengan notes peach dan banana. Nama “pink” melambangkan peach, sementara “banana” mempertegas rasa dominan.
Dari sini, Space mulai menerapkan gaya penamaan yang menggabungkan origin dan notes rasa. Strategi ini kemudian banyak diikuti roastery lain.
“Yang paling utama ternyata bukan originnya dari mana, tapi rasanya kayak apa,” ujar Elan.
Dari Mesin Roasting Sampai Cabang di Bangunan Cagar Budaya 1890
Di headquarter roastery mereka, Space memiliki tiga mesin roasting: mesin sampling, mesin produksi 15 kg, dan 30 kg. Operasional berjalan dua shift hingga malam. Produksi mereka disebut bisa mencapai ratusan kilo per hari.
Untuk bahan baku, Space mendapat pasokan dari tiga jalur: petani langsung, prosesor, dan importir. Mereka sudah pernah merilis kopi dari Aceh hingga Papua, serta berbagai bean luar negeri.
Salah satu cabang yang mencuri perhatian adalah Space Roastery 1890, bangunan tua yang dibangun pada 1890 dan disebut sebagai cagar budaya. Desainnya mempertahankan unsur klasik, namun dipadukan dengan elemen modern seperti warna oranye dan stainless steel bar.
Di sana, konsep retail dibuat sebagai “experience store”. Pengunjung bisa mencicipi berbagai bean sebelum membeli. Menurut Elan, pengalaman rasa dan visual packaging menjadi kunci agar orang tertarik, bahkan saat membeli secara online.
Editor : Natasha Eka Safrina