JAKARTA - Gempa Megathrust Pacitan kembali menjadi sorotan nasional setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 mengguncang Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Peristiwa tersebut menuai keprihatinan dari berbagai pihak, termasuk anggota Komisi DPR RI, Batindas Rumbambi, yang menilai ancaman gempa besar di pesisir selatan Jawa merupakan risiko nyata yang harus dihadapi dengan mitigasi lebih serius dan menyeluruh.
Batindas menegaskan bahwa sejarah panjang gempa dan tsunami di wilayah pesisir selatan Jawa seharusnya menjadi peringatan keras bagi negara untuk tidak bersikap reaktif semata. Menurutnya, negara perlu menempatkan mitigasi bencana sebagai inti dari kebijakan nasional, bukan sekadar respons darurat pascabencana.
“Riwayat gempa dan tsunami di pesisir selatan Jawa menunjukkan risiko yang nyata. Tata kelola risiko melalui mitigasi harus ditempatkan sebagai inti kebijakan negara,” ujar Batindas kepada tribunpalu.com melalui pesan WhatsApp, Senin (9/2/2026).
Pernyataan tersebut muncul seiring meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap potensi gempa Megathrust Pacitan, mengingat wilayah ini berada di jalur subduksi aktif yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.
Pacitan Masuk Zona Rawan Gempa Besar
Sejalan dengan pernyataan DPR, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali menegaskan bahwa Pacitan memang masuk dalam wilayah rawan gempa besar di pesisir selatan Jawa. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebutkan bahwa secara geologis, Pacitan berada di kawasan yang berpotensi mengalami gempa Megathrust.
“Pacitan termasuk wilayah rawan gempa besar karena berhadapan langsung dengan zona subduksi di selatan Jawa,” jelas Daryono.
Zona tersebut merupakan titik pertemuan antara lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Tekanan yang terakumulasi di zona ini sewaktu-waktu dapat dilepaskan dalam bentuk gempa bumi berkekuatan besar.
Sejarah Panjang Gempa dan Tsunami
Daryono menambahkan, catatan sejarah menunjukkan bahwa Pacitan pernah mengalami gempa dan tsunami besar pada abad ke-19. Kondisi geografis berupa teluk-teluk sempit dan garis pantai tertentu dinilai dapat memperkuat dampak gelombang tsunami apabila gempa besar terjadi di zona Megathrust.
Oleh karena itu, meskipun gempa magnitudo 6,2 yang terjadi belum memicu tsunami, potensi risiko di masa depan tetap harus diwaspadai dengan serius.
Tujuh Daerah di Pesisir Selatan Jatim Rawan Megathrust
Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang dirujuk BMKG, Pacitan bukan satu-satunya wilayah yang rawan gempa Megathrust. Sejumlah daerah lain di pesisir selatan Jawa Timur juga berada dalam zona berisiko tinggi.
Wilayah tersebut meliputi Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek. Seluruh daerah ini berhadapan langsung dengan zona tumbukan lempeng tektonik yang sama.
“Gempa Megathrust memiliki karakteristik magnitudo yang bervariasi, mulai dari kecil hingga besar. Potensi gempa di atas magnitudo 7 tetap ada,” ujar Daryono.
Desakan Penguatan Ketahanan Bencana Nasional
Batindas Rumbambi menilai bahwa kondisi tersebut harus dijawab dengan penguatan ketahanan bencana secara sistemik. Menurutnya, negara perlu memastikan bahwa mitigasi bencana tidak hanya berhenti pada sosialisasi, tetapi juga terintegrasi dalam tata ruang, pembangunan infrastruktur, dan pendidikan kebencanaan masyarakat.
Ia menekankan pentingnya kesiapan jalur evakuasi, sistem peringatan dini, serta penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam menghadapi skenario terburuk gempa Megathrust.
“Negara harus mampu menciptakan ketahanan bencana dalam menghadapi ancaman gempa Megathrust,” tegasnya.
Baca Juga: BMKG Prakirakan Hujan Guyur Jakarta Senin 9 Februari, Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem
BMKG Imbau Warga Tetap Tenang dan Waspada
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di pesisir selatan Jawa Timur, untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat diminta tidak mudah terpancing isu yang tidak jelas sumbernya dan selalu mengacu pada informasi resmi dari BMKG.
Edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, serta pemahaman terhadap tanda-tanda awal gempa dan tsunami dinilai menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko korban jika gempa besar benar-benar terjadi.
Editor : Natasha Eka Safrina