PEMALANG – Bencana banjir Pemalang 2026 kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah video amatir yang merekam detik-detik luapan sungai, longsor, dan genangan air di permukiman warga viral di media sosial. Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Pemalang sejak Sabtu malam hingga Minggu dini hari memicu banjir di berbagai titik.
Dalam video yang beredar, terlihat warga panik saat air coklat keruh mengalir deras di kawasan Sidomulyo, Pesantren, Kecamatan Ulujami. Luapan Sungai Tomal dan Sungai Srengseng menyebabkan permukiman, persawahan, hingga jalan raya terendam. Sejumlah kendaraan bahkan nyaris hanyut akibat arus yang semakin deras.
Peristiwa banjir Pemalang 2026 ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang berlangsung hampir tiga jam tanpa henti. Kondisi tersebut membuat sistem drainase dan aliran sungai tidak mampu menampung debit air, sehingga meluap ke permukiman warga.
Sungai Meluap dan Jalan Terputus
Berdasarkan pantauan lapangan, genangan air terjadi di sejumlah wilayah, di antaranya Ulujami, Randudongkal, Comal, Watukumpul, hingga pusat Kota Pemalang. Air menggenangi jalan utama, jembatan, dan akses menuju permukiman.
Jembatan Kali Comal di Randudongkal dilaporkan sempat terendam, membuat arus lalu lintas lumpuh. Warga yang hendak melintas diminta memutar melalui jalur Pantura karena jembatan tidak bisa dilewati.
Selain itu, kawasan Pasar Comal juga terdampak cukup parah. Sejumlah toko tergenang air hingga setengah ban kendaraan. Aktivitas jual beli terganggu, meski sebagian pedagang tetap membuka lapak demi menyelamatkan usaha mereka.
“Ketinggian air sekitar 30 sentimeter. Pengguna jalan diminta ekstra waspada,” ujar salah satu relawan di lokasi.
Longsor dan Ancaman Pergeseran Tanah
Tak hanya banjir, hujan deras juga memicu longsor di beberapa wilayah. Salah satunya terjadi di Kecamatan Watukumpul, Desa Jojogan, pada Jumat sore. Longsor menimpa satu rumah warga dan menyebabkan dua orang menjadi korban. Satu korban berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya dilaporkan meninggal dunia.
Di beberapa titik, warga juga melaporkan adanya pergeseran tanah. Pemerintah desa diminta segera mengimbau warga yang tinggal di daerah rawan untuk mengungsi sementara guna menghindari risiko longsor susulan.
“Kami sudah mengingatkan warga beberapa kali. Karena masih rawan, kami arahkan untuk mengungsi,” kata salah satu petugas lapangan.
Bupati Turun Langsung Pimpin Evakuasi
Menanggapi situasi banjir Pemalang 2026, Bupati Pemalang Anom Widiantoro turun langsung ke lokasi terdampak pada dini hari. Ia memimpin proses evakuasi warga sekaligus memantau kondisi genangan air.
Menurut Anom, hujan terjadi secara sporadis dengan durasi lebih dari tiga jam sehingga menyebabkan banyak warga kesulitan pulang ke rumah.
“Banjir terjadi karena luapan Sungai Srengseng di sisi kanan dan kiri. Kondisi ini membuat akses kendaraan roda dua dan roda empat terganggu,” ujarnya.
Sebagai langkah darurat, Pemerintah Kabupaten Pemalang membuka pendopo kantor bupati sebagai tempat bermalam sementara bagi warga yang tidak dapat kembali ke rumah akibat akses terputus.
Ribuan Warga Terdampak
BPBD Pemalang mencatat, dampak bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut masih cukup besar. Selain banjir terbaru, sebelumnya ribuan warga juga masih mengungsi akibat banjir bandang di lereng Gunung Slamet.
Data BPBD menyebutkan, pada akhir Januari 2026 sebanyak 732 keluarga atau sekitar 2.277 jiwa masih berada di pengungsian. Puluhan rumah dan jembatan rusak akibat terjangan banjir.
Hingga kini, tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, relawan, dan perangkat desa terus melakukan pemantauan, pembersihan lumpur, serta pendataan kerusakan.
Imbauan Waspada Cuaca Ekstrem
BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, banjir, dan longsor susulan. Warga yang tinggal di bantaran sungai dan daerah rawan longsor diminta segera mengungsi jika terjadi peningkatan debit air.
Pemerintah daerah juga meminta masyarakat rutin memantau informasi cuaca dari BMKG serta segera melapor jika menemukan tanda-tanda bencana. Upaya mitigasi terus diperkuat agar risiko korban jiwa dapat diminimalkan di tengah musim hujan ekstrem yang masih berlangsung
Editor : Dyah Wulandari