JAKARTA - Negosiasi Amerika Iran kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Teheran kini serius membuka jalur dialog dengan Washington.
Namun Negosiasi antara Trump kepada Iran , laporan langsung dari Iran menunjukkan bahwa proses perundingan tersebut justru berada di titik paling sulit dan berpotensi gagal total.
Informasi terbaru ini disampaikan oleh reporter TV One, Idrus Alhamid, yang melaporkan langsung dari Teheran, Iran, pada Minggu (2/2/2026).
Ia menyebutkan bahwa meski wacana negosiasi Amerika Iran terus digulirkan, realitas di lapangan memperlihatkan ketegangan yang masih sangat tinggi antara kedua negara.
Kapal Induk AS Mundur, Tapi Basis Militer Diperkuat
Salah satu perkembangan penting adalah mundurnya kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, dari perairan yang berdekatan dengan wilayah Iran.
Langkah tersebut yang sempat ditafsirkan sebagai sinyal penurunan eskalasi Amerika Serikat .
Namun, Idrus menegaskan bahwa Amerika Serikat justru memperkuat pangkalan militernya di berbagai negara Timur Tengah.
Pangkalan militer AS di Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Yordania dilaporkan dalam kondisi siaga tinggi.
Situasi ini menunjukkan bahwa meski ada pembicaraan negosiasi Amerika Iran, Washington tetap menyiapkan opsi militer jika kesepakatan gagal tercapai.
Negosiasi di Qatar dan Syarat Berat dari Amerika
Menurut laporan tersebut, proses negosiasi Amerika Iran dilakukan di Qatar dengan peran mediasi dari pemerintah setempat.
Fokus utama perundingan adalah isu nuklir, khususnya terkait pengayaan uranium oleh Iran.
Teheran Iran diketahui telah memiliki sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya pada saat ini.
Amerika Serikat tidak hanya menuntut penghentian pengayaan, tetapi juga meminta agar seluruh uranium tersebut diserahkan kepada AS.
Inilah titik krusial yang membuat negosiasi dinilai hampir mustahil mencapai kesepakatan.
Pemerintah Iran menilai uranium yang telah diperkaya itu digunakan untuk kepentingan nasional, seperti pembangkit listrik, pengelolaan sumber daya air, serta sektor pertanian.
Karena itu, tuntutan Amerika dianggap sebagai bentuk tekanan sepihak yang sulit diterima.
Potensi Konflik Masih Terbuka
Dengan posisi yang saling bertolak belakang, negosiasi Amerika Iran diperkirakan tidak akan menghasilkan titik temu dalam waktu dekat.
Bahkan, muncul kekhawatiran bahwa Amerika Serikat akan kembali menggunakan ancaman militer sebagai alat tekanan politik.
Idrus menyebutkan bahwa keputusan selanjutnya kini berada di tangan Washington, apakah akan terus menggertak atau benar-benar melakukan serangan terbatas terhadap Iran.
Situasi ini membuat kawasan Timur Tengah kembali berada di bawah bayang-bayang konflik terbuka.
Militer Iran Siaga, IRGC di Posisi Penuh
Menanggapi ancaman tersebut, militer Iran dilaporkan berada dalam kondisi siaga penuh.
Seluruh elemen Garda Revolusi Iran (IRGC) telah ditempatkan di posisi masing-masing untuk mengantisipasi segala kemungkinan, termasuk serangan kecil atau pelanggaran wilayah oleh Amerika Serikat.
Media lokal Iran bahkan menyebut kesiapan militer saat ini berada pada level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Setiap potensi pelanggaran perbatasan akan langsung direspons tanpa kompromi.
Warga Iran Tetap Tenang dan Beraktivitas Normal
Menariknya, ketegangan geopolitik ini tidak berdampak signifikan terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Iran.
Warga terlihat tetap beraktivitas normal dan tidak menunjukkan kekhawatiran berlebihan terhadap ancaman Presiden Trump.
Idrus melaporkan bahwa masyarakat justru tengah bersiap menyambut malam Nisfu Syakban.
Masjid-masjid dipersiapkan, dan di kota Qom bahkan direncanakan pawai sejauh 10 kilometer menuju Masjid Jamkaran untuk ritual keagamaan.
Kondisi ini memperlihatkan kontras tajam antara kesiapan militer dan ketenangan warga sipil.
Ancaman Amerika Serikat tampaknya tidak menggoyahkan psikologis masyarakat Iran, yang terkesan acuh terhadap pernyataan Trump.
Negosiasi di Ujung Jalan Buntu
Melihat perkembangan ini, negosiasi Amerika Iran dinilai berada di ujung jalan buntu.
Selama tuntutan penyerahan uranium tetap menjadi syarat utama, peluang tercapainya kesepakatan tampak semakin kecil.
Dunia kini menanti langkah berikutnya dari Amerika Serikat, apakah memilih jalur diplomasi lanjutan atau kembali membuka babak konflik baru di Timur Tengah. (*)
Editor : Adinda Putri Sefiana