BANTUL – Proyek pembangunan jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Kelok 18 yang menghubungkan Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga pertengahan 2025, progres fisik pembangunan Kelok 18 dilaporkan telah mencapai sekitar 80 persen.
Jalur yang juga kerap disebut sebagai Kelok 23 ini memiliki total panjang penanganan sekitar 5,6 kilometer. Ruas tersebut menghubungkan Kelurahan Girijati, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul dengan Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul. Kelok 18 menjadi salah satu proyek infrastruktur paling krusial di jalur selatan DIY.
Penghubung Terakhir JJLS DIY
Kelok 18 merupakan bagian dari JJLS Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terbentang sepanjang kurang lebih 121 kilometer. Jalur ini menjadi bagian dari jaringan Jalan Pantai Selatan (Pansela) Pulau Jawa yang membentang dari Serang, Banten, hingga Banyuwangi, Jawa Timur.
Keberadaan Kelok 18 disebut sebagai penghubung terakhir JJLS DIY setelah rampungnya proyek Jembatan Pandansimo. Jika tersambung penuh, jalur ini akan memperkuat konektivitas antarwilayah selatan Yogyakarta, khususnya antara Bantul dan Gunungkidul.
Kendala Medan dan Antisipasi Longsor
Meski progres pembangunan sudah mencapai 80 persen, pelaksanaan proyek Kelok 18 tidak lepas dari tantangan teknis. Beberapa pekerjaan mengalami keterlambatan akibat kondisi medan yang ekstrem, terutama pada penanganan lahan di kawasan perbukitan.
Pematangan lahan di bagian atas bukit masih terus dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi longsor. Lereng-lereng terjal yang dilalui jalur ini membutuhkan penguatan tambahan berupa tanggul penahan tanah, khususnya di sekitar area jembatan.
Akibat kendala tersebut, target penyelesaian proyek secara keseluruhan diperkirakan mengalami mundur. Estimasi terbaru menyebutkan Kelok 18 ditargetkan rampung pada Juni 2026, dengan adanya perpanjangan waktu pengerjaan.
Pengaspalan Sudah Tembus Jembatan
Dari pantauan lapangan, pekerjaan pengaspalan kini sudah dilakukan dari dua sisi, baik dari arah Gunungkidul maupun Bantul. Bahkan, lapisan aspal dilaporkan telah mencapai area puncak dan melewati lokasi jembatan yang menjadi salah satu titik krusial jalur ini.
Pengaspalan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi kontur jalan. Jalur Kelok 18 sendiri memiliki lebar rata-rata sekitar tujuh meter, dengan bahu jalan selebar 1,5 meter. Spesifikasi ini dirancang untuk menunjang keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan di medan berkelok.
Dilengkapi Jembatan, Rest Area, dan Gardu Pandang
Selain jalan utama, proyek Kelok 18 juga mencakup pembangunan satu unit jembatan. Jembatan ini berfungsi sebagai penghubung antarsegmen di area yang rawan pergerakan tanah. Di sekitarnya, direncanakan pula pembangunan rest area dan gardu pandang.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi titik singgah bagi pengguna jalan sekaligus mendukung potensi wisata. Pasalnya, Kelok 18 menawarkan panorama khas pesisir selatan Yogyakarta berupa hamparan perbukitan, pemandangan laut lepas, hingga momen matahari terbenam.
Diharapkan Dorong Akses Ekonomi dan Pariwisata
Jika telah rampung dan difungsikan penuh, Kelok 18 diyakini akan mempercepat waktu tempuh antara Bantul dan Gunungkidul. Jalur ini juga diharapkan membuka akses ekonomi baru bagi masyarakat di kawasan selatan DIY, termasuk sektor pariwisata, logistik, dan perdagangan lokal.
Meski saat ini belum bisa dilintasi kendaraan umum dan masih dalam tahap pengerjaan, progres Kelok 18 terus dinantikan masyarakat. Jalur ini diproyeksikan menjadi salah satu ikon baru JJLS Yogyakarta yang memadukan fungsi infrastruktur dengan keindahan alam.
Editor : Natasha Eka Safrina