JAKARTA – Peringatan gelombang tinggi BMKG kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya potensi cuaca dan laut ekstrem di sejumlah wilayah perairan Indonesia pada Februari 2026. Meski bibit siklon tropis terpantau mulai melemah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat tetap waspada terhadap ancaman gelombang tinggi yang berisiko terhadap keselamatan pelayaran dan aktivitas pesisir.
Dalam pernyataan resminya, BMKG menegaskan bahwa dinamika atmosfer dan laut global saat ini menunjukkan pola yang tidak biasa. Fenomena bencana alam berskala besar yang terjadi di sejumlah negara, seperti Jepang dan Spanyol, menjadi indikator meningkatnya ketidakstabilan sistem cuaca dunia. Kondisi ini turut berdampak pada wilayah perairan Indonesia, khususnya dalam bentuk gelombang tinggi dan angin kencang.
Fenomena Laut Ekstrem Dunia Jadi Peringatan Dini
Ilmuwan internasional baru-baru ini mengidentifikasi fenomena laut ekstrem yang tergolong langka. Berdasarkan pengamatan satelit orbit bumi, tercatat gelombang laut setinggi sekitar 30 meter di Samudra Pasifik pada Desember 2024. Fenomena ini terbentuk di wilayah antara Hawaii dan Kepulauan Aleutian di Pasifik Utara, akibat kombinasi badai besar, angin kencang, dan akumulasi energi permukaan laut.
Para peneliti menyebut gelombang ekstrem tersebut berasal dari badai kuat yang dikenal sebagai Storm ED. Fenomena ini terekam oleh teknologi satelit mutakhir, termasuk misi Surface Water and Ocean Topography (SWOT). Meski lokasi kejadiannya jauh dari Indonesia, para ilmuwan mengingatkan bahwa pola serupa berpotensi terulang pada 2026 di wilayah lain, termasuk kawasan Asia-Pasifik.
BMKG menilai fenomena global tersebut patut menjadi alarm dini, terutama bagi aktivitas pelayaran jarak jauh, operasi laut lepas, serta infrastruktur kelautan seperti anjungan dan pelabuhan.
Baca Juga: Deretan Artis yang Tak Lagi Merayakan Natal karena Mualaf, dari Ruben Onsu hingga Celine Evangelista
BMKG Keluarkan Peringatan Gelombang Tinggi 9–12 Februari 2026
Menanggapi kondisi tersebut, peringatan gelombang tinggi BMKG resmi dikeluarkan untuk periode 9 hingga 12 Februari 2026. Prakirawan BMKG, Gatot Devriantoro, menjelaskan bahwa pola angin di Indonesia bagian utara bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan 5–25 knot. Sementara itu, angin di wilayah selatan bergerak dari barat hingga barat laut dengan kecepatan lebih tinggi, yakni 6–30 knot.
“Kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Banda bagian selatan serta Laut Arafura bagian tengah dan timur,” kata Gatot dalam keterangan tertulis, Senin (9/2/2026).
Kondisi angin tersebut memicu peningkatan tinggi gelombang di berbagai wilayah perairan Indonesia, dengan ketinggian bervariasi dari sedang hingga tinggi.
Daftar Wilayah Perairan Berisiko Gelombang Tinggi
BMKG mencatat gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di sejumlah perairan, antara lain Samudra Hindia Barat Aceh, Samudra Hindia Barat Kepulauan Mentawai, Lampung, selatan Jawa Barat, selatan Nusa Tenggara Timur, barat Kepulauan Nias, dan barat Bengkulu.
Selain itu, kondisi serupa juga terpantau di Samudra Pasifik Utara Maluku, Laut Arafura bagian tengah, serta Selat Malaka bagian utara. Adapun gelombang lebih tinggi, mencapai kisaran 2,5 hingga 4 meter, berpeluang terjadi di Laut Natuna Utara, yang dikenal sebagai jalur pelayaran strategis.
“Potensi gelombang tinggi ini berisiko terhadap keselamatan pelayaran,” tegas Gatot.
Imbauan untuk Nelayan dan Pelayaran
BMKG mengimbau seluruh pengguna jasa laut, mulai dari nelayan tradisional, kapal tongkang, kapal feri, hingga kapal kargo dan pesiar, agar meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir juga diminta lebih berhati-hati terhadap potensi gelombang tinggi dan angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba.
BMKG menekankan pentingnya memantau informasi cuaca dan gelombang secara berkala melalui kanal resmi, termasuk situs web dan aplikasi BMKG, guna menghindari risiko kecelakaan laut.
Dengan kondisi cuaca dan laut yang masih dinamis, BMKG menegaskan bahwa kewaspadaan dini menjadi kunci utama untuk meminimalkan dampak buruk gelombang tinggi terhadap keselamatan jiwa dan aktivitas ekonomi maritim nasional.
Editor : Natasha Eka Safrina