JAKARTA - Tanah bergerak Desa Padasari Tegal hingga kini masih terus mengancam keselamatan warga. Meski bencana tersebut telah terjadi lebih dari sepekan, pergerakan tanah di wilayah Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat, tanah bergerak Desa Padasari Tegal masih bersifat dinamis dan berpotensi meluas. Retakan tanah terus bertambah, menyebabkan ratusan rumah warga mengalami kerusakan berat hingga tidak lagi layak huni.
Kondisi ini membuat tanah bergerak Desa Padasari Tegal menjadi salah satu bencana geologi paling mengkhawatirkan di Jawa Tengah awal 2026. Warga diminta tetap mengungsi dan tidak kembali ke rumah selama kondisi tanah belum stabil.
Ratusan Rumah dan Fasilitas Umum Rusak
Desa Padasari kini berada dalam kondisi mencekam. Data terbaru menyebutkan, sedikitnya 282 rumah warga mengalami kerusakan berat. Namun dalam perkembangan terbaru, jumlah tersebut terus bertambah hingga mencapai lebih dari 400 bangunan terdampak.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas umum juga mengalami kerusakan. BPBD mencatat sedikitnya 46 fasilitas publik terdampak, termasuk 17 tempat ibadah. Akses jalan desa juga rusak parah sehingga kendaraan tidak dapat melintas.
Akibatnya, distribusi bantuan logistik dan proses evakuasi harus dilakukan dengan berjalan kaki. Relawan, aparat, dan petugas kebencanaan harus menempuh medan sulit untuk menjangkau lokasi pengungsian.
Salah satu bangunan yang mengalami kerusakan terparah adalah Pondok Pesantren Al-Adalah. Bangunan yang sebelumnya berdiri kokoh kini ambruk dan rata dengan tanah. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Ribuan Warga Mengungsi, Jumlah Terus Bertambah
BPBD Kabupaten Tegal mencatat, sebanyak 1.686 jiwa terdampak akibat bencana tanah bergerak ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 526 orang merupakan santri yang terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Jumlah pengungsi juga terus meningkat seiring meluasnya retakan tanah. Koresponden Metro TV melaporkan, hingga Jumat terakhir, jumlah kepala keluarga yang mengungsi mencapai hampir 600 KK yang tersebar di enam titik pengungsian.
Sebagian pengungsi tinggal di rumah kerabat, sementara lainnya menempati posko darurat. Warga yang rumahnya masih relatif aman juga mulai memindahkan barang-barang berharga, ternak, dan peralatan elektronik dengan bantuan aparat.
Aktivitas warga saat ini sepenuhnya terfokus di lokasi pengungsian sambil menunggu kondisi tanah dinyatakan stabil.
Faktor Geologi dan Curah Hujan Tinggi
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut, wilayah Desa Padasari secara geologi memang rawan mengalami tanah bergerak. Kondisi tanah yang labil diperparah oleh curah hujan tinggi yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
“Daerah ini sudah beberapa kali mengalami kejadian serupa. Secara geologi memang rawan pergerakan tanah, apalagi saat hujan tidak terkendali,” ujar Ahmad Luthfi saat meninjau lokasi.
Ia menegaskan bahwa bencana ini tidak boleh kembali terulang untuk ketiga kalinya. Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk mengambil langkah relokasi permanen bagi warga terdampak.
Rencana Relokasi dan Hunian Tetap
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Tegal telah memutuskan untuk merelokasi warga dari zona rawan. Sekitar 250 kepala keluarga dipastikan akan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Saat ini, proses pendataan ulang masih berlangsung. Pemerintah menyiapkan hunian sementara (huntara) yang nantinya akan dikembangkan menjadi hunian tetap (huntap) lengkap dengan sertifikat kepemilikan.
“Relokasi bukan hanya di pengungsian. Kita siapkan hunian tetap agar warga bisa hidup dengan aman,” tegas Gubernur.
Meski lokasi relokasi belum diumumkan secara detail, pemerintah memastikan masih berada di wilayah Kabupaten Tegal yang dinilai aman secara geologis.
Pemantauan Intensif dan Imbauan Waspada
Hingga saat ini, pemantauan intensif terus dilakukan oleh BPBD, TNI, Polri, dan instansi terkait. Pergerakan tanah masih terpantau terjadi di beberapa titik, terutama pada pagi hari.
Warga diimbau untuk tidak kembali ke rumah selama ancaman tanah bergerak masih berlangsung. Pemerintah juga meminta masyarakat rutin memantau informasi resmi terkait perkembangan kondisi lapangan.
Dengan kondisi tanah yang belum stabil, bencana tanah bergerak di Desa Padasari diperkirakan masih berpotensi menimbulkan dampak lanjutan. Kesiapsiagaan semua pihak menjadi kunci untuk meminimalkan risiko korban dan kerugian.
Editor : Dyah Wulandari