Berita Daerah Cemal Cemil Ekonomi Hukum & Kriminal Jagat Hiburan Jejak Peradaban Kesehatan Lifestyle Mancanegara Nasional Opini Otonomi Ototekno Pemerintah Pendidikan Psikologi Religi Rona Rona Seni Budaya Sportaintment Teknologi Wisata

Pergerakan Tanah Tegal Diprediksi Berlangsung Lama, BRIN Ungkap Bekas Longsoran Purba dan Ancaman Kerusakan Infrastruktur

Natasha Eka Safrina • Selasa, 10 Februari 2026 | 17:45 WIB

Pergerakan tanah Tegal diprediksi berlangsung lama. BRIN mengungkap kawasan terdampak merupakan bekas longsoran purba yang kembali aktif.
Pergerakan tanah Tegal diprediksi berlangsung lama. BRIN mengungkap kawasan terdampak merupakan bekas longsoran purba yang kembali aktif.

JAKARTA – Pergerakan tanah Tegal dipastikan masih terus berlangsung dan berpotensi menimbulkan kerusakan lanjutan, terutama selama musim hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi. Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, saat diwawancarai secara virtual dalam program Sapa Indonesia Malam.

Menurut Adrin, berdasarkan pengalaman riset dan kajian lapangan, tipe pergerakan tanah yang terjadi di wilayah Tegal memiliki karakteristik serupa dengan kejadian di beberapa daerah lain di Jawa Tengah, seperti Kecamatan Sirampok, Kabupaten Brebes. Pergerakan tanah jenis ini tidak langsung meluncur jauh dari sumbernya, melainkan bergerak perlahan namun terus-menerus di lokasi yang sama.

“Tanah yang bergerak itu masih berada di arah sumbernya, tidak meluncur jauh. Akibatnya, retakan akan semakin membesar dan akan terbentuk amblesan tanah yang berisiko merusak jalan, rumah, dan bangunan di sekitarnya,” jelas Adrin.

Baca Juga: Deretan Artis Mualaf 2024 Tak Lagi Merayakan Natal, dari Mahalini hingga Roger Danuarta, Ini Kisah Perjalanan Spiritual Mereka

Pergerakan Tanah Tegal Dipicu Hujan Berkepanjangan

Adrin menegaskan, selama musim hujan masih berlangsung, khususnya jika hujan terjadi dengan intensitas tinggi dan durasi panjang, pergerakan tanah Tegal diprediksi belum akan berhenti. Aktivitas pergerakan baru akan mereda ketika curah hujan menurun dan durasinya semakin singkat.

Meski demikian, Adrin menyebut dampak pergerakan tanah ini diperkirakan tidak akan meluas ke luar wilayah Desa Padasari. Berdasarkan analisis menggunakan citra Google Earth dan kajian morfologi, Desa Padasari diduga berada di kawasan bekas longsoran purba yang kini kembali teraktivasi.

“Ini kemungkinan besar adalah longsoran purba yang terjadi ratusan tahun lalu, lalu sekarang teraktivasi kembali akibat pengaruh cuaca ekstrem dalam beberapa bulan terakhir,” ungkapnya.

Baca Juga: 7 Artis Cantik Pindah Agama dari Islam ke Kristen, Alasannya Di Luar Dugaan: Salmafina hingga Pinkan Mambo

Bekas Longsoran Purba Jadi Faktor Utama

Adrin menjelaskan, secara geologi wilayah Tegal banyak tersusun atas batuan lempung yang sangat sensitif terhadap perubahan cuaca. Saat kondisi kering, tanah bersifat keras, namun ketika hujan lebat terjadi, batuan tersebut melunak dan memicu pergerakan tanah, terutama jika di bawah permukaan sudah terbentuk bidang gelincir.

Meski karakteristik batuan serupa dapat ditemukan di daerah lain, tidak semua wilayah mengalami pergerakan tanah. Faktor pembeda utama terletak pada morfologi atau bentuk lahan.

“Karakteristik batuannya bisa sama, tapi morfologinya tidak. Di Desa Padasari ini, morfologinya sangat khas sebagai bekas longsoran purba, sehingga lebih rentan,” katanya.

Ratusan Rumah Rusak, Relokasi Masih Dikaji

Data sementara menyebutkan lebih dari 500 rumah warga mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah Tegal. Namun hingga kini, BRIN belum secara langsung terlibat dalam tahap tanggap darurat maupun rehabilitasi dan rekonstruksi.

Baca Juga: Festival Munaroh Biak Numfor hingga Negeri Dongeng, Inilah Pesona Wisata dan Tradisi Papua yang Bikin Takjub Dunia

Adrin menegaskan, jika nantinya BRIN dilibatkan oleh pemerintah pusat, Bappenas, atau kementerian terkait, pihaknya siap mendukung melalui penyediaan data dan kajian ilmiah untuk menentukan lokasi relokasi yang aman.

Menurutnya, penentuan lokasi relokasi tidak bisa hanya mengandalkan foto udara atau pengamatan visual semata. Diperlukan pemetaan geologi detail, pemboran tanah untuk mengetahui kedalaman lapisan serta keberadaan bidang gelincir, hingga kajian lintas disiplin.

“Kajian harus komprehensif, melibatkan geologi, geologi teknik, teknik sipil, hingga hidrologi,” ujarnya.

Hunian Sementara Harus Jauhi Lereng

Terkait rencana hunian sementara yang disiapkan di kawasan Perhutani, Adrin menyebut lokasi tersebut relatif aman jika berada di area datar. Ia mengingatkan agar hunian sementara tidak dibangun di kaki lereng, puncak lereng, maupun sepanjang lereng perbukitan.

“Pilih daerah yang benar-benar datar dan cukup luas untuk menampung lebih dari seribu warga terdampak,” tegasnya.

Baca Juga: 9 Artis Indonesia Disangka Beragama Islam, Ternyata Menganut Agama Hindu: Ade Rai hingga Happy Salma Terungkap

Wilayah Lain Perlu Waspada

Selain Tegal, Adrin menyebut beberapa daerah lain di Jawa Tengah juga memiliki potensi pergerakan tanah serupa, seperti Kota Semarang (wilayah Gombel), Kabupaten Semarang (Ungaran dan sekitarnya), serta Brebes bagian selatan.

Daerah-daerah dengan susunan geologi yang reaktif terhadap perubahan cuaca diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan lebat terjadi secara terus-menerus.

“Masyarakat harus waspada dan tidak menunda evakuasi jika tanda-tanda pergerakan tanah mulai muncul,” pungkas Adrin.

Editor : Natasha Eka Safrina
#Longsor Tegal #Desa Padasari #BRIN #pergerakan tanah