JAKARTA – Nama Kampung Adat Gelar Alam Sukabumi belakangan ramai dibicarakan warganet setelah sebuah video menampilkan suasana perkampungan adat yang berada di puncak pegunungan, lengkap dengan rumah-rumah tradisional, lumbung padi, hingga tradisi tahunan Seren Taun. Kampung ini disebut sebagai bagian dari kasepuhan yang terus menjaga adat, tata krama, serta aturan hidup warisan leluhur.
Dalam tayangan tersebut, pembuat konten mengajak penonton menelusuri area perkampungan yang dikenal sebagai Gelar Alam. Lokasi ini sebelumnya disebut memiliki keterkaitan sejarah dengan Cipta Rasa dan Cipta Gelar, sebelum akhirnya menetap di Gelar Alam dalam beberapa tahun terakhir. Menariknya, Kampung Adat Gelar Alam Sukabumi juga disebut berada di kawasan puncak Gunung Halimun, dengan udara yang dingin dan pemandangan yang menyejukkan mata.
Salah satu hal yang langsung mencuri perhatian adalah aliran air dari gunung yang sangat jernih. Air ini dimanfaatkan warga untuk kebutuhan harian, bahkan terdapat kolam ikan milik sesepuh yang bisa dimasak. Keasrian alam berpadu dengan suasana kampung yang rapi membuat banyak pengunjung penasaran untuk datang langsung.
Baca Juga: 8 Wisata Malang Terbaru dan Paling Populer 2026, Ada Waterpark hingga Spot Jepang yang Instagramable
Sejarah Gelar Alam: Dari Cipta Rasa, Cipta Gelar, hingga Gelar Alam
Dalam video, seorang pemandu lokal bernama Kang Ricky menjelaskan bahwa Gelar Alam merupakan kelanjutan dari perpindahan kasepuhan. Awalnya bermula dari Cipta Rasa, kemudian berpindah ke Cipta Gelar, lalu kini menjadi Gelar Alam.
Jumlah warganya disebut mencapai sekitar 150 kepala keluarga. Gelar Alam juga baru “beroperasi” sekitar 3–4 tahun sebagai kampung adat di lokasi saat ini. Meski berada di atas gunung, pasokan air tetap aman karena bersumber langsung dari mata air pegunungan.
Kang Ricky juga menekankan bahwa tamu yang ingin datang berkunjung wajib menjaga adab. Salah satu aturan penting adalah meminta izin terlebih dahulu kepada sesepuh, yakni Abah Ugi, terutama jika ingin mengambil foto atau video.
Rumah Adat Kirai dan Lapang Kampung yang Jadi Ciri Kasepuhan
Dari sisi bangunan, kampung ini masih mempertahankan rumah-rumah adat dengan atap berbahan kirai dan ijuk. Menurut penjelasan warga, penggunaan ijuk membantu membuat atap lebih awet dan menjaga dari gangguan hama.
Di beberapa titik kampung juga terdapat lapang atau area terbuka. Fungsinya bukan hanya untuk aktivitas warga, tetapi juga menjadi ruang berkumpul dan olahraga. Kesan kampung adat terasa kuat karena tata letak rumah tampak teratur, berpadu dengan alam yang masih sangat asri.
Deretan Leuit, Pantangan Jual Padi, dan Panen Pakai Ani-ani
Salah satu ikon utama Gelar Alam adalah keberadaan leuit atau lumbung padi. Dalam video disebut jumlahnya lebih dari 50 leuit yang tersebar di beberapa bukit. Leuit menjadi simbol ketahanan pangan masyarakat adat.
Menariknya, padi di kampung ini disebut tidak boleh diperjualbelikan. Padi disimpan sebagai cadangan makanan dan bagian dari aturan adat yang sudah dijaga turun-temurun.
Proses panen pun masih tradisional. Warga memanen padi satu per satu menggunakan ani-ani, bukan arit seperti di sawah modern. Padi kemudian diikat rapi hingga tampak seperti “ikat pocong”, menjadi ciri khas tersendiri di lingkungan kampung adat.
Leuit Si Jimat, Lumbung Padi Sakral Berusia 600 Tahun
Bagian yang paling membuat penonton terpukau adalah Leuit Si Jimat. Leuit ini disebut sebagai lumbung padi paling sakral dan diperkirakan sudah berusia 600 tahun atau enam abad.
Leuit Si Jimat dianggap sebagai “rajanya” leuit di Gelar Alam, lumbung induk dari leuit-leuit lainnya. Saat menjelang upacara Seren Taun, leuit ini biasanya dihias sebagai bagian dari tradisi.
Ada pula filosofi unik: pintu leuit tidak berada di bagian bawah, melainkan di atas. Hal itu disebut sebagai siloka atau simbol kehidupan—bahwa untuk mendapatkan hasil, manusia harus mau berikhtiar dan “mendaki” terlebih dahulu.
Seren Taun Digelar Setahun Sekali, Jadwalnya Sekitar September-Oktober
Gelar Alam juga dikenal menjaga tradisi Seren Taun, upacara adat yang menjadi puncak rangkaian pertanian padi. Dalam video, warga menyebut Seren Taun biasanya berlangsung setahun sekali, dengan perkiraan waktu sekitar September hingga Oktober, meski jadwal pastinya menunggu penetapan.
Selain Seren Taun, Abah Ugi juga menjelaskan bahwa dalam satu tahun terdapat beberapa acara besar yang berkaitan dengan pertanian padi, termasuk ngaseuk, mipit, nganyaran, hingga ponggokan.
Yang paling penting, masyarakat Gelar Alam masih menanam padi dengan bibit lokal. Bahkan disebut ada sekitar 168 varietas padi yang dijaga. Prosesnya tidak boleh diganggu teknologi modern, karena menjadi bagian dari adat yang diwariskan untuk anak-cucu.
Editor : Natasha Eka Safrina