JAKARTA - Isu gempa Megathrust Pacitan kembali menjadi perhatian publik setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan meningkatnya aktivitas gempa di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam sepekan terakhir, gempa bumi tercatat mengguncang Tuban, Ternate, dan Halmahera Utara dengan kekuatan berkisar antara magnitudo 3 hingga 4. Sementara itu, wilayah Pacitan, Jawa Timur, mengalami dua kali gempa dengan magnitudo 5,5 dan 6,4 dalam kurun satu bulan terakhir.
Rentetan kejadian tersebut memicu kekhawatiran masyarakat terhadap potensi gempa Megathrust Pacitan, terutama karena kawasan ini berada di pesisir selatan Pulau Jawa yang dikenal sebagai zona rawan gempa besar. BMKG menegaskan bahwa meskipun gempa-gempa tersebut masih tergolong menengah, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyampaikan bahwa Pacitan memang termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap gempa Megathrust. Hal ini disebabkan posisi geografisnya yang berhadapan langsung dengan zona subduksi selatan Jawa, tempat pertemuan lempeng tektonik besar.
Pacitan Berhadapan Langsung dengan Zona Megathrust Jawa
Menurut Daryono, Pacitan sering muncul dalam catatan tsunami historis karena karakteristik wilayahnya yang memiliki banyak teluk dan pantai sempit. Kondisi tersebut dapat menyebabkan amplifikasi gelombang tsunami jika terjadi gempa besar di zona Megathrust Jawa.
“Pacitan berhadapan langsung dengan Megathrust Jawa. Banyak teluk dan pantai sempit yang dapat memperkuat gelombang tsunami,” ujar Daryono, Senin (9/2/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa secara geologi, Pacitan diduga berada di atas segmen subduksi yang landai. Kondisi ini membuat proses tumbukan antar lempeng menjadi lebih kuat dan berpotensi memicu gempa berkekuatan besar.
Catatan Sejarah Gempa dan Tsunami di Pacitan
BMKG mencatat bahwa wilayah Pacitan pernah mengalami gempa dan tsunami besar pada tahun 1840 dan 1859. Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa kawasan pesisir selatan Jawa memiliki potensi bencana gempa Megathrust yang tidak bisa diabaikan.
Meski demikian, Daryono menegaskan bahwa gempa Megathrust tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya secara pasti. Namun, biasanya gempa besar akan diawali oleh gempa-gempa kecil yang bisa dipantau melalui jaringan pemantauan kegempaan BMKG.
Tujuh Daerah di Pesisir Selatan Jatim Rawan Gempa Megathrust
Selain Pacitan, BMKG juga mengingatkan sejumlah daerah lain di pesisir selatan Jawa Timur yang berpotensi terdampak gempa Megathrust. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), wilayah tersebut meliputi Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek.
Baca Juga: BMKG Prakirakan Hujan Guyur Jakarta Senin 9 Februari, Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem
Daerah-daerah tersebut sama-sama berhadapan langsung dengan zona tumbukan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Tumbukan ini dapat memicu gempa dengan variasi magnitudo, mulai dari kecil, sedang, hingga besar.
“Gempa Megathrust itu sangat bervariasi. Bisa kecil, sedang, bahkan besar di atas magnitudo 7,” jelas Daryono.
Apa Itu Gempa Megathrust?
Daryono menjelaskan bahwa gempa Megathrust merupakan istilah geologi untuk menyebut gempa bumi besar yang terjadi di zona subduksi, yaitu area pertemuan dua lempeng tektonik. Di selatan Jawa, lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia, sehingga menghasilkan tekanan besar yang sewaktu-waktu bisa dilepaskan dalam bentuk gempa.
Karena sifatnya yang tidak bisa diprediksi secara pasti, BMKG terus memantau aktivitas seismik di sepanjang selatan Pulau Jawa sebagai bagian dari sistem peringatan dini.
BMKG Imbau Warga Tetap Tenang dan Tingkatkan Kesiapsiagaan
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di pesisir selatan Jawa Timur, agar tidak panik berlebihan menyikapi isu gempa Megathrust Pacitan. Masyarakat diminta untuk selalu mengakses informasi resmi dari BMKG dan meningkatkan pemahaman terkait mitigasi bencana.
“Edukasi kebencanaan dan kesiapsiagaan sangat penting, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir selatan Jawa Timur,” tegas Daryono.
Langkah kesiapsiagaan seperti mengenali jalur evakuasi, memahami tanda-tanda tsunami, serta mengikuti simulasi bencana dinilai menjadi kunci untuk meminimalkan risiko jika gempa besar benar-benar terjadi.
Editor : Natasha Eka Safrina