TEGAL – Bencana tanah bergerak Desa Padasari di Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, masih terus mengancam keselamatan warga. Meski telah berlangsung lebih dari sepekan, pergerakan tanah di wilayah tersebut belum menunjukkan tanda-tanda berhenti dan bahkan berpotensi meluas ke area permukiman lain.
Ancaman tanah bergerak Desa Padasari membuat situasi desa kian mencekam. Retakan tanah semakin melebar, bangunan rumah terus bergeser, dan warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka demi keselamatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal mencatat hingga kini sebanyak 282 rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari retak ringan hingga ambruk total.
Salah satu bangunan yang mengalami kerusakan paling parah akibat tanah bergerak Desa Padasari adalah Pondok Pesantren Al-Adalah. Bangunan yang sebelumnya berdiri kokoh kini rata dengan tanah. Peristiwa ini memaksa ratusan santri menghentikan aktivitas belajar mengajar dan mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Ribuan Warga Terdampak, Santri Dievakuasi
BPBD mencatat sebanyak 1.686 jiwa terdampak langsung akibat bencana ini, termasuk 526 santri dari Pondok Pesantren Al-Adalah. Seluruh warga yang berada di zona rawan telah diungsikan ke beberapa titik pengungsian sementara yang dinilai lebih aman dari ancaman pergerakan tanah susulan.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun dampak kerusakan infrastruktur cukup signifikan. Akses jalan desa mengalami keretakan dan ambles, sehingga tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Akibatnya, proses distribusi bantuan logistik dan evakuasi warga harus dilakukan dengan berjalan kaki oleh petugas dan relawan.
Gubernur Jateng Putuskan Relokasi Warga
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi turun langsung ke lokasi bencana dan bertemu dengan warga terdampak. Dalam kunjungannya, Ahmad Luthfi menegaskan bahwa relokasi menjadi langkah terbaik demi keselamatan masyarakat.
“Ini sudah tidak boleh terulang yang ketiga kalinya. Keselamatan warga adalah prioritas utama,” tegas Ahmad Luthfi di hadapan warga Desa Padasari.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Tegal sepakat menyiapkan hunian sementara yang nantinya akan dialihkan menjadi hunian tetap. Relokasi ini juga akan disertai dengan penerbitan sertifikat kepemilikan lahan bagi warga yang direlokasi agar mereka memiliki kepastian hukum dan tempat tinggal yang aman.
Wilayah Rawan Geologi dan Curah Hujan Tinggi
Berdasarkan kajian awal, kawasan Desa Padasari memang tergolong rawan bencana tanah bergerak. Peristiwa serupa pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Faktor utama penyebab bencana ini diduga kuat akibat kondisi geologi wilayah yang labil, diperparah oleh curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus.
“Secara geologi, wilayah ini memang sering mengalami tanah bergerak, terutama saat curah hujan tidak terkendali. Kondisi tanah menjadi jenuh air dan mudah bergeser,” ungkap salah satu pejabat daerah saat peninjauan.
Diperkirakan sekitar 250 kepala keluarga harus direlokasi secara permanen karena wilayah tempat tinggal mereka dinilai tidak lagi aman untuk dihuni.
Warga Diminta Tidak Kembali ke Rumah
Hingga saat ini, pemantauan intensif terus dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD, aparat desa, TNI, dan Polri. Warga diminta tetap waspada dan tidak kembali ke rumah masing-masing selama ancaman tanah bergerak masih berlangsung.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk mematuhi seluruh arahan petugas demi menghindari risiko jatuhnya korban. Upaya penanganan darurat terus dilakukan, sembari menunggu hasil kajian lanjutan terkait stabilitas tanah dan rencana relokasi permanen.
Bencana tanah bergerak di Desa Padasari menjadi pengingat serius akan pentingnya mitigasi bencana, khususnya di wilayah rawan longsor dan pergerakan tanah. Pemerintah berharap relokasi dapat menjadi solusi jangka panjang agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Editor : Natasha Eka Safrina