BANTUL – Proyek strategis JJLS Kelok 18 yang menghubungkan Kabupaten Bantul dan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terus menunjukkan perkembangan signifikan. Jalur ikonik yang menjadi bagian dari Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) ini kini telah memasuki tahun kedua pengerjaan dan progresnya diklaim mendekati tahap akhir.
Berdasarkan pantauan terbaru, pembangunan JJLS Kelok 18 yang membentang sepanjang kurang lebih 5,6 kilometer tersebut telah mencapai sekitar 80 persen. Ruas jalan ini menghubungkan Kalurahan Parangtritis, Kapanewan Kretek, Kabupaten Bantul dengan Kalurahan Girijati, Kapanewan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul. Jalur ini digadang-gadang menjadi penghubung terakhir JJLS DIY setelah rampungnya proyek Jembatan Pandansimo.
Pemerintah Daerah DIY menempatkan JJLS Kelok 18 sebagai salah satu proyek infrastruktur vital, tidak hanya untuk memperkuat konektivitas wilayah selatan, tetapi juga sebagai pengungkit sektor pariwisata. Jalur ini dikenal memiliki 18 tikungan tajam yang mengikuti kontur perbukitan pesisir selatan, menjadikannya unik sekaligus menantang.
Progres Pengaspalan Capai Puncak Jalur
Dari hasil dokumentasi visual di lapangan, pengaspalan dari dua arah, baik dari sisi Bantul maupun Gunungkidul, telah mencapai titik puncak jalur di sekitar jembatan utama. Sebagian besar badan jalan tampak mulus dengan lebar sekitar 7 meter serta bahu jalan sekitar 1,5 meter. Sejumlah perlengkapan keselamatan seperti guardrail atau besi pengaman jalan juga telah terpasang di beberapa tikungan ekstrem.
Meski demikian, masih terdapat beberapa segmen yang belum sepenuhnya tersambung. Di kawasan perbukitan bagian atas, pekerjaan pematangan lahan, pembangunan talut penahan tanah, serta gorong-gorong masih berlangsung. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi longsor mengingat medan yang cukup curam dan rawan pergerakan tanah.
Kendala Teknis, Target Selesai Mundur
Pihak pelaksana mengakui adanya keterlambatan akibat kendala teknis di lapangan. Proses penanganan lereng atas bukit memerlukan perhatian khusus demi memastikan keamanan jangka panjang jalur tersebut. Akibatnya, target penyelesaian proyek JJLS Kelok 18 diperkirakan mundur dan kini diestimasikan rampung pada Juni 2026, disertai dengan perpanjangan waktu pengerjaan.
Meski mengalami penyesuaian jadwal, pemerintah menegaskan bahwa standar keamanan tetap menjadi prioritas utama. Jalur ini dibangun dengan sistem drainase yang memadai untuk mencegah genangan air serta meminimalkan risiko bencana saat musim hujan.
Disiapkan Jadi Ikon Wisata Baru
Lebih dari sekadar infrastruktur transportasi, JJLS Kelok 18 diproyeksikan menjadi ikon wisata baru di selatan Yogyakarta. Dari ketinggian jalur ini, pengendara dapat menikmati panorama Samudra Hindia, hamparan perbukitan hijau, hingga gumuk pasir Parangtritis dari kejauhan. Keindahan lanskap ini bahkan disebut-sebut cocok untuk menikmati momen matahari terbenam atau sunset.
Pemerintah DIY juga merencanakan pembangunan fasilitas pendukung seperti rest area, gardu pandang, dan spot foto di beberapa titik strategis. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi ruang singgah wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM lokal di sekitar jalur.
Dorong Konektivitas dan Ekonomi Warga
Dengan rampungnya JJLS Kelok 18, waktu tempuh antara Bantul dan Gunungkidul diperkirakan akan jauh lebih singkat. Jalur ini akan menjadi alternatif utama bagi wisatawan maupun warga lokal yang hendak menuju kawasan wisata pesisir selatan tanpa harus memutar jauh.
Keberadaan jalur ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar melalui peningkatan arus wisata, distribusi logistik yang lebih lancar, serta terbukanya peluang usaha baru. Pemerintah DIY optimistis jalur selatan akan berkembang menjadi koridor ekonomi baru yang terintegrasi.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana revisi, JJLS Kelok 18 akan segera siap digunakan sebagai akses strategis menuju kawasan wisata unggulan selatan Yogyakarta. Proyek ini pun diharapkan menjadi simbol kemajuan pembangunan infrastruktur sekaligus wajah baru pariwisata DIY di masa mendatang.
Editor : Natasha Eka Safrina