JAKARTA - Gempa Megathrust Pacitan kembali menjadi perhatian serius setelah wilayah pesisir selatan Jawa diguncang rentetan gempa dalam beberapa waktu terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat di tujuh daerah pesisir selatan Jawa untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa besar yang bersumber dari zona Megathrust.
Dalam catatan BMKG, pada Senin (9/2/2026) tercatat sejumlah gempa bumi terjadi di beberapa wilayah Indonesia, di antaranya Tuban, Ternate, dan Halmahera Utara dengan kekuatan berkisar magnitudo 3 hingga 4. Namun perhatian para ahli justru tertuju pada Pacitan, Jawa Timur, yang dalam sebulan terakhir diguncang dua gempa cukup kuat berkekuatan magnitudo 5,5 dan 6,4.
Rentetan aktivitas seismik tersebut memunculkan kekhawatiran publik terhadap potensi gempa Megathrust Pacitan, mengingat wilayah ini berada di jalur subduksi aktif yang selama ini dikenal menyimpan energi besar.
Pacitan Rawan Gempa dan Tsunami Historis
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa Pacitan memang termasuk wilayah rawan gempa besar di pesisir selatan Jawa. Secara geografis, daerah ini berhadapan langsung dengan Megathrust Jawa yang menjadi sumber utama gempa-gempa besar di wilayah selatan Pulau Jawa.
“Pacitan sering muncul dalam catatan tsunami historis karena berhadapan dengan Megathrust Jawa. Banyak teluk dan pantai sempit yang dapat menyebabkan amplifikasi gelombang,” ujar Daryono, Senin (9/2/2026).
Ia menambahkan, posisi Pacitan diduga berada di atas segmen slab landai yang membuat kopling subduksi di wilayah tersebut menjadi kuat. Kondisi ini berpotensi memicu gempa besar apabila energi yang tersimpan dilepaskan secara tiba-tiba.
Berdasarkan catatan sejarah, gempa dan tsunami besar pernah mengguncang Pacitan pada tahun 1840 dan 1859. Fakta tersebut memperkuat status Pacitan sebagai salah satu kawasan yang memiliki risiko kebencanaan tinggi.
Tujuh Daerah Pesisir Jatim Masuk Zona Waspada
Merujuk data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), BMKG menyebut Pacitan bukan satu-satunya wilayah yang rawan terdampak gempa Megathrust. Sejumlah daerah lain di pesisir selatan Jawa Timur juga berada dalam zona yang sama.
Daerah-daerah tersebut meliputi Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek. Seluruh wilayah itu berhadapan langsung dengan zona tumbukan lempeng di selatan Pulau Jawa.
“Gempa Megathrust ini sangat bervariasi magnitudonya. Bisa kecil, sedang, hingga besar,” kata Daryono.
Apa Itu Gempa Megathrust?
Lebih lanjut, Daryono menjelaskan bahwa Megathrust merupakan istilah geologi untuk menyebut gempa bumi besar yang terjadi di zona pertemuan atau tumbukan subduksi antar lempeng tektonik.
Di wilayah selatan Jawa, gempa Megathrust dipicu oleh pertemuan lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Proses penunjaman ini menyebabkan akumulasi energi yang suatu saat dapat dilepaskan dalam bentuk gempa besar.
“Tumbukan ini dapat memicu gempa dengan kekuatan di atas magnitudo 7,” jelasnya.
Namun demikian, waktu terjadinya gempa Megathrust tidak dapat diprediksi secara pasti. Biasanya, gempa besar akan didahului oleh gempa-gempa kecil yang dapat dipantau melalui jaringan pemantauan kegempaan BMKG.
BMKG Imbau Warga Tak Panik
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di pesisir selatan Jawa Timur, untuk tetap tenang dan tidak panik menyikapi potensi gempa Megathrust. Warga diminta aktif mencari informasi dari sumber resmi dan tidak mudah terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, edukasi kebencanaan dan kesiapsiagaan dinilai sangat penting, terutama bagi masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan sumber gempa Megathrust.
Baca Juga: BMKG Prakirakan Hujan Guyur Jakarta Senin 9 Februari, Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem
“Kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi risiko jika gempa besar terjadi,” pungkas Daryono.
Editor : Natasha Eka Safrina